Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-116



Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Nico yang baru saja tiba di rumahnya dengan penampilan yang sangat acak-acakan, langsung saja masuk ke dalam rumah dan mencari dimana keberadaan ibu serta kekasihnya. Saat masuk ke dalam kamar sang ibu, Nico melihat Anggi yang sedang menangis dan ditenangkan oleh Rika.


"Mas Nico," ucap Rika saat melihat Nico.


"Rika, Bunda kenapa?" Tanya Nico yang merasa bingung.


"Maaf Mas Nico, lebih baik tanyakan aja langsung sama Ibu. Biar saya keluar dulu," ucap Rika.


"Nggak perlu, kamu nggak perlu pergi dari sini Rika. Biarkan saja anak itu yang pergi dari sini!" Kata Anggi.


Nico sangat terkejut mendengarnya, hatinya mendadak pedih, ia tidak tahu apa salahnya sehingga membuat sang ibunda mengusirnya saat ini. ia pun segera saja menghampiri ibunya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Bun ada apa Bun? Kenapa tiba-tiba Bunda usir Nico? Nico ada salah apa?" Tanya Nico.


Sedangkan Anggi tetap saja tidak mau menatap ke arah Nico, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan air matanya yang bercucuran.


"Pergi kamu dari sini, saya tidak sudi mempunyai anak seperti kamu," kata Anggi dengan menahan perih di dalam dadanya.


"Tapi kenapa Bun? Apa salah Nico? Jelaskan sama Nico Bun," pinta Nico.


"Kamu benar-benar tidak tahu apa salah kamu Nico? Kamu sudah berani mengkhianati calon istri kamu, sampai calon istri kamu tidak kembali lagi ke sini. Kamu benar-benar keterlaluan Nico," kata Anggi yang kini beralih menatap wajah sang anak dengan tajam.


"Apa? Alexa tidak kembali? Alexa ke mana Bun?" Tanya Nico yang begitu terlihat sangat khawatir.


"Kamu tanya sama Bunda? Terus Bunda harus tanya sama siapa? Tadi malam Alexa pergi menyusul kamu ke rumah wanita itu, sudah jelas pasti yang dilihatnya sama persis seperti info yang dia dapatkan, makanya dia tidak kembali lagi ke sini. Pasti Alexa sangat kecewa melihat kelakuan bejat calon suaminya," kata Anggi yang terlihat sangat kecewa.


"Info apa Bunda? Maksudnya Alexa ke mana? Siapa wanita itu yang Bunda maksud?" Tanya Nico kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti akan ucapan ibunya itu.


Akan tetapi tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, apa mungkin ini semua berhubungan dengan apa yang terjadi padanya tadi malam dan membuatnya begitu syok di pagi hari? Ini semua membuat Nico benar-benar merasa frustasi. Kenapa masalah ini datang di saat dia pikir bahagia sedang berpihak di dalam hidupnya.


"Bun ada apa ini Bun? Tolong kasih tau ke Nico," pinta Nico yang mulai meneteskan air matanya. Nico bukanlah pria yang mudah meneteskan air matanya, akan tetapi kalau sudah menyangkut masalah orang-orang yang dicintainya, ia akan berubah menjadi pria yang cengeng.


Lalu Anggi pun menceritakan tentang foto yang Alexa terima dari seseorang yang tidak dikenalnya kepada Nico. Dan seperti dugaan Nico, bahwa masalahnya tentang dirinya dengan Vina yang sama sekali tidak ia sadari.


"Bun, Nico berani bersumpah kalau Nico tidak melakukan apapun terhadap wanita itu. Nico sendiri juga tidak tahu kenapa bisa berada di kamarnya dan tidur di samping Vina Bun. Memang Nico tadi malam ke rumahnya, tapi karena Vina meminta tolong Nico untuk mengobatinya, dia sakit Bun. Bahkan ada pembantunya yang menjadi saksi, tapi tiba-tiba saja setelah Nico meminum air yang dibuatkan oleh pembantunya itu, mendadak kepala Nico pusing dan saat itu juga Nico tidak sadarkan diri hingga pagi hari. Nico benar-benar tidak melakukan apapun Bun. Bunda … Bunda tau persis kan Nico itu seperti apa? Apa Bunda sama sekali tidak bisa percaya sama Nico? Tolong percaya sama Nico Bun," jelas Nico dan memohon kepada ibunya.


"Diam kamu! Sudah jelas kamu salah tapi malah menyalahkan orang lain," bentak Anggi.


"Bun, Nico yakin ini pasti ada yang nggak beres. Pasti Vina dan pembantunya itu yang sudah menjebak Nico," ucap Nico yang tak ingin menyerah menjelaskan kepada Anggi.


"Terus untuk apa kamu ke rumah perempuan itu? Kenapa kamu masih peduli dengan dia?" Tanya Anggi.


"Sudahlah Nico, lebih baik sekarang kamu cari dimana keberadaan Alexa. Bunda tidak mau sesuatu terjadi kepadanya," kata Anggi.


Di dalam hatinya, sebenarnya ia memang tidak mempercayai hal itu, tetapi apa yang harus Anggi lakukan sekarang? Ia juga memerlukan bukti bahwa Nico tidak melakukan hal yang menurutkan sangat menjijikkan. Sebelum buktinya ada, sudah jelas Nico bersalah dalam masalah ini.


Setelah mendapat perintah dari Anggi, tanpa berpikir panjang lagi Nico bergegas pergi mencari keberadaan Alexa. Pertama-tama ia menuju ke apartemen tetapi sama sekali tidak menemukan keberadaan calon istrinya. Dia juga mencari Alexa di rumah sakit, tetapi juga tidak ada. Bahkan Arya sama sekali tidak melihat Alexa di pagi itu. Nico benar-benar kalut, perasaannya begitu hancur, dia merasa sangat khawatir karena tidak tahu Alexa saat ini ada dimana.


"Sayang kamu ada dimana sih? Tolong jangan buat aku khawatir kayak gini, aku bisa jelasin sama kamu Sayang. Ini bukan salah aku," gumam Nico seraya menangis tersedu-sedu. Lalu ia pun kembali melajukan mobilnya untuk mencari Alexa.


*****


"Alexa, kamu mau ke mana?" Tanya Nathan yang melihat Alexa Saat itu sudah siap dan rapi.


"Aku mau ke rumah sakit Than. Oh ya makasih ya karena tadi malam kamu sama ibu kamu udah nolongin aku. Kalau nggak ada kalian, aku nggak tau gimana jadinya nasib aku," ucap Alexa.


"Iya sama-sama, tapi kamu nggak sarapan dulu?" Tanya Nathan.


"Iya Alexa, harusnya kamu sarapan dulu dong, Tante udah siapin sarapan tuh buat kalian," kata Cynthia ibunya Nathan yang saat itu menghampiri mereka di ruang depan.


"Makasih Tante, tapi ntar Alexa sarapan di rumah sakit aja. Alexa buru-buru banget nih harus ke rumah sakit, udah kesiangan," kata Alexa.


"Oh gitu, sayang sekali ya. Kalau gitu kamu bawa aja deh sarapannya, mau nggak?" Tanya Cynthia yang begitu sangat berharap jika Alexa mau mencicipi masakannya.


Alexa menjadi tidak enak untuk menolak, ia tidak mau mengecewakan orang baik yang sudah menolongnya serta bersusah payah menyiapkan sarapan untuknya.


"Ya udah Tante, Alexa mau," jawab Alexa menyetujuinya.


Dengan sangat senang, Cynthia segera saja menaruh sarapan yang dibuatnya kedalam wadah bekal dan dibawa oleh Alexa. Sedangkan Nathan saat itu sarapan terlebih dahulu, baru ia berangkat ke kantor. Setelah berpamitan dengan Nathan dan orang tuanya, Alexa pun segera saja pergi meninggalkan rumah Nathan.


.


.


.


.


.


Bersambung.....