Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-39



"Alexa kamu gak papa?" Tanya Nico dan Arya secara bersamaan dan mau membantu Alexa.


Akan tetapi Arya pun sadar dan membiarkan Nico saja yang membantu Alexa untuk berdiri.


"Kamu gak papa kan Sayang?" Tanya Nico dengan suara pelan.


"Iya, aku gak papa Kak," jawab Alexa.


"Jaga sikap Anda ya Bu, ini di rumah sakit," kata Arya.


"Kamu Dokter magang, jadi sudah pasti kamu akan membela teman kamu itu," kata ibu itu yang kini beralih membentak Arya.


Nico yang sedari tadi menahan amarah, kini mendekati ibu itu untuk meluapkan isi hatinya.


"Anda jangan keterlaluan ya Bu, saya bisa laporkan Ibu karena sudah berani untuk mencelakai Dokter di sini. Atas dasar apa Ibu menyalahkan Dokter Alexa, saya yang waktu itu menyarankan agar Ibu Anda dioperasi tapi Anda menolaknya. Dokter Alexa juga sudah membujuk Anda tapi tetap juga Ibu bersikukuh menolaknya. Itu sudah dua bulan yang lalu Bu, waktu itu memang masih ada harapan jika Ibu mendengarkan kami. Tapi Anda malah bilang pasrah saja menunggu ajal, anak seperti apa Ibu ini. Di saat kondisi beliau sudah kritis dan tidak memungkinkan untuk operasi, Ibu malah meminta kami untuk melakukan operasi hari ini juga, padahal Ibu sudah tahu resikonya sangat berbahaya. Sekarang dengan entengnya ibu menyalahkan Dokter, Ibu sadarlah ini semua gara-gara keegoisan Ibu sendiri," kata Nico panjang lebar yang membuat Alexa dan Arya tercengang.


Begitu juga dengan Ibu tesebut, ia terdiam. Jantungnya seakan tertusuk akan perkataan Nico tadi.


"Kak Nico udah, aku gak papa kok," kata Alexa menenangkan hati kekasihnya itu.


Alexa yang dimarahi oleh keluarga pasien, tetapi Nico yang murka, ia tidak terima perlakuan kasar itu dilontarkan kepada Alexa, selain Alexa itu adalah Dokter, dia juga merupakan kekasihnya. Sungguh sangat keterlaluan ibu itu menurutnya.


"Dengar ya Bu, saya tidak pernah main-main sama ucapan saya, di sini saksinya banyak, ada CCTV juga, bisa dengan mudah saya menuntut Ibu.


Ibu itu tampak ketakutan, akan tetapi berlagak sok berani di depan Dokter Nico.


"Kalian itu para Dokter tidak berguna, saling membela padahal kalian semua sama saja. Saya akan laporkan kalian semua ke pemilik rumah sakit supaya kalian semua dipecat," kata ibu itu lagi.


"Silahkan!" Ucap Nico.


"Gak biasanya Dokter Nico murka kayak gitu, seram juga ya," kata Suster 1.


"Iya, selama aku kerja di sini, baru kali ini juga aku liat Dokter Nico seemosi itu. Biasanya aku hanya ngeliat wajah dinginnya aja," kata Suster 2.


"Iya benar," sahut suster 1.


"Bu udah ya, ayo kita liat Nenek," ajak anak ibu itu. " Dok, tolong maafkan ibu saya," ucapnya.


Alexa mengangguk, sementara Nico dan Arya hanya diam saja.


*****


"Dokter Vina," panggil Maya yang secara kebetulan melihat Dokter Vina hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa Sus?" Tanya Vina yang menghentikan langkahnya.


"Dokter mau liat berita heboh gak?" Tanya Maya. Memang Maya itu si biang gosip, meskipun tadinya ia tidak ada di lokasi, tapi tetap saja dengan mudah ia mendapatkan informasi.


"Berita apa?" Tanya Vina dengan suara meninggi.


"Hust ... pelan-pelan Dok," ucap Maya yang celingukan ke sana kemari.


"Ya udah masuk ke ruangan saya aja," ajak Vina dan langsung diikuti oleh Maya.


Saat sudah berada di dalam ruangan Dokter Vina, Maya segera menunjukkan sebuah rekaman video yang ia dapatkan dari rekannya tadi.


Vina melihat video itu dengan seksama, ia merasa sangat senang atas perlakuan kasar yang dialami oleh Alexa, terlihat dari ekspresi wajahnya ya yang begitu bahagia. Akan tetapi seketika rasa bahagia itu sirna disaat ia melihat dimana Nico murka dan sangat membela kekasihnya.


"Sekarang keluarga pasien ini ada dimana?" tanya Vina.


"Sedang mengurus kepulangan jenazah orang tuanya Dok," jawab Maya.


Vina manggut-manggut, dari sudut bibirnya terlihat senyum smirk yang membuat Maya mengerti akan maksud dari senyuman itu. Maya pun mengikuti Vina yang keluar dari ruangannya yang entah hendak kemana.


*****


Sementara itu, saat ini Nico, Alexa dan Arya sedang berada di ruangan Dokter Nico. Meskipun terlihat sangat kuat, sebenarnya Alexa sedikit syok dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Memang untuk menjadi Dokter hebat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak sekali rintangan yang harus dihadapi.


"Sayang, kamu beneran gak papa kan?" Tanya Nico yang kini sedang duduk di samping Alexa. Sementara Arya duduk di kursi seberangnya.


"Aku gak papa Kak, aku sedikit kaget aja tadi," jawab Alexa.


"Benar-benar keterlaluan banget ya ibu-ibu tadi, dipikirnya Dokter itu Tuhan apa," celetuk Arya yang begitu emosi.


"Sebenarnya kejadian seperti ini kerap kali terjadi, pasien tidak terima keluarganya pergi sehingga menyalahkan Dokter. Akan tetapi masih dimaklumi karena mengikuti prosedur rumah sakit, tidak seperti ibu tadi, dia yang sangat memaksa tapi dia malah menyalahkan orang lain yang tidak bersalah," ucap Nico.


"Iya Dok, tapi Dokter Nico tadi keren banget waktu belain Alexa," ucap Arya.


"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya hanya membela yang benar dengan berbicara fakta," kata Nico.


"Makasih ya Kak, tapi jujur aku jadi ngerasa takut," ucap Alexa.


"Takut? Takut kenapa Sayang?" Tanya Nico.


"Gimana kalau ibu tadi beneran bilang sama pemilik rumah sakit, aku gak mau Kak Nico dan Arya di pecat gara-gara aku," jawab Alexa yang terlihat sangat khawatir.


Akan tetapi Nico dan Arya malah tersenyum melihat wajah panik Alexa.


"Kenapa kalian malah senyum gitu sih, harusnya kalian itu juga khawatir," gerutu Alexa.


"Alexa, Alexa, kamu itu polos atau gimana sih. Kita itu gak ada salah apa-apa, jadi ngapain juga takut di pecat," kata Arya.


"Iya Lex, yang Arya bilang itu benar. Atas dasar apa dia mau membuat kita dipecat, lagipula gak semudah itu untuk bertemu dengan pemilik Hospital Hutama," kata Nico.


"Gitu ya Kak, syukurlah aku jadi lebih tenang," ucap Alexa.


"Iya Sayang, yang penting kamu tenang aja ya, ada aku yang selalu ada di samping kamu," kata Nico lalu mencium kening dan meraih tubuh Alexa kedalam dekapannya.


"Hm ... Dok, ingat dong ada orang di sini, jiwa jomblo saya meronta-ronta ini," gerutu Arya.


Alexa dan Nico hanya tersenyum mendengar Arya menggerutu, mereka memang sudah terbiasa menampakkan kemesraan didepan Dokter jomblo itu.


.


.


.


.


.


Bersambung.....