
Andreas menatap wanita yang ada di depannya saat ini, ia berpikir jika kedatangan Anggi saat ini pasti ingin menentang hubungan Alexa dan Nico. Andreas sadar diri karena Alexa bukan dari keluarga yang sempurna, ibunya telah meninggal, sementara ayahnya bangkrut dan saat ini sedang berada di sel tahanan. Berbeda dengan Nico yang merupakan seorang Dokter dari keluarga terhormat, dia juga orang berada, pemilik Rumah Sakit Hospital Hutama.
"Maaf Bu Anggi, apa kedatangan Anda ke sini untuk menentang hubungan Alexa dan Dokter Nico?" Tanya Andreas langsung tanpa berbasa-basi.
"Oh tidak Pak, kalau Anda menganggap saya datang untuk itu, Anda salah," jawab Anggi.
Andreas mengurutkan keningnya, jika Anggi datang tidak untuk itu, lantas untuk apa lagi? Pikirnya.
"Jadi untuk apa Ibu datang ke sini?" Tanya Andreas.
"Begini Pak, saya datang ke sini karena ada hal lain yang ingin saya tanyakan," kata Anggi.
"Mau tanya soal apa?" Tanya Andreas.
"Apa benar ibunya Alexa yang sudah meninggal itu bernama Delisa Ariani?" Tanya Anggi.
Andreas menatap heran wajah Anggi, dari mana perempuan ini tahu nama mantan istrinya adalah Delisa Ariani? Apa karena Alexa yang sedang menceritakannya? Lantas untuk apa dia menanyakan soal ini? Apa perempuan ini kenal dengan mendiang istrinya?
"Maaf Pak, jika memang benar Delisa Ariani yang dulu sempat pindah ke Jerman, berarti dia adalah sahabat saya sewaktu SMA dulu," ucap Anggi.
"Sahabat waktu SMA?" Tanya Andreas untuk memastikan ucapan yang keluar dari mulut Anggi tadi tidak salah didengarnya.
"Iya Pak, saya adalah sahabatnya Delisa. Tapi sebenarnya saya tidak pantas disebut sahabat," kata Anggi.
"Kenapa? Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Andreas yang semakin dibuat bingung oleh Anggi.
"Pak, apa Delisa pernah cerita sama Bapak bahwa dulu dia pernah punya seorang sahabat yang mengkhianatinya?" Tanya Anggi.
Andres memutar otaknya, ia mengingat-ingat masa lalu yang pernah menimpa istrinya. Akhirnya dia teringat sesuatu waktu itu.
Flashback on...
"Delisa, aku ingin menikahimu. Kenapa kamu tidak mau menerima cinta saya?" Tanya Andreas.
"Mas, aku udah bilang kan sama kamu kalau aku itu belum bisa move on dari mantan pacar aku, Angga," kata Delisa.
"Tapi Angga sekarang udah nggak ada lagi kan di sini? Apalagi yang kamu harapkan dari dia?" Tanya Andreas.
"Ya memang Angga udah nggak ada di sini lagi, Angga udah direbut sama seorang wanita yang telah aku anggap sebagai sahabat tapi ternyata dia menusuk aku dari belakang, dia tega memfitnah aku berselingkuh dengan pria lain tapi ternyata dia menggoda kekasihku itu," kata Delisa dengan sorotan mata tajam.
"Ya sudahlah, lagian Angga lebih memilih sahabat kamu itu kan dibandingkan kamu. sekarang kamu punya saya yang selalu ada buat kamu. Saya ingin menikahi kamu dengan tulus. Saya yakin jika kamu menerima cinta saya, kamu pasti akan melupakan pria itu," kata Andreas penuh harap.
"Kasih aku waktu Mas, aku akan memikirkan ini terlebih dahulu," kata Delisa.
Hingga akhirnya Delisa pun menerima untuk menikah dengan Andreas karena ingin menghilangkan sakit hatinya, akan tetapi setelah dua tahun menikah dengan Andreas Delisa pun mulai merasakan jatuh cinta dan benar-benar bisa melupakan mantan pacarnya itu. Dia juga akhirnya mau memberikan apa yang harusnya Andreas dapatkan hingga akhirnya Delisa hamil dan mempunyai dua orang anak dari Andreas, akan tetapi anak pertamanya itu tiba-tiba hilang dan sampai saat ini belum juga ditemukan.
Flashback off.
"Jadi kamu sahabat yang dimaksud sama Delisa?" Tanya Andreas.
"Iya Mas, aku sahabat yang udah mengkhianati dia," jawab Anggi.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya, jadi kamu yang bikin hidupnya Delisa selama dua tahun menderita. Kamu udah benar-benar bikin dia kecewa karena pengkhianatan dari pacar dan juga sahabatnya," kata Andreas.
"Maafkan saya Pak. Tapi pada akhirnya saya juga tidak menikah dengan Angga karena dia berselingkuh dengan wanita lain, Angga itu pria brengsek. Saya sudah sempat cari Delisa waktu itu akan tetapi saya tidak menemukannya. Menurut kabar yang saya dapat, Delisa sudah pindah ke luar Negeri," ucap Anggi, terlihat dari sorot matanya itu jika ia sangat menyesal akan perbuatannya di masa lalu.
"Percuma saja Anda minta maaf sekarang Delisa udah nggak ada," kata Andreas.
"Sudahlah, masalah itu juga sudah berlalu kan," kata Andreas.
"Tapi Pak jika Alexa tau saya dulu pernah menyakiti ibunya, apa Alexa akan tetap menerima Nico sebagai kekasihnya? Saya takut Alexa akan benci sama saya," kata Anggi penuh kekhawatiran.
"Alexa bukan orang yang seperti itu, tapi kalau Ibu tidak yakin, sebaiknya jangan mengatakannya kepada Alexa. Saya juga tidak akan mengatakan apapun sama anak saya," kata Andreas.
"Baik Pak, terimakasih banyak ya," ucap Anggi.
Anggi merasa sedikit lega karena sudah mengatakan semuanya kepada Andreas, lalu ia pun segera meninggalkan sel tahanan dan memutuskan untuk menginap di Jogja, kota yang yang terkenal sebagai kota gudeg itu.
*****
Ting … tung …
Terdengar bel rumah Vina. Vina pun langsung saja bergegas membukakan pintu untuk tamunya tersebut. Saat ini ia juga sedang bersama Renata yang sedang berkunjung untuk melihat Kakaknya yang sedang sakit.
Saat membuka pintu, Vina terkejut melihat Alexa dan Nico ada dihadapannya.
"Kalian? Untuk apa kalian berdua datang ke sini?" Tanya Vina.
"Kalau bukan karena Alexa, Saya juga tidak mau datang ke sini," kata Nico.
"Kak udah, maaf Dokter Vina, saya dengar katanya Dokter Vina sakit, makanya saya ajak Kak Nico ke sini buat jenguk Dokter," kata Alexa.
"Memang kenapa kalau saya sakit? Apa peduli kalian sama saya? Atau kalian datang ke sini sengaja ya mau mengejek saya?" Tanya Vina.
"Dokter nggak boleh ngomong kayak gitu dong, gimana pun juga kita ini kan pernah bekerja di satu rumah sakit ya, jadi gak ada salahnya kan kalau saya ini peduli dan mau lihat Dokter Vina," kata Alexa.
"Nggak usah sok peduli kamu, kamu senang kan melihat saya udah dipecat dari rumah sakit dan saat ini saya juga sedang sakit seperti ini," kata Vina.
"Sama sekali nggak Dok," jawab Alexa.
"Udahlah Sayang, ngapain juga sih kamu jelasin. Lagian kan aku udah bilang akan percuma kamu ke sini, niat baik kamu itu nggak akan dihargai sama dia," kata Nico.
"Kamu nggak bisa ya sekali aja berprasangka baik sama aku Nico," kata Vina.
"Kamu sendiri aja selalu berprasangka buruk sama orang lain, nggak bisa menghargai kebaikan orang lain, terus kamu minta aku berprasangka baik sama kamu gitu," kata Nico dengan sedikit membentak.
Renata yang saat itu mendengar ribut-ribut di luar pun langsung saja menyusul Kakaknya.
"Kak, ada siapa sih kok ri-" ucapannya terhenti saat melihat Alexa. Begitu juga dengan Alexa yang terkejut melihat Renata ada di rumah Vina.
.
.
.
.
.
Bersambung.....