
Nico tampak termenung duduk di balkon depan kamarnya, tentu saja karena ia masih memikirkan tentang hubungannya dan Alexa saat ini, apalagi ini semua berhubungan dengan sang Bunda. Nico tadinya ingin menemui Alexa langsung sepulang kerja, akan tetapi Alexa tidak ada di apartemennya.
Tepat jam 09.00 malam, Nico melihat ke arah samping bahwa lampu kamar Alexa telah menyala yang menandakan jika Alexa saat ini sudah berada di apartemennya. Dengan cepat Nico pun langsung saja keluar dari apartemennya dan menuju ke apartemen sebelah.
Tok … tok … tok …
Nico mengetuk pintu apartemen Alexa, karena menurutnya jika saat ini dia langsung masuk, itu sangat tidak sopan mengingat situasi hubungan mereka saat ini. Alexa yang mendengar suara ketukan pintu apartemennya langsung saja berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Sebelum membuka pintu, ia terlebih dahulu mengintip dari door viewer untuk mengetahui siapa yang saat ini ada di depan apartemennya itu dan ternyata adalah Nico.
"Kak Nico? Dia mau ngapain ya datang ke sini? Sebaiknya aku temuin atau nggak ya?" Gumam Alexa dalam hati
Karena Alexa belum juga membuka pintu, Nico kembali mengulangi menekan bel dan juga mengetuk pintu apartemen tersebut.
Alexa menarik nafas panjang dan menghembuskannya, ia mencoba menstabilkan perasaannya saat ini dan berusaha tenang agar bisa bertemu dan berbicara dengan Nico, barulah setelah itu ia pun membuka pintunya. Nico sangat senang melihat saat ini sang kekasih sudah berada di depan matanya meskipun Alexa menatapnya dengan tatapan datar.
"Boleh aku masuk? Aku mau bicara sebentar," kata Nico.
"Iya Kak boleh, aku rasa kita memang perlu bicara," kata Alexa.
Nico mengangguk, ia pun masuk ke dalam apartemen Alexa. Kini mereka berdua sudah duduk di sofa ruang depan.
"Lex aku mau nanya, apa kamu benar-benar nggak bisa menerima maaf dari Bunda aku? Apa kamu benar-benar nggak bisa kasih kesempatan untuk Bunda aku memperbaiki kesalahannya? Apa kamu benar-benar udah benci banget sama Bunda aku?" Tanya Niko sembari menatap kekasihnya itu.
"Kak aku memang kecewa, tapi aku bukan benci sama Bunda. Aku cuma marah kenapa bisa Bunda orang yang menyakiti Mama aku waktu itu, apa aku salah Kak kalau aku punya perasaan seperti itu," kata Alexa.
"Enggak, kamu sama sekali nggak salah. Aku juga nggak pernah nyalahin kamu atas ini. Kalau kamu marah sama Bunda itu hal yang wajar dan kalau kamu gak mau maafin Bunda itu juga terserah kamu. Walaupun jauh dari lubuk dalam hati aku, aku mau kamu maafin Bunda, melupakan masalah itu, kasih Bunda kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bukankah hidup itu kita harus memikirkan ke depannya? Bukan untuk mengingat masa lalu," kata Nico.
"Tapi gimana Kak kalau aku kebayang-bayang sama masa lalu itu terus," kata Alexa.
"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang supaya kamu mau maafin Bunda? Kasih tau aku Lex," tanya Nico.
"Aku cuma minta Kakak sama Bunda nggak usah gangguin aku dulu, biarin aku sendiri Kak," kata Alexa.
"Tapi aku nggak bisa kalau kita kayak gini terus, kalau kamu memang nggak bisa maafin Bunda dan kamu juga nggak mau aku ganggu, terus gimana dengan kejelasan hubungan kita sekarang, mau sampai gantung kayak gini terus. Aku mau ada kejelasannya, lanjut atau berakhir," kata Nico
"Apa menurut kamu dengan kita seperti ini, hubungan kita baik-baik aja? Nggak kan? Jadi kalau memang kamu mau mengakhiri hubungan sama aku gara-gara masalah Bunda, aku terima," kata Nico menatap tajam mata Alexa. Perasaannya sangat sakit mengatakan hal ini kepada wanita yang sangat dicintainya, akan tetapi menurutnya mungkin ini adalah jalan terbaik untuk hubungan mereka saat ini.
Alexa sangat terkejut dengan ucapan Nico itu, akan tetapi ia rasa yang diucapkan oleh Nico masuk akal, memang benar saat ini hubungan mereka sedang tidak baik gara-gara masalah yang sedang mempengaruhi hubungan mereka.
"Ya udah Kak, mungkin ini lebih baik. Lebih baik kita akhiri aja hubungan kita ini kak, aku tahu Kakak juga pasti sayang banget kan sama Bunda, pasti Kakak nggak terima kalau aku nggak bisa maafin Bunda. Bukan aku nggak mau maafin Bunda, tapi sulit Kak. Dan setiap melihat Kakak aku selalu aja terbayang sama Bunda dan kesalahannya di masa lalu itu," kata Alexa yang sangat terpaksa mengucapakan akan hal yang jelas-jelas menyakiti hati mereka berdua.
"Aku ngerti kok, aku juga nggak akan maksa. Makanya aku bilang kalau kamu udah nggak mau berhubungan sama aku lagi untuk saat ini, nggak papa. Kalau seandainya pun sekarang kamu suruh aku milih antara kamu dan Bunda, jujur aku nggak akan bisa milih. Karena aku sayang dan cinta sama kamu tapi aku juga nggak mungkin mengabaikan orang yang udah melahirkan aku, memberikan aku kasih sayang segenap jiwanya dan melupakan semuanya gitu aja hanya gara-gara wanita yang baru aku cintai. Aku sayang dan cinta sama kamu Lex, kalau sekarang kamu memang mau mengakhiri hubungan sama aku, aku terima. Tapi tolong Lex kalau kamu nantinya udah berubah pikiran, kamu mau memaafkan aku, aku harap kamu kembali lagi ya sama aku," kata Nico.
Alexa dapat melihat jika yang dikatakan Nico saat ini begitu menyiksa dirinya, buliran bening dari sudut matanya juga terlihat yang membuat Alexa pun ikut menjatuhkan air matanya. Dia yang tidak sanggup melihat mata Nico terus menerus itu pun segera menundukkan kepalanya.
"Maafin aku ya Lex kalau aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu," kata Nico dan mencium kening Alexa. Lalu ia pun segera beranjak dari tempat duduk dan melangkahkan kaki hendak keluar dari apartemen Alexa.
"Kak Nico tunggu…!" Panggil Alexa yang membuat Nico menghentikan langkahnya.
Alexa segera menghampiri Nico dan memeluknya dari belakang, ia juga menyandarkan kepalanya di punggung Nico sembari menangis tersedu-sedu. Nico merasa heran mendapat perlakuan itu dari Alexa, akan tetapi dalam hatinya juga merasa sangat senang karena Alexa mau memeluknya, hal yang sangat dirindukan oleh Nico. Sudah hampir dua minggu mereka tidak dekat bahkan untuk mengobrol bersama selain soal pekerjaan, Alexa selalu saja menghindar saat Nico mendekatinya. Nico pun menggenggam erat tangan yang melingkar di pinggangnya itu, air mata yang sejak tadi ia tahan, juga lolos mengalir begitu saja. Lalu ia pun melepas lingkaran tangan Alexa dari pinggangnya tetapi tetap tidak melepas pegangannya itu. Kini mereka pun saling bertatapan.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Nico menatap nanar mata Alexa.
"Kak maafin aku ya, aku tau kalau kelakuan aku ini udah menyakiti hati Kakak," ucap Alexa, lalu ia memeluk Nico dengan erat. Nico pun membalas pelukan Alexa itu serta menciumi rambutnya.
.
.
.
.
.
Bersambung.....