Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-100



Masih dalam keadaan telepon yang tersambung, Vina menutup mulutnya menahan tangis karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Meskipun ia tidak terlalu dekat dengan Anggi, tetapi ia sudah kenal dengannya dari semasa berpacaran dengan Nico dulu. Tidak bisa dipungkiri jika ia ikut merasakan sedih dan pedih mendengar penyakit mematikan yang menimpa ibu dari mantan pacarnya itu.


"Halo Dokter Vina, halo, halo … !" Panggil Maya karena tidak mendengar Vina berbicara.


"Eh Maya, udah dulu ya. Saya lagi banyak kerjaan. Makasih infonya," ucap Vina.


Lalu Vina pun menutup telepon begitu saja.


"Apa-apaan sih Dokter Vina, perasaan aku yang nelpon deh tapi kenapa jadi dia yang matiin gitu aja. Tapi … ya udahlah, mendingan sekarang aku cari Dokter Arya aja deh, kangen liat wajah tampannya Dokter Arya sebelum pulang," kata Maya dengan genitnya.


*****


Sementara saat ini Nico sedang tampak termenung di dalam ruangannya, ia memegangi keningnya yang terasa sangat sakit akibat terus saja memikirkan tentang kondisi ibunya. Terlintas dalam pikiran Nico ingin segera memberitahu tentang penyakit ibunya, yang dibilang oleh kekasih dan juga rekannya itu benar bahwa Anggi harus segera tahu tentang penyakitnya. Terlebih lagi pengobatan yang akan Anggi jalankan itu adalah kemoterapi, Anggi bukan orang bodoh yang tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya jika melakukan kemoterapi. Nico menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali secara perlahan, ia mencoba menenangkan hatinya, mencoba menetralisir hatinya yang saat ini sedang tidak karuan. Saat itu tiba-tiba Alexa membuka pintu dan masuk ke ke dalam ruangannya itu.


"Jadi Kak Nico beneran ada di ruangan? Syukurlah," ucap Alexa lega karena melihat kekasihnya itu berada di dalam ruangannya.


"Iya, aku baru aja ke ruangan. Ada apa Lex?" Tanya Nico.


"Kak, Kakak belum kepikiran juga ya mau kasih tau ke Bunda tentang penyakitnya?" Tanya Alexa tanpa berbasa-basi yang tak berarti.


"Sebenarnya ini yang lagi aku pikirin sekarang, aku berniat buat kasih tau ke Bunda. Kamu benar kalau Bunda berhak tau tentang penyakitnya, apalagi pengobatan yang akan Bunda lakukan itu kemoterapi. Karena penyakit kanker ini memang bukan penyakit main-main, aku tau kok, sebagai seorang dokter aku mengerti," kata Nico.


Alexa senang mendengar keputusan Nico, tetapi ia seperti tidak asing mendengar kata-kata yang baru saja diucapkannya itu.


Bukannya ini kalimat ucapan aku dengan Arya tadi ya? Apa jangan-jangan … ah udahlah, walaupun Kak Nico dengar juga nggak masalah kan? Toh itu juga untuk kebaikan," gumam Alexa dalam hati.


Alexa mendekati sang kekasih dan menepuk pelan pundaknya, ia mencoba memberikan kekuatan agar Nico dapat melewati masalah dalam hidupnya ini. Alexa juga berjanji akan terus berada di samping Nico, pria yang ia cintai itu.


"Kak, Kakak yang kuat ya, yang sabar. Aku janji akan selalu menemani Kakak, kita berdua sama-sama berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Bunda. Aku yakin kok kalau Bunda mau berjuang bersama-sama kita, Bunda pasti bakalan sembuh," ucap Alexa.


Nico tidak dapat lagi membendung air matanya yang tiba-tiba lolos begitu saja, ia menatap wajah sang kekasih lalu memeluknya dengan erat serta menenggelamkan kepalanya di antara leher dan bahu Alexa, menumpahkan segala kegundahan hati yang saat ini ia rasakan. Berada di pelukan Alexa membuat Nico menjadi lebih tenang dan benar-benar siap untuk mengatakan tentang penyakit ibunya itu. Setelah pelukan dilepas, Nico kembali menatap wajah kekasihnya itu yang juga menatapnya dengan sorotan mata sendu.


"Sayang, makasih ya atas segala dukungan kamu. Sekarang kita ke ruangan Bunda dan kita kasih tau tentang penyakitnya," ucap Nico.


"Iya Kak," jawab Alexa lalu mereka berdua pun segera beranjak dan pergi menuju ke ruang rawat inap Anggi.


*****


Cuaca siang yang cerah, tapi tidak secerah hati Thalita saat ini, ia terus saja kepikiran dengan kondisi budenya yang saat ini berada di rumah sakit Jakarta. Meskipun orang tuanya saat ini telah berada di Jakarta untuk melihatnya, tetapi Talita tetap tidak bisa tenang sebelum ia melihat sendiri bagaimana kondisi budenya.


Thalita menjadi tidak konsen untuk bekerja. Saat menangani pasiennya tadi, ia sempat melupakan sesuatu, untungnya ada rekannya yang mengingatkan Thalita sehingga semua baik-baik saja.


Dion yang saat itu kebetulan lewat dan melihat sang kekasih, segera saja ia menghampiri Thalita yang saat ini sedang duduk di kursi ruang tunggu yang berada di depan salah satu kamar pasien.


"Sayang, kok kamu ada di sini?" Tanya Dion.


"Iya kak, aku tadi baru aja ngecek kondisi pasien di ruangan ini," jawab Thalita.


"Oh … gitu, aku dengar dari Dona katanya kamu hari ini kurang konsen ya? Ada apa? Tumben kamu nggak cerita sama Kakak?" Tanya Dion, lalu duduk di samping Thalita.


"Bude kamu? Maksud kamu ibunya Dokter Nico?" Tanya Dion untuk memastikan.


"Iya benar Kak, ibunya Kak Nico. Bude aku sekarang lagi sakit, kedua orang tua aku juga udah ada di Jakarta," jawab Thalita.


"Memang ibunya Nico sakit apa?" Tanya Dion.


"Bude terkena penyakit kanker hati stadium akhir Kak," jawab Thalita dengan sangat lirih serta air matanya yang bercucuran.


Dion tak memikirkan mereka saat ini sedang berada di rumah sakit, yang jelas dalam kondisi seperti ini dia ingin menenangkan hati wanita yang sangat dicintainya itu. Dia pun segera meraih tubuh Thalita ke dalam pelukannya.


"Sayang, kamu yang sabar ya," ucap Dion. "Terus sekarang udah di tanganin belum?" Tanyanya.


"Entahlah Kak, aku nggak tau. Soalnya kata Alexa, Kak Nico belum juga kasih tau ke Bude tentang penyakitnya karena takut Bude akan menjadi terpuruk," jawab Thalita.


"Apa yang dikhawatirkan oleh Nico itu wajar, tetapi menunda untuk melakukan pengobatan itu juga tidak baik," kata Dion.


"Iya Kak, mudah-mudahan Alexa berhasil membujuk Kak Nico untuk cepat kasih tau ke Bude, supaya Bude bisa segera menjalani kemoterapi kata," Thalita.


"Kakak doain semoga Bude kamu bisa melewati ini semua dan cepat sembuh ya," Ucap Dion.


"Aamiin, makasih ya Kak. Tapi kemungkinannya kecil Kak, Kakak tau sendiri kan Kanker itu penyakit jenis apa? Kakak nggak usahlah mencoba menghibur aku," kata Thalita.


"Penyakit mematikan sekalipun, kalau udah Tuhan yang berencana kita nggak akan ada yang bisa mengubahnya Sayang, yang penting itu kita berusaha, nggak diam aja," kata Dion yang membuat Talita itu terdiam dan tertunduk.


"Kamu mau ke Jakarta?" Tanya Dion.


Sontak saja Thalita menegakkan kepalanya dan menatap Dion, "Gimana aku mau pergi ke Jakarta Kak? Sekarang aku lagi banyak banget kerjaan."


"Percuma aja kamu ada di sini kalau kamu nggak konsen sama kerjaan kamu, lebih baik kamu pergi aja ke Jakarta supaya hati kamu lebih tenang," kata Dion.


"Kakak serius?" Tanya Thalita.


"Iya, biar aku yang minta izin buat kamu. Dan semua kerjaan kamu biar aku yang handle," kata Dion.


"Makasih ya Kak," ucap Thalita lalu memeluk erat sang kekasih.


.


.


.


.


.


Bersambung.....