Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Kehidupan Sekolah




























***


Juni sedang berjalan di kolidor lantai dasar. Buru-buru menyusul teman-temannya yang lain yang sudah berada di lab kimia.


Ia tertinggal karena sempat tertidur di kelas dan tak ada dari teman sekelasnya itu yang mau membangunkannya.


Mungkin karena sengaja, mengingat sikap Juni sebelumnya yang terkesan pongah, menyatakan ia tak butuh siapapun dengan berkata manusia adalah hama, lebih baik mereka musnah saja oleh pestisida.


Untungnya teman-teman sekelasnya tak memukulinya saat di kelas tadi, ketika ia berucap seperti itu. Karena dipikir-pikir Juni memang sableng, jadi mereka dapat memaklumi kelakuannya kali itu.


"Hey kamu," panggil seseorang setengah berteriak di belakang Juni, membuat Juni menghentikan langkahnya dan membalik badan untuk memastikan apa memang dia yang dipanggil.


"Eh, kak Kiara. Kenapa?" tanya Juni memberi senyum. Senyum yang sekarang nampak menawan di mata Kiara, membuat pipi gadis berusia 17 tahun itu memerah tanpa disengaja.


Dengan malu-malu Kiara pun menyerahkan sebuah amplop cantik yang tercium wangi sembari menunduk.


Setelah Juni menerimanya, Kiara pun berlari pergi dengan kaki-kaki kecilnya.


Juni yang bingung hanya membolak-balikan amplop itu seperti orang bod#h.


Saat ia akan membuka isi amplop itu, ia tersadar, ada seseorang yang sedang memperhatikan dari ambang jendela ruang kelas yang terletak tepat di sampingnya.


"Lo ngapain liat-liatin gue?" tegur Juni sembari berkacak pinggang, pada sosok yang ternyata adik kelasnya, Benni.


"Kaga, gue kaga ngeliatin," elak Benni sembari mengupil. "Betewe, lo ngapain hari senin pake baju pramuka?" tanyanya mengerutkan kening.


"Lah suka-suka gue. Mau pake baju pramuka kek, mau pake mukena kek! Madrasah buat lo?!" dengus Juni sewot.


"Dih, kaga kebeli seragam musim semi lu?" tanya Benni, julid.


"Gak butuh gue. Pake ini aja gue udah keren banget, Subhanallah," ucap Juni, meninggikan dagu dengan sombong.


"Alah miskin," ejek Benni, kemudian menutup jendela tanpa etika.


"Biarin miskin, yang penting belah tengah!" balas Juni sambil berteriak. Lalu ia langsung berlari, sebab teriakannya membuat seorang guru di kelas lain keluar, sudah berniat akan mengomelinya.


***


Di lab kimia, Dante memilih tempat duduk di ujung kiri yang dekat dengan pintu. Ia sengaja memilih spot itu agar cukup jauh dari tempat duduk dimana Valen berada. Entah kenapa ia merasa harus menjauhi gadis cenayang itu selamanya.


Ketika ia melakukan semua itu, seluruh tatapan tertuju padanya. Tatapan yang kagum, iri dan terpesona. Bukan pada hasil percobaannya, melainkan pada paras dan rupanya yang semakin tampan dan luar biasa, karena seragam lab putih bersih yang ia kenakan membuat ia seperti seorang peneliti profesional yang menggoda.


Jengah dengan suasana itu, William hanya bisa menghela napas.


Sembari mencatat hasil kerja, ia pun menegur teman sekelompoknya untuk fokus pada percobaan mereka sendiri, bukannya melakukan hal yang tidak penting seperti memandangi objek yang tidak berkaitan dengan pelajaran.


Di saat itu pula, Juni dengan menjinjing sepatu, mengendap-endap masuk dan menyelinap duduk di sebelah William.


"Lo ngapain, hah?" tegur William tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya.


"Gue di sini ya Will. Gue belum kebagian kelompok," pinta Juni dengan wajah cengengesan.


"Gak," tolak William singkat.


"Plis Will, entar gue kasih nomor WA tante gue," bujuk Juni, memelas.


"Ogah, buat apa," tolak William lagi.


"Nomor WA adek gue deh. Yah! Yah! Yah!" mohon Juni sembari menggosokkan kedua tangannya menyatu.


"Katanya gak butuh siapa-siapa. Katanya gak tertarik temenan sama siapapun. Katanya gak butuh satu kelompok sama oe. Sekarang kenapa jilat ludah sendiri?" sindir William ketus.


"Yaelah lo. Gue becanda doang itu. Plis lah, entar gue beliin poster Power-chan dah," bujuk Juni lagi.


William terdiam, menatap Juni sesaat, lalu beralih lagi pada buku catatannya. "Oke," ucapnya setuju.


"Sip. Terus gue mesti ngapain nih?" tanya Juni sembari mengamati gelas-gelas kimia dengan cairan biru dan oranye di hadapannya.


"Cuci gelas sana, itu tugas lo. Cuci gelas yang udah gak dipake," titah William. "Anyway, kenapa lo belum pake jas lab? Malah pake seragam pramuka. Seragam yang lo pake tadi juga kemana?" tanyanya heran.


"Kemeja gue ketumpahan tinta yang di atas meja pas gue tidur. Jadi gue pake aja seragam yg ada di loker," jelas Juni.


"Btw, pas gue perjalanan mau ke sini, gue dapet surat cinta Will, hehe..." ia terkekeh dengan ekspresi konyol dan agak mesum.


"Lo cuci gelas sekalian cuci muka sana. Masih ngelindur kayanya lo," sahut William.


"Ih gak cayaan lo. Nih baca!" akhirnya Juni menyodorkan amplop yang ia keluarkan dari saku celana kepada sahabatnya itu.


William pun mengambilnya. Namun, ia menghela napas sebelum membacanya, begitu nampak sangat-sangat meremehkan.


Ketika ia membaca paragraf pertama dalam surat itu, William sontak tertegun sembari menutup mulutnya dengan satu tangan.


Lalu ketika ia membaca paragraf selanjutnya, kedua mata William terbuka begitu lebar dengan ekspresi horor.


Di paragraf yang lain, tangan William mulai bergetar, tak bisa ia dikendalikan.


Dan ketika ia merasa sudah tak mampu lagi membaca surat itu, ia pun bangkit dari kursi kemudian menghampiri tempat duduk sahabatnya yang satu lagi, Dante.


"Dan! Dan! Dan!" seru William sembari menepuk bahu Dante dengan heboh.


"Apa?" tanya Dante menoleh dengan ekspresi datar yang keren.


"Lo bisa tau tulisan tiruan kan? Coba lo periksa dan kasih tau oe kalo ini palsu, cuma buatan, cuma ada-ada, rekayasa! Cepet Dan!" ujar William, nampak begitu panik.


Tanpa curiga Dante pun membaca kertas yang William serahkan padanya.


Ekspresi Dante pun seketika berubah total, manakala telah membaca huruf demi huruf dalam surat itu. Ia sepertinya shock dengan apa yang tertulis di dalamnya.


"Will..." ucap Dante dengan sedikit tercekat. "Ada berapa siswa di sekolah kita yang bernama Juni?" tanyanya.


"Oe harap juga ada Juni lain di sekolah kita Dan," sahut William nampak ingin menangis.


"Bagaimana dengan tupai liar yang ada di taman sekolah? Dia sering terlihat di bulan Juni, mungkin dia juga bernama Juni," ucap Dante. Mencoba mencari hal yang bisa dipakai untuk membantah kenyataan dihadapannya.


"Gak Dan. Mana mungkin ada orang waras yang nulis surat cinta buat tupai.


Tupai juga gak mungkin bisa bales suratnya, karena dia gak bisa baca, apalagi nulis," ucap William. Ia telah pasrah pada nasib kejam yang baru saja menimpanya, karena harus mengakui bahwa, temannya yang sejenis dengan kue putu itu ada yang naksir.


"Nonsense," ujar Dante.


Kepalan tangannya menggebrak meja. "Kesulitan apa yang dialami senior Kiara sampai naksir manusia tercela itu?" tanyanya geram, karena ini bukan sesuatu yang bisa di nalar oleh akal sehat.


"Mungkin dia sakit mata dan hampir buta, atau dia diguna-guna," duga William.


"Guna-guna?" Dante mempertegas kata itu.


Keduanya pun kini saling pandang, seakan memikirkan hal yang sama.


"Oe yang pegangin, lo yang pukul?" ucap William, setengah berbisik.


Dante mengangguk setuju.


Mereka sepertinya berencana menginterogasi Juni dengan kekerasan.


Bersambung...