
Hati Alexa terasa sakit bagai di tusuk ribuan jarum. Ia tidak menyangka jika Nico tega melakukan ini semua terhadapnya, apakah hubungannya dan Nico akan berakhir secepat ini?
Alexa tak kuasa menahan rasa sedih dan rasa sakitnya, ia lebih memilih pergi untuk menenangkan perasaanya saat ini.
Sementara itu, Nico dan Thalita sama sekali belum menyadari ada hati yang terluka karena salah paham dengan kedekatan mereka.
"Kamu tuh kebiasaan banget suka datang tiba-tiba, untung aja aku lagi ada di sini, yuk masuk dulu," ajak Nico.
"Iya Kak, namanya juga kejutan, masak iya ngomong dulu," jawab Thalita lalu ikut masuk ke dalam.
"Alasan kamu aja," hardik Nico.
"Terserah Kakak deh mau ngomong apa. Kakak betah banget sih di apartemen sendirian? Balik dong Kak, kasian tuh Bude cuma tinggal sama pembantu aja di rumah," kata Thalita.
"Hm ... pasti kamu di suruh bunda kan buat ajak aku pulang?" Tanya Nico.
"He ... he ... he ... Kakak tau aja deh," jawab Thalita nyengir.
"Bilang sama Bude kamu itu, kalau ada waktu santai pasti Kakak pulang kok," ucap Nico.
"Iya deh Kak. Oh iya Kak, kata kamu Alexa tinggal di sebelah kan ...? Kok aku gak liat?" Tanya Thalita.
"Iya bener, mungkin dia ada di dalam, kamu mau ketemu ...?" Tanya Nico.
"Kak Nico, pertanyaan macam apa itu? Ya kali udah jauh-jauh aku datang ke sini, terus aku gak mau ketemu sama Alexa," kata Thalita.
"Oh ... ya udah mendingan kamu langsung ke sebelah aja," kata Nico.
"Tapi Alexa beneran ada kan di apartemennya, Kakak gak suruh dia lembur kan hari ini?" Tanya Thalita.
"Enggak dek, coba aja deh kamu ke sana kalau gak percaya," jawab Nico.
"Tapi Kak, kalau Alexa tau aku dari sini gimana? Ketauan dong entar semuanya, ketauan kalau aku yang udah kasih tau soal Alexa ke kamu dan aku juga yang minta kamu buat jagain Alexa. Untung aja ya waktu itu Alexa mau sewa apartemen di sini sesuai sama rencana aku. Selain kalian tinggal sebelahan, kalian juga kerja di rumah sakit yang sama, benar-benar buat aku lega," kata Thalita.
Memang semua ini adalah rencana Thalita yang sangat menyayangi sahabatnya, Alexa. Untuk itulah Thalita yang mempunyai saudara di Jakarta dengan mudah mengatur semuanya agar Alexa selalu aman tinggal di Jakarta. Tapi secara diam-diam tentunya tanpa sepengetahuan Alexa.
Nico terdiam menatap adik sepupunya itu yang sedari tadi berbicara panjang lebar tiada henti, akan tetapi ia juga merasa bangga mempunyai adik yang begitu peduli dan menyayangi sahabatnya. Terlebih lagi sahabatnya kini telah menjadi kekasihnya, wanita yang dicintainya.
"Kak Nico aku lagi ngomong loh ini," kata Thalita sembari mengguncang tubuh Nico yang membuat Nico terkejut.
"Eh iya, ya gak papa lah kalau ketauan, emang mau sampai kapan juga kamu rahasiakan ini semua dari Alexa, lebih cepat Alexa tau itu lebih baik," ujar Nico.
"Iya sih Kak, aku cuma belum siap aja. Takut Alexa marah," ungkap Thalita.
"Menurut Kakak sih gak ya, harusnya dia senang karena punya sahabat begitu peduli dan sangat menyayanginya seperti kamu. Aku jadi iri sama Alexa, pengen punya sahabat seperti kamu juga," kata Nico.
Thalita tersenyum lebar, ia merasa malu dan juga senang mendapatkan pujian itu dari Kakak sepupunya yang tergolong memiliki sifat dingin itu.
*****
Di jalanan yang sepi ditemani rintiknya hujan, tampak Alexa yang sedang menyusuri jalan itu sendirian, dinginnya malam dan juga lelahnya kaki berjalan sama sekali tidak memberhentikan langkahnya yang tidak tau arah tujuan. Air matanya terus mengalir, entah sudah berapa lama ia menangis yang membuat matanya itu sembab dan hidungnya juga memerah.
"Loh, itu Alexa bukan ya?" Gumam Arya saat ia melihat sosok wanita yang dikenalinya.
Karena hujan semakin deras, Arya tidak bisa begitu jelas melihat siapa wanita itu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menepikan mobilnya agar dapat memastikan wanita yang dilihatnya itu benar Alexa atau bukan.
Setelah keluar dari mobil, Arya yang lupa membawa payung itu nekat menerobos derasnya hujan dan mengejar wanita yang diyakininya adalah Alexa.
"Alexa!" Teriak Arya.
"Alexa, tunggu!" Panggil Arya yang semakin mendekat dan kini terdengar jelas oleh Alexa ada yang memanggil namanya.
Alexa menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat Arya yang sedang berlari ke arahnya.
"Alexa, ternyata beneran kamu. Untung aja aku gak salah liat," kata Arya yang kini telah berada di hadapan Alexa.
"Ar-Arya," gumam Alexa. Bibirnya yang membiru terasa beku karena kedinginan. pandangannya kini terasa buram, kepalanya juga terasa sakit hingga ia menjatuhkan dirinya tepat di pelukan Arya.
"Alexa, Lex bangun!" Teriak Arya sembari mengguncang pelan tubuh Alexa.
Arya sangat khawatir melihat Alexa yang tiba-tiba saja pingsan, ditambah lagi dengan wajah pucat Alexa yang membuat Arya semakin panik. Langsung saja Arya menggendong Alexa menuju ke mobil, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Lex, apa yang terjadi sama kamu, jangan buat aku panik Lex," gumam Arya.
*****
"Gimana? kamu nelpon di angkat ...?" Tanya Nico.
"Gak juga Kak, gimana dong," jawab Thalita.
Saat ini mereka berdua dibuat bingung dan khawatir karena Alexa tidak ada di apartemennya.
"Sayang, kamu ada dimana ...? Kenapa perasaan aku jadi gak enak gini, jangan buat khawatir dong," gumam Nico dalam hati.
"Kak, aku takut banget Alexa kenapa-napa di dalam, mendingan kita pakai cara yang aku bilang tadi aja Kak, buruan ambil kunci cadangannya di bawah Kak, cepetan!" Perintah Thalita.
"Gak perlu Ta," kata Nico.
"Gak perlu gimana sih Kak? Mungkin kamu gak peduli sama Alexa, tapi dia itu sahabat aku Kak, aku khawatir," kata Thalita yang panik.
"Siapa bilang aku gak khawatir, aku sama paniknya dengan kamu Ta," ungkap Nico yang juga makin panik.
"Ya udah buruan Kak," pinta Thalita.
"Demi keamanan apartemen, semua kunci cadangan udah di buang. Tapi aku tau sandinya," Nico memberitahu apa yang dipendamnya dari tadi.
Thalita tercengang, namun bukan saatnya untuk dia tahu dari mana Nico mengetahui sandi apartemen Alexa.
"Ya udah buruan buka Kak sekarang!" pinta Thalita.
Saat Nico akan membuka pintu tersebut tiba-tiba saja Arya menelpon dan memberi kabar yang membuat jantung Nico terasa lemas.
"Dek, ayok ikut Kakak sekarang!" Ajak Nico sembari menarik tangan Thalita.
.
.
.
.
.
Bersambung.....