Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-106



Dikarenakan saat ini Raka ingin bertemu dengan Dion karena ada hal penting yang ingin disampaikannya, Dion pun menyetujui untuk bertemu Raka di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumahnya. Dion pun langsung saja bersiap-siap menuju ke lokasi tersebut, begitupun juga dengan Raka yang lokasinya sedikit jauh dengan cafe tersebut pun segera saja melajukan mobilnya. Ia tidak mau jika Dion lama menunggunya, sudah pasti mulut sahabatnya itu akan berisik seperti burung beo.


Dua puluh menit berlalu, Raka pun telah tiba di cafe yang telah mereka sepakati bersama. Benar saja, di sana sudah ada Dion yang menunggunya kira-kira sepuluh menit yang lalu. Langsung saja Raka melangkahkan kakinya menghampiri dimana Dion berada.


"Lama banget sih kamu, hampir aja aku pulang tau nggak," protes Dion.


"Ya ampun Yon, memangnya aku terlambat berapa lama sih? Lagian kamu milih lokasi yang dekat dengan rumah kamu, ya wajar aja kali kalau aku telat. Paling telat lima atau sepuluh menit lah," kata Raka yang memang sudah memperhitungkan berapa lama ia dan Dion akan sampai di lokasi tersebut.


Cafe itu tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman dan privasi. Bentuknya yang estetik juga membuat para pengunjungnya merasa nyaman dan merasakan sensasi yang berbeda jika berada di dalam cafe tersebut.


"Yang butuh itu kamu, harusnya bisa cepat sedikit dong," kata Dion yang menurut Raka semakin menyebalkan saja.


Kalau bukan karena Raka yang membutuhkan teman curhat, sudah dipastikan ia akan segera pergi meninggalkan Dion. Dan pada akhirnya Raka pun hanya bisa sabar menghadapi sahabatnya itu.


"Iya, iya, aku tau lah kalau aku yang butuh. Lagian sekarang aku juga udah sampai kan? Kenapa juga sih protes mulu," kata Raka.


Dion memutar bola matanya malas, rasanya sangat membuang-buang waktu harus meladeni Raka di sini. Sementara tadi ia sedang bercanda ria bersama kekasihnya melalui telepon.


"Sekarang to the point aja, kamu mau ngomong apa? Tanya Dion.


"Sebenarnya aku ini lagi pusing memikirkan hubungan aku sama Renata," ucap Raka.


"Hah? Hubungan kamu sama Renata? Memangnya sejak kapan kamu punya hubungan sama wanita itu?" Tanya Dion.


"Eh enggak, aku gak ada hubungan apa-apa sama Renata. Maksudnya ya seperti itulah," kata Raka.


"Seperti itu gimana? Nggak jelas banget," kata Dion.


"Iya aku sama Renata emang belum ada hubungan apa-apa sekarang," jawab Raka.


"Belum? Berarti akan?" Tanya Dion melototi Raka.


"Ya nggak tau juga, tapi aku bisa liat dari sikap Renata sekarang ini kalau dia udah berubah lebih baik, dia juga nggak pernah lagi memaksa aku untuk menerima cintanya. Cuma ya dia terus aja datang kasih aku perhatian baik lewat wa maupun secara langsung. Seandainya dia memang udah menyerah buat mengejar cinta aku, harusnya dia nggak ngelakuin itu semua lah, dia harus benar-benar melepaskan aku, dia benar-benar pergi jauh dari hidup aku," kata Raka.


"Terus yang buat kamu bingung tuh apa?" Tanya Dion.


"Ya aku bingung lah sama sifat dia sekarang, maksudnya apa coba?" Tanya Raka.


"Ya ampun Raka, kelamaan jomblo sih kamu. Ya Kamu tanya lah sama dia langsung, maksudnya dia apa melakukan itu semua," kata Dion.


"Kalau aku tanya, terus dia salah paham gimana dong?" Tanya Raka.


"Sekarang bilang aja lah kalau kamu itu udah mulai ngerasa simpatik kan sama Renata, mulai ngerasa suka kan sama dia?" Tanya Dion.


"Suka? Simpatik? Sepertinya memang mulai ada, tapi tetap aja selalu ada nama Alexa di dalam hati aku," kata Raka.


"Alexa lagi, Alexa lagi, sadar dong Ka. Kamu tau kan kalau Alexa itu udah punya kekasih, sebentar lagi juga mereka bakalan Nikah tuh. Udah nggak ada harapan buat kamu Raka. Kalau kamu memang yakin Renata itu udah berubah menjadi lebih baik, menurut aku nggak ada salahnya kok buat kamu mencoba membuka hati buat Renata, memulai hubungan dengan Renata," ujar Dion.


Raka tampak memikirkan ucapan sahabatnya itu, apa yang dibilang oleh Dion memang ada benarnya. Tidak ada salahnya jika ia membuka hati buat Renata saat ini. Raka pun tersenyum kepada Dion karena mendapatkan masukan yang memuaskan hatinya, akan tetapi senyumannya itu malah membuat Dion bergidik.


"Kenapa kamu senyum kayak gitu? Jijik banget," kata Dion.


"Selo aja kali Yon, masa senyum sama sahabat sendiri aja nggak boleh," kata Dion.


"Tapi kita ini sesama laki-laki. Beda dong kalau sesama perempuan atau perempuan sama laki-laki," protes Dion.


*****


"Halo Lex, ada apa?" Tanya Thalita saat menjawab video call dari sahabatnya.


"Lita, ku pengen cerita sama kamu," kata Alexa yang menekuk wajahnya itu.


"Mau cerita apaan Sayang? Kayaknya lagi galau banget," kata Thalita.


"Iya kamu benar, aku memang lagi galau. Tau aja," kata Alexa.


"Iyalah tau, keliatan tuh dari muka kamu. Jelek banget manyun terus, lemes lagi kayak orang udah nggak bergairah lagi buat hidup," jawab Thalita.


"Thalita … nyebelin banget sih, sahabatnya lagi sedih malah ngeledek," rengek Alexa.


"Iya deh sorry. Kan aku cuma bercanda aja. Ya udah cerita deh ada apa?" Tanya Thalita.


"Aku lagi bingung Ta," kata Alexa.


"Bingung? Bingung kenapa?" Tanya Thalita lagi.


"Kak Nico ngajak aku nikah," ucap Alexa.


"Nikah? Seriusan?" Tanya Thalita yang begitu terkejut.


Ia sendiri tak mempercayainya jika Kakak sepupunya itu mengajak Alexa untuk menikah, bahkan dirinya saja yang sudah dilamar oleh Dion belum menikah sampai saat ini. Tapi malah dia yang belum lama berpacaran dengan Alexa, bahkan belum ada melamar kekasihnya itu secara resmi langsung mengajaknya menikah.


"Wait, wait! ini kamu nggak lagi bercanda kan Lex?" Tanya Thalita.


"Ya buat apa juga aku bercanda soal pernikahan Ta," jawab Alexa.


"Habisnya aku nggak nyangka aja sih kalau Kak Nico bisa ngajak kamu nikah secepat itu, apalagi di saat keadaannya Bude lagi sakit," kata Thalita.


"Justru alasannya karena Bunda lagi sakit, makanya Kak Nico ngajak aku nikah," kata Alexa.


"Maksud kamu?" Tanya Thalita yang dibuat bingung, ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


"Kata Kak Nico, Bunda yang pengen kita nikah secepatnya. Karena menurut Bunda umurnya udah nggak lama lagi, jadi sebelum pergi Bunda ingin melihat kami menikah," jelas Alexa.


Tiba-tiba saja wajah Thalita terlihat sedih sama dengan apa yang sedang Alexa rasakan saat ini. Kenapa Anggi bisa mengatakan jika umurnya sudah tidak lama lagi dan akan pergi? Padahal orang-orang yang sangat menyayanginya sangat tidak rela jika ia harus pergi meninggalkan mereka.


"Lex, kalau ini sudah menyangkut keinginannya Bude apalagi dia sampai ngomong kayak gitu, kayaknya kamu harus pikir-pikir lagi deh Lex. Kamu harus mempertimbangkan ajakan Kak Nico, kalau bisa kamu menerimanya," kata Thalita yang membuat Alexa bertambah bingung.


.


.


.


.


.


Bersambung.....