Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-19



Sementara Nico hanya diam saja. Ia sangat tidak suka ada Bagas di samping Alexa, terlebih mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam, itu pertanda bahwa Alexa menyukainya.


"Lex ada apa...?" Tanya Bagas pula.


"Mas, kenalin ini Dokter Nico (menunjuk) Dokter senior aku, kalau ini Dokter Arya (menunjuk) partner aku Mas, sama-sama Dokter Magang di sini. Dokter Nico, Arya kenalin juga ini Bagas, Kakak aku," ucap Alexa.


"Kakak...?" Tanya Nico dan Arya secara bersamaan. Ara menatap mereka berdua yang tampak terkejut mendengar akan hal itu.


Begitupun dengan Bagas, ia tidak menyangka jika Alexa akan mengakui dirinya sebagai Kakak di depan orang lain, mungkin memang takdirnya hanya akan menjadi Kakak Alexa selamanya, namun itu sudah sangat membuat Bagas bahagia.


"Oh iya kenalin saya Bagas, Kakaknya Alexa," ucap Bagas memperkenalkan diri.


"Saya Nico," ucap Nico.


"Saya Arya," ucap Arya pula.


"Dokter Nico, Arya, jadi Mas Bagas ini datang dai Jogja cuma mau liat keadaan aku aja. Setelah antar aku pulang, dia bakalan balik ke Jogja," jelas Alexa.


"Sayang sekali Mas, padahal kita baru aja ketemu, belum sempat mau ngopi-ngopi dulu," kata Arya.


"Iya betul kata Arya," sambung Nico yang tidak mau kalah sok akrab dengan Kakaknya Alexa itu.


"Mungkin next time, karena saya masih ada urusan yang harus diselesaikan besok pagi," kata Bagas.


"Oh gitu..." gumam Arya.


"Dokter Nico, Dokter Bagas, saya titip Alexa ya. Saya percaya kalian bisa menjaga Alexa selama di rumah sakit," kata Bagas.


"Mas Bagas apaan sih, aku bukan anak kecil Mas, aku bisa kok jaga diri," protes Alexa.


"Bisa jaga diri apaan, kalau gak diingatkan makan aja, kamu suka lupa makan," kata Bagas.


"Gak Mas, sekarang aku selalu makan dengan teratur kok," kata Alexa.


"Mas tenang aja, saya akan menjaga Alexa dengan baik," kata Arya yang begitu antusias, sementara Nico hanya mengangguk saja.


"Baiklah! Kalau begitu saya permisi dulu ya Dokter Nico, Dokter Arya," pamit Bagas.


"Aku juga pamit pulang duluan ya Kak Nico, Arya," pamit Alexa pula.


"Heum, hati-hati," pesan Nico dan tersenyum kepada Alexa.


"Mas Bagas, Alexa, hati-hati ya," pesan Arya.


Setelah berpamitan, Alexa dan Bagas pun berlalu dari pandangan Nico dan Arya.


"Tumben banget Dokter Nico mau senyum kayak gitu," kata Arya.


"Kenapa? Memangnya merugikan kamu?" Tanya Nico.


"Ya enggak sih. Dok, saya senang deh ternyata Bagas itu Kakaknya Alexa, itu artinya masih ada harapan buat dapetin hati Alexa," kata Arya.


"Saya gak yakin kamu bisa," sindir Nico.


Arya menatap Nico tidak mengerti, "Dok kita bisa bersaing secara adil," katanya.


"Ya, tapi saya tidak yakin kalau Alexa akan memilih kamu," kata Nico lalu melangkahkan kami menuju mobilnya dengan wajahnya yang terus tersenyum karena membayangkan Alexa.


"Kenapa Dokter begitu yakin, liat aja nanti!" Teriak Arya.


Sementara itu, Nico sama sekali tidak memperdulikannya, ia segera melajukan mobilnya ingin cepat-cepat berada di apartemen agar segera bisa bertemu dengan Alexa.


"Kenapa tadi aku dengar Alexa manggil Dokter Nico, Kak Nico ya? Apa mereka seakrab itu di belakang aku? Atau cuma perasaan aku aja?" Dalam hati Nico penuh dengan pertanyaan.


*****


Alexa sedang menemui pengelola apartemen untuk menyampaikan niatnya, setelah habis bulan ini, ia akan pindah ke kontrakan agar biaya hidupnya berkurang.


"Gratis...? Ini beneran Pak?" Tanya Alexa yang tidak percaya.


"Iya benar Mbak, pemilik apartemen yang bilang sendiri bahwa apartemen ini gratis untuk Mbak tempati selama Mbak mau," jelas pengelola.


"Tapi dalam rangka apa...?" tanya Alexa.


"Oh... gitu, baik banget ya pemiliknya, boleh saya tau siapa...?" Tanya Alexa.


"Maaf Mbak kalau soal ini privasi, jadi saya gak bisa kasih tau," ucap pengelola.


"Gak papa Pak, siapa pun orangnya, tolong bilangin ya kalau saya berterimakasih banget sama dia," kata Alexa.


"Iya Mbak nanti saya sampaikan," jawab pengelola.


Lalu Alexa pamit untuk kembali ke apartemen, secara kebetulan ia bertemu dengan Nico yang keluar dari lift yang berbeda.


"Kak Nico," panggil Alexa.


"Heum, ada apa...?" Tanya Nico.


"Aku mau nanya sama Kakak," jawab Alexa.


"Mau tanya apa...?" Tanya Nico.


"Kak Nico tau gak soal pemilik apartemen yang menggratiskan penghuninya...?" Tanya Alexa.


"Tau, aku juga gratis," jawab Nico.


"Serius Kak?" Tanya Alexa lagi.


"Iya serius," jawab Nico.


"Jadi ternyata itu memang benar, awalnya aku gak begitu percaya. Kok masih ada ya jaman sekarang yang berbaik hati kayak gitu? Tapi sekarang aku percaya karena Kak Nico juga terpilih," Kata Alexa.


"Masih banyak kok, bisa aja kan si pemilik mau cari pahala," kata Nico.


"Bisa jadi Kak, tapi aku pengen ketemu sama pemiliknya Kak. Kak Nico udah pernah ketemu?" Tanya Alexa.


"Udah, cuma saat ini mereka lagi di luar Negeri," jawab Nico. Ia menyembunyikan senyumnya melihat tingkah Alexa yang kebingungan, menurutnya itu sangat menggemaskan.


"Beruntung banget ya Kakak bisa ketemu, aku juga mau ketemu untuk ucapin makasih Kak. Kebetulan banget di saat aku butuh dan mau pindah, bantuan ini datang," kata Alexa.


"Kalau boleh tau kenapa kamu mau pindah?" Tanya Nico.


"Hem Kak, capek dari tadi ngobrol di luar berdiri kayak gini, mau masuk dulu gak ke apartemen aku?" Tawar Alexa, lalu Nico menatapnya dengan tatapan mencurigakan.


"Kak, jangan salah paham. Maksud aku biar lebih enak aja gitu kita ngobrolnya," jelas Alexa.


Nico tersenyum dan mengangguk, ia pun mengikuti Alexa masuk ke apartemennya.


"Kak, silahkan duduk!" ucap Alexa, lalu pergi membuatkan minuman untuk Nico.


Nico menatap sekelilingnya, ini adalah pertama kalinya ia bertamu di apartemen Alexa. Terlihat jelas dari interior yang tertata menunjukkan bahwa Alexa merupakan wanita yang sangat rapi dan pembersih.


"Ini Kak di minum dulu teh-nya," ucap Alexa sembari menaruh minumannya di atas meja.


"Makasih ya Lex," ucap Nico.


"Iya sama-sama Kak," jawab Alexa.


"Oh ya cerita dong," pinta Nico.


Untuk pertama kalinya Alexa menceritakan masalah kehidupan pribadinya pada orang lain, karena sebelumnya yang tau soal ini hanyalah Thalita sahabatnya dan Bagas yang memang sudah menjadi bagian dari keluarganya. Selama ini Alexa memang selalu tertutup soal pribadinya, tapi entah kenapa kali ini Alexa begitu percaya menceritakannya kepada Nico.


Nico mendengarkan dengan seksama, tidak lupa ia mengusap air mata Alexa yang menetes dengan jarinya. Wanita yang selama ini selalu berusaha ceria di depan banyak orang, ternyata banyak menyimpan kesedihan dalam hatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....