Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-95



Siang pun menjelang, panas sinar mentari terasa sangat membakar kulit bagi yang melakukan aktivitasnya di luar ruangan. Meskipun saat ini Renata sedang berada di dalam mobil, ia juga ikut merasakan panasnya yang sangat luar biasa menerpa tubuhnya.


Saat ini di telinganya selalu terngiang-ngiang perkataan yang dikatakan oleh Thalita saat di rumah sakit tadi. Apa benar kalau dia bisa bersikap baik, Raka akan mencoba menerimanya, tapi gimana kalau tidak? Bukankah itu semua akan sia-sia? Pikir Renata.


"Atau lebih baik aku coba aja deh dulu, siapa tau yang dibilang sama Thalita itu benar," ucap Renata yang terus saja bermonolog dengan hatinya.


Renata tiba di apartemennya, ia berencana akan menginap satu malam lagi di Jogja karena malam ini ia akan menemui Raka kembali. Renata memarkirkan mobil lalu keluar dari mobilnya itu, saat itu juga ia bertemu dengan Bagas yang juga baru saja pulang dan hendak masuk ke apartemennya.


Renata tampak cuek dan tidak menganggap adanya Bagas, akan tetapi Bagas yang melihat Renata saat itu pun berusaha untuk menyapanya.


"Hai Re," sapa Bagas.


Renata memutar bola matanya malas, ia sangat enggan meladeni Bagas yang menurutnya itu telah bersikap tidak baik terhadap Kakaknya, Renata.


Karena merasa tidak diladeni oleh Renata, Bagas pun mencoba kembali untuk menegurnya, "Kamu sendiri aja Re ke Jogja? Vina-nya nggak ikut?"


Karena mendengar nama kakaknya disebut, akhirnya Renata pun dengan sangat terpaksa meladeni Bagas saat itu.


"Enggak, terus emangnya kenapa? Kamu ngapain tanyain Kak Vina?" Tanya Renata Ketus.


"Jutek banget sih Re, aku kan cuma nanya aja. Emang salah ya cuma nanya doang," kata Bagas.


"Salah, salah banget. Dengar ya, kalau kamu memang nggak suka sama Kak Vina harusnya kamu nggak usah dekat-dekat dia lagi deh," kata Renata.


Saat ini mereka sedang berada di dalam lift yang sama menuju ke unit apartemen mereka yang kebetulan juga bersebelahan.


Bagas mengerutkan keningnya, "Maksud kamu apa?" Tanyanya yang benar-benar tidak mengerti.


"Aku tau kok, pasti kamu itu udah dipengaruhi kan sama Alexa buat menjauhi Kak Vina," kata Renata


Bagas benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Renata saat itu, ia hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menatap punggung Renata yang membelakanginya. Suasana menjadi hening seketika, di antara keduanya tidak ada percakapan apapun hingga mereka tiba di unit apartemen masing-masing dan masuk ke dalam.


*****


"Kak Nico mau kemana?" Tanya Alexa yang melihat Nico saat ini sangat terburu-buru keluar dari ruangannya.


"Sayang, Bunda tiba-tiba pingsan. Aku baru dapat kabar dari Rika dan saat ini Rika lagi dalam perjalanan membawa Bunda ke sini bareng supir," jelas Nico yang terlihat sangat panik.


"Bunda kenapa bisa pingsan Kak?" Tanya Alexa yang ikutan panik.


"Aku nggak tau, ini aku mau ke bawah tungguin Bunda," jawab Nico.


"Aku ikut ya Kak," kata Alexa dan ditanggapi anggukan oleh Nico.


Lalu mereka berdua pun setengah berlari melangkahkan menuju ke depan rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Rika dan membawa Anggi itu pun tiba. Suster yang telah menyiapkan brankar pun langsung saja menghampiri mobil tersebut, Nico sendiri yang menggendong ibunya itu dan menaikkannya ke atas brankar.


"Kak, yang sabar Kak," ucap Alexa sembari menepuk pelan pundak Nico. Mereka berdua juga setengah berlari mengiringi brankar Anggi menuju ke ruang IGD.


Saat Anggi dibawa masuk ke ruangan IGD, Alexa dan Nico pun ikut masuk ke dalam, karena mereka juga merupakan Dokter di rumah sakit tersebut, terlebih lagi Nico adalah pemilik Rumah Sakit Hospital Hutama.


Setelah menjalankan pemeriksaan, tidak berapa lama kemudian Anggi pun siuman. Nico dan Alexa yang sedari tadi menemani, langsung saja mendekati Anggi.


"Bunda, akhirnya Bunda sadar juga. Bunda kenapa sih bisa kayak gini? Bikin aku khawatir Bunda," kata Nico sembari memegang tangan ibunya itu.


"Kenapa bisa sampai kecapean sih Bun? Emang Bunda habis ngapain? Kan Nico udah suruh Rika buat jagain Bunda, suruh membantu apapun yang menjadi kerjaan Bunda. Tapi kenapa Bunda harus capek-capek sendiri sih," kata Nico.


Lalu Alexa pun ikut memegang tangan Anggi yang sebelahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya itu.


"Bunda, Bunda baik-baik aja kan?" Tanya Alexa.


Nico tersenyum melihat apa yang telah kekasihnya lakukan terhadap ibunya itu. Apalagi Anggi, ia merasa sangat bahagia, hatinya menghangat saat Alexa mau memegang tangannya dan menanyakan keadaannya saat ini.


"Alexa, Sayang," ucap Anggi dan memberi gestur agar Alexa memeluknya. Alexa pun langsung saja memeluk sekilas Ibu dari kekasihnya itu.


"Alexa, makasih ya kamu udah peduli dan nanyain keadaan Bunda," ucap Anggi.


"Iya Bunda, Alexa khawatir sama Bunda. Bunda baik-baik aja kan?" Tanya Alexa.


"Iya, Bunda enggak apa-apa kok. Bunda fine," jawab Anggi dan meneteskan air matanya.


"Bun, Bunda kenapa nangis?" Tanya Alexa.


"Bunda menangis karena Bunda bahagia Sayang, akhirnya kamu mau bicara lagi sama Bunda," jawab Anggi.


"Bunda, udah ya jangan mikirin itu lagi. Yang penting sekarang kesehatan Bunda," Kata Alexa.


Kini ia dan Nico pun berada di samping Anggi dan menemaninya.


"Alexa, Nico, kalian itu kan Dokter di sini, kalau kalian lagi banyak kerjaan, lagi ada pasien, kalian tinggalin aja ya Bunda di sini. Bunda nggak apa-apa kok, Bunda baik-baik aja," kata Anggi yang kini sudah berada di ruang rawat inap. Karena Anggi harus tetap dirawat di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan intensif sampai menunggu hasil penyakitnya itu keluar.


"Nggak papa Bunda, Alexa lagi nggak banyak kerjaan kok hari ini, Kak Nico juga. Kita lagi nggak ada jadwal operasi, sementara untuk pemeriksaan pasien Arya yang tangani dulu," kata Alexa.


Tapi tetap aja Bunda nggak enak, di sini kan ada Suster yang menemani Bunda," kata Anggi.


"Kita kan juga Dokter di rumah sakit ini Bunda, jadi gak ada masalah kok kalau kita di sini," kata Nico dan Anggi hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia memang selalu tidak bisa membantah jika sudah Nico yang berbicara.


Akan tetapi saat itu seorang Suster memanggil Dokter Nico karena ada pasien yang harus segera ditanganinya, Nico pun langsung saja bergegas pergi dan menitipkan sang ibunda kepada Alexa. Alexa dengan senang hati menjaga Anggi, karena hal yang sedang terjadi saat ini tidak sengaja telah membuat Alexa dan Anggi berbaikan.


"Alexa, kamu mau kan maafin Bunda? Bunda benar-benar menyesal Alexa," ucap Anggi.


"Bunda, udah ya nggak usah dibahas lagi. Alexa nggak pernah kok marah sama Bunda, Alexa cuma merasa belum bisa aja menerima kenyataan itu. Tapi sekarang Alexa juga lagi berusaha untuk menerima semuanya. Toh semuanya juga udah terjadi. Mama Alexa juga udah nggak ada, pasti Mama nggak mau liat Alexa terus-terusan menyimpan rasa kecewa yang pernah dirasain oleh Mama dulu," kata Alexa.


.


.


.


.


.


Bersambung.....