Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-65



"Sama-sama," jawab Nico tersenyum.


Andreas pun ikut, tersenyum ia merasa lega karena anaknya itu mempunyai kekasih yang sangat baik dan Andreas percaya bahwa Nico mampu menjaga dan bertanggungjawab juga sangat mencintai putrinya, Alexa. Meskipun saat ini dia berada di dalam tahanan, ia tetap merasa lega karena Alexa dikelilingi oleh orang-orang baik. Saat ini Andreas hanya bisa berdoa dan dengan bantuan Bagas agar ia cepat dibebaskan, karena ia dipenjara juga bukan karena kesalahannya melainkan karena difitnah orang yang tidak bertanggungjawab.


"Ehem … seakan dunia milik berdua, nggak ngerasa kalau kita ada di sini kali ya, kita ini numpang aja. Ya kan Mas, Om," sindir Arya sembari melirik ke arah Andreas dan Bagas.


Alexa dan Nico pun tersenyum malu dan melerai pelukan mereka.


Drt … drt … drt …


Bagas merogoh ponselnya yang ada di dalam kantong celana. Sejenak wajahnya berubah menjadi panik, ia teringat bahwa malam ini ada janji akan berjalan-jalan bersama Vina. Akan tetapi Bagas lupa mengabarinya bahwa ia sudah kembali ke Jogja.


"Pak Andreas dan semuanya, saya permisi keluar dulu mau angkat telepon," ucap Bagas.


"Iya Mas," jawab Alexa, sedangkan yang lain hanya menganggukkan kepala. Lalu Bagas pun segera keluar untuk mengangkat telepon dari Vina tersebut.


"Halo Bagas," ucap Vina dari seberang telepon.


"Halo Vin," ucap Bagas pula.


"Kamu kemana aja sih baru angkat telepon aku, kamu lupa ya kalau ada janji sama aku malam ini? Ini udah jam berapa Bagas? Kamu janji jam 07.00 dan ini sudah jam 09.00 malam," oceh Vina.


"Maafin aku Vin, aku lupa mau kabarin kamu kalau hari ini aku ada urusan mendadak di Jogja," ucap Bagas.


"Jadi kamu udah balik ke Jogja?" Tanya Vina yang tampak kecewa.


"Iya Vin benar, aku udah balik ke Jogja tadi sore, mendadak dan aku benar-benar nggak ingat mau kasih tau ke kamu, aku juga baru lihat HP sekarang ini," ucap Bagas.


"Benar-benar keterlaluan ya kamu! Kabarin dong kalau memang nggak jadi. Jadi aku nggak perlu siap-siap kayak gini," kata Vina kesal.


"Iya aku minta maaf, maaf banget. Aku minta kamu ngerti ya," ucap Bagas yang seolah tak bosan mengucap kata maaf.


"Ah ya sudahlah," kata Vina.


Lalu Vina pun memutuskan panggilan telepon begitu saja.


"Untuk saat ini, aku nggak peduli Vina mau marah atau apa, yang penting aku harus fokus dengan pak Andreas dulu," gumam bagas, lalu ia pun kembali masuk ke dalam ruang rawat inap Andreas.


*****


Tepat jam 10.00 malam, Nico dan Arya berpamitan akan pulang ke Jakarta.


"Nico, Arya, apa kalian nggak bisa kalau pulang ke Jakarta-nya besok pagi aja? Ini sudah malam, sangat bahaya sekali perjalanan dari Jakarta menuju ke Jogja," kata Andreas.


"Iya Kak, sebaiknya kalian pulang besok pagi aja," sambung Alexa.


"Maaf Om, Alexa, tapi malam ini kami harus pulang ke Jakarta, karena besok pagi saya harus melakukan pemeriksaan khusus untuk pasien yang akan melakukan operasi siang harinya," ucap Niko. "Terlebih lagi Alexa tidak ada, jadi tidak bisa kalau satupun Dokter spesialis jantung tidak ada di rumah sakit.


"Oh begitu, iya saya paham. Emang sebagai Dokter atau pemimpin, kita harus bertanggungjawab penuh terhadap tugas kita," kata Andreas.


"Tapi pasti sampai sana lama banget, aku khawatir sama kakak dan Arya," kata Alexa.


"Kamu tenang aja Lex, gak usah khawatir. Kami berdua ini laki-laki, nggak ada masalah kok mau sampai larut malam atau besok pagi, kami akan baik-baik aja," kata Arya.


"Nah kali ini aku setuju sama Arya," kata Nico.


"Tumben Dokter setuju sama perkataan saya," ucap Arya.


Setelah berpamitan, Arya dan Nico langsung saja melakukan perjalanan pulang ke Jogja.


Alexa tampak gelisah, ia menunggu kabar dari Nico setiap 1 jam sekali. Jika tidak Nico yang mengirim pesan maka Arya lah yang mengirimkan pesan untuknya.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, Alexa masih saja gelisah terduduk di kursi samping ranjang menemani ayahnya itu. Andreas yang tadi sudah tidur kini bangun karena merasakan haus di tenggorokannya.


"Aku masih nungguin kabar dari Kak Nico dan Arya Pa," jawab Alexa. "Papa mau apa?" Tanyanya.


"Papa haus Sayang, mau minum," jawab Andreas.


"Ini Pa minumnya," kata Alexa sembari memberikan segelas air putih kepada Andreas.


"Terima kasih ya Sayang," Ucap Andreas. "Lex, Papa mau ngomong sama kamu.


"Mau ngomong apa Pa?" Tanya Alexa.


"Nico itu pria yang baik, Papa suka sama dia. Papa percaya kalau Nico bisa menjaga kamu dengan baik pula. Papa lega, walaupun Papa berada di penjara, tapi ada orang yang selalu menjaga kamu, kamu dikelilingi sama orang-orang yang sangat menyayangi kamu," kata Andreas.


"Papa, Papa jangan ngomong gitu dong, aku senang kalau Papa menyukai Kak Nico, tapi aku tetap mau Papa cepetan bebas dari penjara. Bagaimana kasusnya Pa? Apa udah ada kemajuan?" Kata Alexa.


"Sudah Sayang, kamu tenang aja ya," kata Andreas.


"Syukur lah Pa, pokoknya aku berharap Papa cepetan bebas. Kalau Papa butuh bantuan aku, Papa bilang ya, aku pasti akan bantu semampu aku," kata Alexa.


"Iya sayang, makasih ya," ucap Andreas.


"Nggak usah Makasih Pa, aku ini anak Papa. Udah kewajiban aku," kata Alexa lalu memeluk Papanya.


*****


Hari ini saat berada di rumah sakit, Arya merasakan kurang bersemangat. Pasalnya sesampainya dari Jogja tadi malam, ia tidak dapat memejamkan matanya hingga pagi hari. Arya tampak lesu dan mengantuk, ia bersandar di meja kerjanya sampai tidak menyadari jika Nico ada di belakangnya.


"Arya, kamu ngantuk?" Tanya Nico.


Sontak saja Arya terkejut dan memaksa membesarkan matanya yang sangat lengket itu.


"Iya Dok maaf, saya ngantuk banget rasanya," jawab Arya jujur.


"Bukannya di mobil kamu hanya tidur aja, yang nyetir juga saya," kata Nico heran.


"Iya Dok, Tapi pas sampai di rumah, saya nggak bisa tidur sama sekali sampai pagi Dok," jelas Arya.


"Oh … itu sih kesalahan kamu, tidur mulu sih sepanjang jalan, jadi di rumah nggak bisa tidur kan," kata Nico.


"Ya maunya saya sih tidur Dok, tapi nggak bisa mau gimana lagi," kata Arya.


"Kalau seperti ini, gimana kamu mau melakukan operasi nanti siang? Mendingan sekarang kamu tidur aja dulu sebentar, jangan sampai gara-gara kamu mengantuk terjadi yang nggak kita inginkan saat operasi nanti," kata Nico.


"Seriusan Dok?" Tanya Arya tidak percaya.


"Ya saya serius, sekarang kamu ke ruang istirahat!" perintah Nico.


"Baik Dok, terima kasih," ucap Arya dan bergegas pergi.


.


.


.


.


.


Bersambung...