
"Kenapa Renata bisa bilang aku dimanfaatin sama Alexa? Tapi yang dibilang sama Renata itu masuk akal juga, karena selama ini Alexa memang nggak pernah mau diantar, jumpa atau dekat sama aku. Apalagi saat ini dia udah punya kekasih, tapi kenapa tiba-tiba Alexa mau? Ah sudahlah, lagian apa salahnya juga? Aku dan Alexa itu kan cuma bersahabat, ya nggak ada salahnya kan," gumam Raka yang terus saja berbicara sendirian.
Raka kembali melajukan mobilnya hingga ia tiba di rumah sakit. Saat ia masuk ke dalam rumah sakit, ia dikejutkan dengan keberadaan Renata yang telah menunggu di depan ruangannya.
"Renata? Kamu Kok bisa ada di sini?" Tanya Raka.
"Kak Raka, hai. Iya aku baru aja sampai rumah sakit Kak. Tadi malam aku tidur di Jogja," jawab Renata.
"Oh ya? Tapi itu sama sekali bukan urusan aku. Yang aku tanya kamu mau ngapain ke sini? Ada urusan apa?" Tanya Raka.
"Cie … yang pagi-pagi udah diapelin," ledek Dion yang baru saja tiba di rumah sakit bersama dengan Thalita.
"Mendingan kamu diem aja," kata Raka.
"Santai aja kali Kak, tau deh yang mau berduaan. Kita nggak bakalan ganggu kok," kata Thalita. "Yuk Kak kita pergi," lalu Talita pun mengajak Dion untuk melanjutkan perjalanan mereka, karena memang untuk menuju ke ruangan Dion melewati ruangan Raka tersebut.
Raka memutar bola matanya malas, lalu membiarkan Dion dan Thalita pergi begitu saja. Setelah mereka menjauh, Raka pun kembali menatap wanita yang kini ada di depan matanya.
"Sekarang kasih tau aku, kamu ada apa ke sini pagi-pagi? Aku ini lagi banyak kerjaan," kata Raka.
"Kak, bisa nggak sih Kakak kasih aku kesempatan sekali aja, kasih aku kesempatan buat dekat sama Kakak. Aku akan berusaha untuk buat Kakak suka sama aku," kata Renata.
"Kamu ngomong apaan sih, pagi-pagi udah ngelantur," kata Raka dan mengalihkan pandangannya. Lalu ia pun meninggalkan Renata hendak masuk ke dalam ruangannya.
Akan tetapi, dengan cepat Renata menarik tubuh Raka lalu memeluknya. Raka kebingungan, ia Mencoba melepaskan pelukan dari Renata, tetapi bukannya melepas Renata malah memeluknya semakin erat sehingga pelukan tersebut tidak dapat terlepas.
"Renata please lepasin, kamu apa-apaan sih. Ini itu di rumah sakit, malu tau nggak," kata Raka.
"Biarin aja, aku nggak mau lepasin pokoknya. Aku mau Kakak kasih aku kesempatan, aku tersiksa kayak gini terus, aku selalu mikirin Kakak. Apa Kakak gak bisa menghargai pengorbanan aku sama sekali, Kakak nggak liat aku sampai bolak-balik loh dari Jakarta ke Jogja hanya demi nemuin kamu Kak. Apa Kakak nggak pernah sadar kalau aku itu sayang dan cinta sama Kakak. Kenapa sih Kakak sama sekali enggak mau ngasih aku kesempatan?" Tanya Renata.
Raka terdiam, menurutnya apa mungkin dia sangat keterlaluan karena terus saja mengabaikan Renata? Akan tetapi perasaan itu memang tidak dapat dipaksakan, karena Raka memang saat ini masih mencintai Alexa dan berharap jika bisa bersama dengan Alexa meskipun itu adalah hal yang mustahil. Karena Raka tidak enak melihat ada beberapa staf di rumah sakit yang melihat Renata memeluknya, ia pun mengajak Renata untuk masuk ke dalam ruangannya dan berbicara lebih lanjut. Renata menyetujuinya dan mereka pun masuk ke ruangan Raka saat itu juga.
"Kamu duduk di sini, kata Raka menunjuk kursi yang ada di seberang kursi yang biasa ia diduduki.
"Kamu udah gila ya pagi-pagi datang ke sini hanya buat ngomongin masalah ini ke aku," kata Raka.
"Iya Kak, aku emang udah gila dan aku gilanya karena kamu. Kalau kamu memang nggak mau terus-terusan aku ganggu, terus-terusan aku kayak gini, kamu harusnya kasih dong aku kesempatan," kata Renata. Ia malah semakin membuat Raka geram karena selalu saja memanfaatkan situasi.
"Oh ya? Apa kamu pikir dengan semua kejahatan yang pernah kamu lakukan akan bikin hati aku tersentuh dan memberi kamu kesempatan?" Tanya Raka.
"Jadi Kakak selama ini selalu menganggap aku wanita jahat sehingga Kakak nggak mau ngasih aku kesempatan gitu?" Tanya Renata.
"Kak, aku bisa berbuat seperti itu ya karena kamu juga. Coba Kakak mau kasih aku kesempatan, aku pasti bisa kok menjadi orang baik seperti yang Kakak mau," kata Renata.
Raka kembali terdiam memikirkan sesuatu, "Apa mungkin jika aku memberikan Renata kesempatan, maka wanita ini akan berubah? Tapi bagaimana dengan perasaan aku yang sama sekali tidak bisa mencintai Renata, apakah seiring berjalannya waktu aku bisa untuk mencoba mencintai Renata?" gumam Raka dalam hati.
Segala usaha dan upaya telah Renata lakukan untuk mendapatkan hati Raka, akan tetapi Raka sama sekali tidak tersentuh karena di dalam hatinya masih tersimpan rapi nama Alexa.
"Kamu bisa nggak sekarang tinggalin ruangan aku? Tolong kamu jangan ganggu aku lagi, jangan berpikiran yang tidak-tidak," kata Raka.
"Kakak benar-benar keterlaluan ya, kapan sih hati Kakak yang beku itu bisa mencair? Aku sama sekali nggak tau lagi harus berbuat apa," kata Renata yang mengeluarkan air matanya.
Raka sebenarnya merasa cukup iba, tetapi jika saat ini dia menenangkan Renata, ia takut jika wanita dihadapannya itu akan menjadi salah paham. Akhirnya ia pun memilih untuk tidak menggubrisnya. Dengan rasa kecewa dan menangis, Renata keluar dari ruangan Raka dan berjalan menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.
Saat itu, tanpa sengaja Renata bertemu dengan Thalita yang menegurnya.
"Kenapa? kamu pasti suka kan Liat aku kayak gini? Kamu pasti mau ketawain aku kan?" Kata Renata.
Thalita terdiam menatap wajah Renata yang tampak sembab. Meskipun dia sangat tidak menyukai Renata, tetapi dia juga masih mempunyai perasaan dan merasa iba terhadap keadaan Renata saat ini. Thalita tahu pasti Renata menangis karena telah mendapat penolakan berkali-kali yang biasa diterima olehnya.
"Renata, kamu mau nggak bicara sebentar sama aku?" Tanya Thalita
"Renata menatap mata Thalita, dia tidak percaya jika Thalita ingin mengajaknya untuk berbicara. Tapi karena saat ini ia juga sedang galau dan membutuhkan teman, akhirnya Renata pun menyetujuinya. Dua Dokter cantik itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke balkon rumah sakit dan berbicara di sana.
"Re, aku tau kok kalau kamu sayang dan cinta sama Kak Raka, bahkan aku tau kalau selama ini kelakuan jahat yang kamu lakukan terhadap Alexa semata-mata hanya karena kamu ingin mendapatkan hati Kak Raka. Tapi tetap aja yang kamu lakukan itu salah," kata Thalita.
"Kalau kamu aja bisa mengerti, tapi kenapa Kak Raka sama sekali nggak bisa mengerti. Kenapa dia menganggap aku wanita yang jahat," kata Renata.
"Karena kelakuan kamu itu salah dan Kak Raka gak suka sama sifat jahat yang selalu kamu lakuin. Coba deh kamu berubah, kamu tunjukkin sikap baik kamu yang tulus sama dia, aku yakin kok lama-lama gunung es itu akan mencair juga," kata Thalita yang membuat Renata tampak berpikir.
.
.
.
.
.
Bersambung...