
"Sayang, Bunda kangen banget sama kamu, kamu apa kabar?" ucap Anggi dan bertanya
"Alhamdulillah Alexa sehat Bunda, Bunda gimana, sehat-sehat aja kan?" jawab Alexa dan bertanya balik.
"Iya Sayang, Bunda sehat kok. Kenapa kamu baru datang lagi sih, harusnya kamu itu sering-sering main ke rumah Bunda, ajak Nico pulang," kata Anggi.
"Maunya juga gitu Bun, tapi karena kerjaan kita juga jadi kita baru sempat mau ke rumah Bunda," kata Alexa.
"Iya Bunda, emangnya kita berdua ini pengangguran apa jadi banyak waktu. Kita berdua kerja Bunda," protes Nico.
"Iya-iya, Bunda tau kok kalian berdua kerja, tapi kan kalian pulang kerjanya sore, bisa dong kalian mampir ke rumah Bunda, gak jauh loh," kata Anggi.
"Iya Bunda, nanti kita bakalan sering-sering mampir ya," kata Alexa.
"Beneran ya Sayang. Kalau Nico gak mau kamu aja yang ke sini sendirian," kata Anggi.
"Iya Bunda," jawab Alexa.
"Gak bisa gitu lah, aku gak akan biarin Alexa pergi sendirian," kata Nico.
"Bunda bisa jemput kok," celetuk Anggi.
"Bunda nih bisa aja," kata Nico.
"Ya bisa dong, kamu tuh alasan mulu," kata Anggi.
Alexa hanya tersenyum melihat perdebatan kecil antara kekasihnya dengan sang ibunda yang membuatnya sedikit iri, namun juga ikut merasakan kehangatan berada di keluarga itu.
"Lagi-lagi Dokter Nico pulang bawa wanita itu," gumam Rika sembari menatap Alexa dengan tatapan tidak suka dari kejauhan. Tentu saja dia tidak suka dengan Alexa, dia yang sudah lama menyukai Dokter Nico, tetapi ternyata Dokternya itu lebih memilih wanita lain.
"Rika kamu ngapain di situ …?" Tanya Anggi yang melihat Rika berdiri sedang melihat ke arah mereka.
"Nggak apa-apa bu," jawab Rika gugup. "Saya cuma kebetulan aja lewat dan melihat Dokter Nico udah datang sama pacarnya. Oh ya Bu saya juga mau bilang kalau makan malamnya udah siap," ucap Rika beralasan.
"Oh gitu, ya udah terimakasih ya Rika," ucap Anggi.
" Iya Bu sama-sama," jawab Rika lalu beranjak pergi.
"Ya udah yuk Nico, Alexa, kita makan dulu, makan malamnya udah siap," ajak Anggi.
"Kenapa kalau ke sini selalu diajakin makan bareng Bun? Padahal Bunda nggak perlu repot-repot kayak gini," kata Alexa yang merasa tidak enak.
"Kamu nggak usah ngerasa nggak enak gitu dong Sayang, gak repot kok. Lagian masa udah sampai di rumah mau makan di luar, lebih sehat itu makan di rumah. Emang Nico nggak kasih tau ke kamu ya," kata Anggi sembari melirik Nico.
"Kasih tau kok Bun, malah hampir setiap hari Kak Nico yang masakin buat Alexa," kata Alexa.
"Emang beneran kayak gitu? Atau kamu cuma mau memuji Nico aja ya depan Bunda," kata Anggi menatap Alexa.
"Enggak Bun, yang dibilang sama Alexa itu bener. Nico emang sering masakin buat Alexa," sahut Nico.
"Oh … gitu, syukur deh. Ya udah yuk kita makan," ajak Anggi.
Lalu mereka pun menuju ke ruang makan dan menikmati makan malam bersama.
"Alexa, kata Nico kamu baru balik dari Jogja ya?" Tanya Anggi di sela-sela makan mereka.
"Iya Bun bener, aku abis jengukin Papa. Kemarin Papa masuk ke rumah sakit," jawab Alexa.
"Jadi gimana sekarang keadaan Papa kamu Sayang?" Tanya Anggi.
"Papa udah baik-baik aja kok Bunda sekarang," jawab Alexa.
" Syukurlah, terus mengenai kasusnya gimana?" Tanya Anggi lagi.
"Kasusnya juga udah mulai ada titik terang, bantu doain semoga Papa cepat bebas ya Bun," ucap Alexa.
"Iya Sayang, semoga Papa kamu cepat bebas ya," ucap Anggi.
"Makasih ya Bunda, Kak Nico," ucap Alexa.
"Iya sama-sama Sayang. Oh ya kalau Bunda boleh tau nama Ibu kamu siapa? Siapa tau Bunda kenal, soalnya Bunda kan dulu lama juga tinggal di Jogja," Tanya Anggi yang entah kenapa ingin mengetahui nama orang tua dari kekasih anaknya itu.
"Namanya Delisa Bun," jawab Alexa.
Seketika wajah Anggi berubah, ia terlihat sedikit terkejut, "Delisa? Gak mungkin, pasti ini kebetulan aja, nama Delisa kan banyak," batin Anggi.
"Bun kenapa? Bunda kenal ya sama Mama aku?" Tanya Alexa yang menyadari raut wajah Anggi berubah.
"Oh nggak sayang, Bunda nggak kenal," kata Anggi.
"Oh … kirain Alexa Bunda kenal," ucap Alexa.
Selesai makan, Alexa dan Anggi pun kembali menyambung aktivitas mengobrol mereka sehingga tidak disadari waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Alexa dan Nico pun pamit untuk pulang ke apartemen.
"Kalian nggak mau nginap di rumah aja ya?" Tanya Anggi.
"Nggak bisa Bun, besok kita harus berangkat lebih pagi, biasa ada jadwal operasi," jawab Nico.
"Ya udah kalau gitu, tapi lain kali kalian harus nginap ya," kata Anggi.
"Iya Bunda," jawab Nico.
"Kalian hati-hati ya di jalan, Nico hati-hati bawa mobilnya," pesan Anggi.
Alexa dan Nico menyalami dan mencium tangan Anggi serta memberinya kecupan hangat di pipinya, setelah itu Nico dan kekasihnya itu pun pergi meninggalkan kediaman Hutama.
*****
Vina tampak sedang uring-uringan, ia sampai membanting ponselnya di atas kasur karena apa yang ia inginkan tidak tercapai. Ya untungnya di atas kasur, jadi ponselnya tidak kenapa-napa.
"Bagas ke mana aja sih, bukannya hubungin aku minta maaf gitu, malah nggak ada sama sekali," kesal Vina. "Aku yakin, ini semua pasti Alexa yang mempengaruhi Bagas, jadi Bagas sama sekali nggak peduli lagi sama aku, ih … nyebelin. Tapi harusnya kalau emang dia suka sama aku, dia nggak boleh dong dengerin apa kata orang lain.
Lalu Vina pun mengambil ponselnya yang telah dicampaknya di kasur tadi, Vina segera mencari nomor Bagas yang ada ada aplikasi WhatsApp.
"Masa aku sih yang nelpon dia duluan, tapi bisa aja kan kalau Bagas sekarang emang lagi sibuk, makanya nggak bisa menghubungi aku. Tapi sesibuk apa sih dia sampai-sampai nggak bisa menghubungi aku sedikitpun, ngabarin aku. Ya ampun Vina, emangnya kamu siapa sampai-sampai harus dihubungi terus oleh Bagas? Lagian kenapa coba aku mau mendapatkan kabar dari Bagas? Jangan-jangan aku udah mulai suka sama dia. Enggak mungkin, ini gak mungkin banget," ucap Vina yang terus saja berbicara sendiri.
Vina mencoba mengatur nafasnya, lalu ia pun menekan nomor Bagas dan benar-benar menghubunginya.
"Halo Vin," ucap Bagas dari seberang telepon.
Vina yang mendengar suara Bagas itu pun hanya terdiam. Tidak berbicara apapun sehingga Bagas di seberang sana juga merasa kebingungan.
"Halo Vin, Vina … halo," panggil Bagas.
"Iya Bagas," jawab Vina.
"Vina, kamu ada apa nelpon aku?" Tanya Bagas.
"What …? Aku nungguin kabar dari dia, terus udah aku bela-belain menghubungi dia duluan, dia tanya ada apa?" batin Vina yang merasa sangat kesal. Lalu memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
.
.
.
.
.
Bersambung....