Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-46



"Kelakuan? Maksudnya kelakuan yang kayak gimana?" Tanya Bagas yang memunculkan diri dihadapan Alexa dan Nico.


"Mas Bagas," gumam Alexa.


"Bagas," gumam Nico pula.


"Maaf aku kira kalian belum pulang, jadi main masuk aja," ucap Bagas.


"Gak papa, lagian kamu juga pegang kan kuncinya," kata Nico.


"Iya, jadi maksud pembicaraan kalian tadi apa ya? Bisa tolong di jelaskan," pinta Bagas.


"Ehm Mas, kita gak ada maksud apa-apa kok. Mungkin Mas salah dengar," kata Alexa.


"Kamu gak usah bohong sama Mas Lex, jelas-jelas aku dengar dengan jelas tadi waktu Dokter Nico bilang kenapa gak kamu kasih tau Bagas aja tentang kelakuan Vina," ucap Bagas.


"Kamu duduk aja dulu di sini, biar aku yang kasih tau ke kamu tentang kelakuan Vina itu," ucap Nico.


"Gak usah Kak, biar aku aja yang ngomong," kata Alexa.


Kini Bagas pun sudah duduk bersama mereka, ia sangat berharap jika Alexa dan Nico akan memberitahu ada apa sebenarnya dengan Vina, wanita yang baru saja dekat dengannya dan menjadi labuhan hatinya walaupun belum sempat untuk diungkapkan.


"Jadi Mas, Dokter Vina itu mantannya Kak Nico yang masih berharap sama Kak Nico, udah satu tahun dia minta balikan tapi Kak Nico gak mau dan akhirnya Kak Nico malah jadian sama aku," kata Alexa.


"Terus apa gara-gara itu dia jadi gak terima dan jahatin kamu?" Tanya Bagas.


"Enggak Kak, gak sama sekali. Maksud aku ya gitu aja cuma takut kalau Vina itu cuma manfaatin Mas gitu jadi pelampiasan," jawab Alexa.


"Oh … jadi cuma gara-gara itu. Gak masalah kok buat Mas. Justru Mas akan berusaha agar Vina bisa berpaling dari Dokter Nico," kata Bagas.


"Hah? Maksudnya Mas suka sama Dokter Vina ya?" Tanya Alexa.


"Itu udah jelas Lex, ngapain juga di tanyain lagi," celetuk Nico.


"Aku mau dengar langsung dari mulut Mas Bagas Kak," hardik Alexa.


"Iya Lex, kayaknya aku memang suka sama Vina," ungkap Bagas.


"Gak akan bisa di cegah lagi, udah terlanjur soalnya," bisik Nico di telinga Alexa.


"Hm … Dok," ucap Bagas.


"Panggil Nico aja, kita seumuran juga kan," kata Nico.


"Oke Nico, aku tidur di sofa ruang depan boleh kan?" Tanya Bagas.


"Loh kenapa kalian gak tidur berdua aja?" Tanya ke Alexa.


Nico dan Bagas sama-sama syok mendengar ucapan Alexa, mereka saling pandang lalu menatap Alexa dengan tajam.


"Kenapa kalian ngeliatin aku kayak gitu?" Tanya Alexa.


"Alexa tersayang, mungkin buat kalian para kaum hawa tidur berdua itu gak ada masalah, tapi bagi kami kaum Adam, itu aneh," terang Bagas.


"Apa-apaan sih Bagas pakai bilang Alexa tersayang," gumam Nico dalam hati. Meskipun sudah berusaha untuk biasa aja, tetapi tetap saja ia merasa cemburu terhadap Bagas.


"Apanya yang aneh sih, kalian juga gak ngapa-ngapain kan, atau jangan-jangan kalian kalau tidur bareng ada hasrat untuk melakukan sesuatu ya," ledek Alexa nyengir.


"Hust sembarangan aja, aku masih normal ya. Kalau sama kamu iya," kata Nico menggoda.


"Aku juga gak nafsu sama laki-laki Lex," bantah Bagas.


"Ha … ha … ha… ya udah kalau gitu terserah kalian aja deh yang atur," kata Alexa.


"Iya gak papa aku tidur di depan aja, sadar diri kok aku numpang," kata Bagas.


"Bukan numpang tapi tamu, masak iya aku biarin tamu tidur di luar," hardik Nico.


"Oh … ya udah deh kalau memang di paksa. Alexa, Nico, aku masuk dulu ya. Kalian lanjutin aja," kata Bagas.


"Oke Mas," jawab Alexa, sedangkan Nico hanya mengangguk.


*****


"Pagi, kok kamu baru sampai Ar, kesiangan ya?" Tanya Alexa.


"Iya Lex, gak tau tadi malam aku kebangun jam 2 terus gak bisa tidur lagi," jawab Arya.


"Hayo … mikirin suter Maya ya?" Ledek Alexa.


"Gak lah, apaan sih Lex. Sebenarnya aku memang mikirin masalah itu, kamu sih suruh aku cari pacar yang sefrekuensi, tapi bukan Suster Maya juga kali," kata Arya.


"Kalau Suster Maya juga gak papa kok, yang penting jangan Dokter Vina," kata Alexa.


"Siapa juga yang mau, Dokter galak kayak gitu," gumam Arya.


"Tapi bukan ini itu maksud aku," kata Alexa.


"Terus apa?" Tanya Arya.


"Mas Bagas beneran suka sama Dokter Vina," ungkap Alexa.


"Apa?" Teriak Arya yang begitu terkejut sehingga membuat para Dokter lain yang ada di ruangan itu memperhatikan mereka.


"Arya, gak usah teriak-teriak," ucap Alexa.


"He … he … he … maaf Lex aku syok banget dengarnya," ucap Arya. "Maaf ya semua."


"Gak usah syok gitu juga lah, biasa aja," kata Alexa.


"Iya Lex, tapi kok bisa sih. Kamu harus cegah Lex, kamu gak kasian apa kalau Mas Bagas tau Dokter Vina itu jahat, mak lampir," kata Arya.


"Ar, aku udah bilang kan sama kamu. Sebenarnya Dokter Vina itu gak jahat kok, cuma karena cintanya gak tergapai aja makanya jadi kayak gitu. Aku harap Dokter Vina juga bisa menyukai Mas Bagas, aku yakin sikapnya juga akan berubah lebih baik. Karena Mas bagas juga bilang kalau Dokter Vina tulus baik sama dia, bukan dibuat-buat, bahkan sebelum Dokter Vina tau kalau aku dan Mas Bagas saling kenal. Dokter Vina juga gak menjauhi Mas Bagas setelah tau aku adik angkatnya," kata Alexa.


"Tapi, apa Mas Bagas udah tau apa aja yang udah dia lakuin ke kamu?" Tanya Arya.


"Belum dan Mas Bagas gak perlu tau," jawab Alexa.


"Tapi kenapa Lex?" Tanya Arya lagi.


"Aku gak mau matahin hati Mas Bagas yang baru pertama aku lihat dia jatuh cinta Ar, aku mau liat Mas Bagas bahagia," kata Alexa.


"Tapi gak sama Dokter Vina juga lah," kata Arya.


"Ar, bukan kita yang atur perasaan mereka. Kecuali Dokter Vina mainin perasaan Mas Bagas, aku gak akan terima gitu aja," ucap Alexa.


"Hm … terserah kamu aja deh Lex," ucap Arya.


"Ya udah yuk kita periksa pasien," ajak Alexa.


"Yuk," jawab Arya. Lalu Alexa dan Arya pun melangkahkan kaki untuk pergi memeriksa pasien.


Saat ini mereka sedang berada di ruang rawat inap pasien yang terkena penyakit tumor jantung, seorang pria muda berusia 25 tahun.


"Pagi Mas Bian," sapa Arya.


"Pagi Mas Bian, gimana kabarnya hari ini?" Sapa Alexa dan bertanya.


"Pagi juga Dokter Alexa, Dokter Arya. Beginilah kabar saya, tinggal menunggu ajal menjemput," jawab Bian.


"Mas Bian, gak boleh ngomong gitu dong," kata Alexa.


"Iya nih Mas Bian, masak masih muda udah nyerah gitu," sambung Arya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....