
"Halo Tha, ada apa?" Tanya Alexa yang menjawab telepon dari sahabatnya itu.
"Halo Beb, lagi dimana? Sibuk nggak?" Tanya Thalita.
"Enggak, baru aja selesai kerja nih. Udah mau pulang cuma lagi nungguin Kak Nico," jawab Alexa.
"Oh … gitu," ucap Thalita.
"Iya, ada apa nih? Tumben nelpon," Tanya Alexa lagi.
"Memangnya nggak boleh apa nelpon sahabatnya sendiri," gerutu Thalita.
"Iya boleh, tapi kan biasanya kalau nelpon pasti ada yang mau diceritain deh," kata Alexa.
"Yes of course, kamu benar sekali. Memang ada yang mau aku ceritain nih ke kamu," kata Thalita.
"Tuh kan bener, mau cerita apaan? Buruan deh cerita, gak sabar nih mau dengar," kata Alexa.
"Sabar dong, tau nggak sekarang Renata lagi ada di Jogja," kata Thalita.
"Oh ya? Masa sih?" Tanya Alexa.
"Di kasih tau nggak percaya, beneran tadi itu dia baru aja dari rumah sakit pas istirahat makan siang, biasa mau ketemu sama Kak Raka," jawab Thalita.
"Nggak bosen-bosennya ya dia ngejar ke Raka," kata Alexa.
"Tau tuh, padahal udah jelas-jelas Kak Raka itu udah nolak dia berkali-kali," kata Thalita.
"Jadi kasian sama Renata, lagian kenapa ya Kak Raka itu sama sekali nggak mau membuka hatinya untuk Renata," kata Alexa.
"Nggak usah heran kali Lex, udah jelas karena Kak Raka sukanya sama kamu, ya nggak semudah itulah buat move on," kata Alexa.
"Kok jadi gara-gara aku sih, kan sekarang Kak Raka juga udah tahu kalau aku itu udah punya Kak Nico, jadi harusnya dia itu nggak mengharapkan aku lagi lah. Udah saatnya dia itu move on," kata Alexa.
"Ya harusnya sih gitu, tapi ya … enggak tahu deh, itu kan urusan pribadi orang masing-masing, lagian Kak Raka itu rela kok melihat kamu bahagia sama Kak Nico," kata Thalita.
"Ya haruslah, lagian emangnya aku ini siapa sih sampai enggak bisa direlain gitu sama Kak Raka," kata Alexa.
Tanpa Alexa sadari, ternyata dari tadi Nico telah berdiri di belakangnya dan mendengar semua percakapannya yang sedang menelpon itu.
"Mana aku tau lah kamu siapa bagi dia. Ya udah deh Lex kalau gitu, kamu mau pulang kan?" Tanya Thalita.
"Iya, emangnya kamu belum pulang?" Tanya Alexa balik.
"Belum, aku masih harus lembur nih sama Kak Dion," jawab Thalita.
"Semangat kalau gitu, aku pulang dulu ya," kata Alexa.
"Kalau sama Kak Dion mah semangat terus kali Lex," kata Thalita.
"Iya-iya yang lembur bareng pacar," kata Alexa.
"Iya-iya yang pulang bareng pacar," kata Thalita pula yang tidak mau kalah dengan sahabatnya itu. Sehingga mereka berdua pun tertawa.
"Ya udah deh kalau gitu, bye …," ucap Thalita.
"Bye …," ucap Alexa.
Lalu panggilan telepon terputus.
Alexa berdiri dan membalikkan badannya, ia sangat syok melihat Nico yang kini ada di hadapannya.
"Kak Nico, sejak kapan Kakak ada di sini?" Tanya Alexa.
"Udah dari tadi," jawab Nico.
"Oh ya, jadi Kakak nguping ya pembicaraan aku sama Thalita?" Tanya Alexa.
"Nggak nguping cuma dengar aja kok," jawab Nico jutek.
Alexa menatap Nico dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, "Kenapa Kak kok jutek gitu sih?" Tanya Alexa.
"Nggak, siapa juga yang jutek. Kesel aja nungguin di sini, ternyata lagi asik telponan sama sahabatnya terus ngomongin soal masa lalu," kata Nico.
"Em … ada yang lagi cemburu ya," kata Alexa.
"Enggak, siapa juga yang cemburu," kata Nico lalu membalikkan badannya lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan Dokter magang.
"Kakak mau ke mana?" Tanya Alexa.
"Iya kak aku mau pulang," jawab Alexa, lalu mengejar Nico. Nico pun tersenyum saat Alexa berlari menghampirinya.
*****
Nico membuka pintu apartemennya, lalu masuk ke dalam dan terkejut melihat sang Ibunda tercinta sudah ada di dalam apartemen.
"Bunda, Bunda kok ke sini nggak bilang-bilang?" Tanya Nico.
"Emangnya harus bilang-bilang dulu ya kalau Bunda mau datang?" Tanya Anggi.
"Iya dong Bun, jadi kan Nico ada persiapan. Entah beliin Bunda makanan atau beli bahan makanan untuk dimasak," kata Nico.
"Emang sekarang kamu lagi nggak ada bahan makanan apa-apa?" Tanya Anggi.
"Enggak, kebetulan udah pada habis," jawab Nico sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terus kamu mau makan malam apa sama Alexa?" Tanya Anggi lagi.
"Belum tau Bun, cuma rencananya sih mau pesan online aja, soalnya kita berdua sama-sama capek banget Bun," jawab Nico.
"Oh … gitu, kalau gitu biar Bunda aja yang masak. Bunda udah beli bahan makanannya," kata Anggi.
"Oh ya?" ucap Nico.
"Iya, tuh," kata Anggi sembari menunjuk bahan makanan yang ada di atas meja dapur.
"Wah … Bunda emang terbaik," puji Nico. "Tapi ngomong-ngomong Bunda ada apa datang ke sini?" Tanyanya.
"Enggak ada apa-apa kok, cuma mau liat kamu sama Alexa aja, kangen," jawab Anggi.
"Kangen? Perasaan baru dua hari yang lalu deh aku sama Alexa ke rumah Bunda," kata Nico.
"Ya namanya juga sama anak sendiri, kecuali kamu tinggal sama Bunda, baru deh nggak kangen-kangenan," kata Anggi.
"Ya deh Bun," kata Nico yang enggan berdebat dengan ibunya jika sudah berbicara soal tempat tinggal.
"Alexa mana?" Tanya Anggi.
"Ada di apartemennya dong Bun, di sebelah," jawab Nico.
"Ya udah, kalau gitu sekarang Bunda mau masak. Nanti kamu ajak Alexa makan makan di sini ya, tapi kamu jangan bilang-bilang kalau Bunda lagi ada di sini," kata Anggi.
"Oke Bun, sekarang aku mau mandi dulu ya Bun, bersih-bersih," kata Nico.
"Oke!" jawab Anggi.
Lalu Nico pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mandi, sementara Anggi sedang bergelut dengan peralatan masaknya di dapur untuk memasak menu makan malam mereka.
Tidak berapa lama kemudian, makanan tersebut pun telah siap dan telah tersaji di atas meja. Nico segera menuju ke apartemen Alexa untuk mengajaknya makan malam bersama.
"Loh bukannya kata Kakak malam ini kita pesan online aja ya? Kan Kakak bilang capek mau masak," kata Alexa yang merasa bingung karena Nico tiba-tiba datang mengajaknya untuk makan malam di apartemennya.
"Aku berubah pikiran, masak itu kan lebih sehat. Udah yuk sekarang kita makan," ajak Nico.
"Yuk Kak," jawab Alexa, lalu mengikuti Nico ke apartemennya.
Alexa pun masuk ke dalam apartemen Nico dengan menggelayut manja di lengannya sembari menyandarkan kepala di bahu Nico. Nico hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan kekasihnya itu.
"Alexa udah datang," kata Anggi.
Sontak saja Alexa terkejut karena mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia yang sedang menggelayut di lengan Nico itu spontan melepasnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Bunda," ucap Alexa.
.
.
.
.
.
Bersambung.