Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-104



Seorang gadis muda tampak berdiam diri di atas kasurnya, siapa lagi gadis itu kalau bukan Alexa. Ia memikirkan tentang kondisi ibu dari sang kekasihnya saat ini, rasanya ia tidak siap jika harus kehilangan seorang ibu lagi, karena rasa sakit sewaktu ia kehilangan ibunya dulu masih terasa sangat membekas di hatinya. Saat ini ia begitu menyayangi Anggi dan sudah menganggap Anggi seperti ibunya sendiri. Alexa benar-benar tidak mau kehilangan Anggi. Akan tetapi tidak ada yang dapat ia lakukan selain berdoa dan berusaha, karena takdir semuanya telah Tuhan atur dan tidak ada satupun orang yang dapat mencegahnya.


Di saat Alexa baru saja hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering ada video call dari Nico. Alexa sedikit merapikan rambutnya yang acak-acakan, setelah itu barulah ia mengangkat video call tersebut.


"Hai Sayang, kok lama banget sih angkatnya," ucap Nico.


"Hai juga Sayang, iya tadi aku lagi di toilet," jawab Alexa beralasan. Ia tidak mau jika Nico tahu bahwa tadi ia merapikan rambutnya yang acak-acakan akibat berguling-guling di atas kasur, pasti Nico akan mengejeknya.


"Oh … gitu, kamu belum tidur?" Tanya Nico.


"Ya belum lah Kak, kalau aku udah tidur terus ini kenapa aku melek sekarang," jawab Alexa.


"He … he …he … aku cuma basa-basi aja Sayang. Udah makan kan?" Tanya Nico lagi.


"Udah kok. Tadi aku pesan online aja, abis nggak ada Kakak sih yang biasanya masakin aku," jawab Alexa.


"Loh kamu kan sekarang udah bisa masak, kenapa coba nggak masak sendiri aja," kata Nico.


"Aku capek Kak, jadinya tadi aku pesan makan aja deh yang simple," kata Alexa.


"Hm … iya, iya, yang penting kamu udah makan. Manis banget sih pacar aku, jadi kangen," ucap Nico seraya menatap wajah sang kekasih dari layar ponsel.


"Gombal," ucap Alexa. Padahal ia sangat malu mendapat pujian itu sehingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Aku gak gombal Sayang, percaya deh sama aku," ucap Nico.


"Iya aku percaya Kak. Aku juga kangen sama Kakak, sepi deh rasanya nggak ada Kakak. Biasanya kalau mau ketemu dekat, sekarang Kakak jauh," Ungkap Alexa.


"Iya juga sih, tapi mau gimana lagi. Besok kamu ikut ya pulang ke rumah Bunda," ajak Nico.


"Tapi aku segan Kak kalau harus tidur di rumah Bunda terus," kata Alexa.


"Nggak papa lah Sayang, lagian kamu di sini juga kan bukan berdua sama aku doang, ada Bunda, ada Rika ada Bibi. Ramai-ramai loh, nggak ada masalah dong," ujar Nico.


"Gitu ya Kak, entar deh aku pikir-pikir lagi Kak," kata Alexa.


"Iya deh. Oh ya Sayang, besok pagi kamu ke ruangan aku ya, ada yang mau aku omongin sama kamu," kata Nico.


"Mau ngomong Kak? Kalau mau ngomong besok, kenapa juga harus telepon aku sekarang? Harusnya Kakak ngomong sekarang dong sama aku," protes Alexa.


Nico terdiam, ia menjadi menyesal sendiri karena telah menyampaikan kepada Alexa jika ada sesuatu yang ingin dibicarakannya, karena menurut Nico berbicara langsung lebih efektif dibanding harus berbicara lewat telepon.


"Besok aja ya Sayang, ini kan udah malam. Aku nelpon kamu cuma sebentar aja karena kangen. Tuh liat deh Bunda udah tertidur pulas, takut terganggu kalau lama-lama ngomongnya," kata Nico sembari memperlihatkan sang ibunda yang saat itu memang sudah tertidur pulas.


"Oh … gitu. Tapi kabar Bunda hari ini baik-baik aja kan Kak?" Tanya Alexa.


"Iya Sayang, Bunda baik-baik aja kok. Makannya tadi juga lahap," jawab Nico.


"Syukurlah Kak. Kalau gitu sekarang Kakak juga istirahat gih! Kalau Bunda bangun, salam ya buat Bunda," kata Alexa.


"Iya, kamu juga istirahat ya Sayang," kata Nico.


"Iya Kak, aku juga mau istirahat kok nih," jawab Alexa.


"Da … ," balas Alexa.


Lalu panggilan video terputus.


*****


Keesokan harinya, Setelah tiba di rumah sakit Alexa langsung saja terburu-buru melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Nico. Ia teringat jika Nico pagi ini ingin berbicara kepadanya. Sepertinya ada hal penting yang mau Nico sampaikan, ia sangat penasaran dengan apa itu, maka dari itulah Alexa pun langsung saja terburu-buru menuju ke ruangan Nico. Akan tetapi setibanya di ruangan Dokter, ternyata Nico belum ada di ruangannya, tepatnya Nico belum datang ke rumah sakit. Akhirnya Alexa pun memutuskan untuk menunggu Nico di dalam ruangannya.


Dua puluh menit kemudian, Nico baru saja tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangannya. Saat masuk ke dalam ruangan, Nico tersenyum melihat sang kekasih yang saat itu sudah berada di dalam menunggunya. Nico segera mengunci pintu ruangannya karena takut akan ada yang mengganggu mereka.


"Kak kenapa dikunci pintunya?" Tanya Alexa heran.


"Karena aku mau berduaan lah sama kamu, aku kangen. Akhir-akhir ini kan kita jarang bareng, di rumah sakit kita sibuk sama kerjaan, pulang dari rumah sakit kita sibuk sama Bunda, jadi nggak salah kan kalau pagi ini aku ingin melepas kangen sama kamu," goda Nico.


Alexa mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan sikap Dokter tampannya itu. Bukankah dia bilang ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikannya? Tetapi kenapa malah jadi mau melepas kangen, pikir Alexa.


Nico menarik pinggang Alexa hingga kini posisi mereka begitu intim, ia menatap wajah imut Alexa serta bibir merah meronanya pagi ini. Karena tidak tahan lagi menahan gejolak rindu di dada, Nico pun langsung saja melu*** bibir ranum milik sang kekasih dengan penuh gairah. Alexa pun dengan refleks mengalungkan tangannya di leher Nico serta membalas ciuman yang juga tak kalah gairahnya. Nico menarik tengkuk Alexa hingga ciuman mereka semakin dalam. Suara ******* terdengar pelan dari keduanya karena ciuman panas yang mereka lakukan.


Setelah puas bergelut dengan bibir dan juga lidah serta saling bertukar saliva, mereka pun melepaskan ciuman itu. Nico mengusap lembut bibir sang kekasih yang telah basah karena ulahnya.


"Kak, jadi Kakak mau apa sebenarnya nyuruh aku ke ruangan Kakak pagi ini?" Tanya Alexa


"Ya aku mau melepas kangen lah sama kamu, kayak apa yang udah kita lakukan tadi," jawab Nico.


"Cuma itu doang Kak?" Tanya Alexa yang tak habis pikir jika kekasihnya hanya ingin mengambil kesempatan dengan membohonginya ingin berbicara penting.


"Pasti kamu mikirnya aku bohongin kamu ya?" Tanya Nico.


"Kok Kakak tau pikiran aku? Kalau Kakak emang kangen sama aku, terus mau melepas kangen, Kakak ngomong aja dong langsung, nggak perlu Kakak bilang mau ngomong sesuatu yang penting. Aku kan jadi penasaran," kata Alexa.


"Aku gak bohong Sayang, sebenarnya memang ada sesuatu yang penting yang mau aku omongin," kata Nico.


"Memang apa?" Tanya Alexa penasaran.


"Aku mau mau ngajak kamu nikah secepatnya," ucap Nico.


Sontak Alexa terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini Nico semudah itu mengajaknya menikah.


.


.


.


.


.


Bersambung.....