Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Devil Birth



Hanya melihat cara makan Lita yang aneh, Dante telah mengetahui bahwa gadis di hadapannya itu pernah menjalani praktik ilmu hitam.


"Makan pelan-pelan saja. Gak akan ada yang mencurinya dari lo," ujar Dante sembari terus memperhatikan, membuat gadis itu nampak sedikit malu dan agak terkesima.


Sementara itu Hans berdiam sendirian di pojokan sembari menggigiti kukunya. Ia nampak shock dan bibirnya tak mampu berkata-kata.


Ia bahkan tak mempedulikan alas duduknya yang kotor dan berdebu saat ini. Bukan waktunya untuk mempermasalahkan itu.


Dante yang masih memperhatikan Lita, tiba-tiba mengulurkan tangan dan dengan lembut mengusap butiran nasi yang tertempel di pipi gadis itu.


Tanpa bertele-tele ia pun bertanya,


"apa yang lo tawarkan pada iblis untuk tidak bisa mati?"


Mendengar pertanyaan dari pemuda tampan di hadapannya itu, membuat Lita melengkungkan senyuman. Senyuman yang ia kira adalah senyuman manis, namun kenyataannya menjadi sesuatu yang terlihat jahat.


Dengan masih mengunyah makan malamnya, Lita mulai menjelaskan bagaimana ia mengorbankan adiknya sendiri yang meronta di atas piring untuk disajikan pada iblis. Sebagai bayaran agar bisa mendapat kehidupan yang abadi, tanpa bisa mati.


Meski umurnya akan tetap bertambah juga pada akhirnya. Dan meski dia tau ia akan tetap menua dan hidup beribu tahun dengan tubuh yang tak bisa tetap muda selamanya. Tapi ia mengambil resiko itu agar tak ada yang bisa membunuh atau menghukum mati dirinya.


Dante tersenyum kecil setelah mendengarkan.


"Orang yang menyekap lo sepertinya kesulitan membunuh lo berulang kali," ujarnya seraya menyeka jemari kiri Lita yang berlumuran darah dengan sapu tangannya.


"Jadi sistem pernapasan spesial yang lo bilang bohong?" tanya Hans pada Lita, seraya bangkit berdiri.


"Bagaimana lo bisa percaya kebohongan itu?" tanya Dante. Nada bicaranya seakan sedang mencibir.


"Lo sendiri, bagaimana lo tau dia bersekutu dengan iblis?" Hans berbalik bertanya.


"Gue melihat tato di pergelangan tangannya. Tato bergambar hiu namun dengan gigi iblis," terang Dante.


"Dan cara makannya... bahkan satu ember nasi belum bisa membuat dia kenyang. Jika bukan kerasukan, ia pasti menjual jiwanya pada iblis," sambungnya.


"Lalu mau lo apakan dia? Bukan kah seharusnya kita lapor Polisi?" ujar Hans. Nampak masih ada perasaan panik dalam dirinya.


"Dia lebih berguna untuk kita daripada harus diserahkan kepada Polisi," ucap Dante. Sesaat terlihat kilatan merah pada matanya.


"Tapi dia pembunuh. Dan... sekutu iblis. Dia, dia... gue tidak bisa biarkan dia lolos. Ah, gue akan membacakan do'a yang gue hapal saja. Mungkin akan membuat dia lenyap," ujar Hans, asal bicara.


"Do'a? Apa lo mengira itu akan berhasil? Dia masih manusia," timpal Dante, meremehkan.


"Jangan sepelekan do'a!" seru Hans, tak terima.


"Begini-begini, dalam diri gue, ada bekal agama! Gue ini tamatan Iqro 3 dan sudah menguasainya!" Hans mencoba pamer meski hal itu bukan sesuatu yang seharusnya dipamerkan untuk pria seusianya.


Dante ikut mentertawai, dengan ekspresi yang seperti mengatakan, "dasar bodoh."


"Jangan tertawa! Akan gue buktikan kalau do'a yang gue panjatkan akan mempan!" seru Hans, nampak begitu percaya diri.


"Coba saja. Mari kita lihat apa itu berefek pada gue juga atau tidak," tantang Dante, tak kalah percaya diri.


Hans mengernyit.


"Maksud lo apa?"


"Ada hal yang gak pernah gue katakan pada orang lain," ucap Dante. Ekspresinya tiba-tiba menjadi misterius.


"Hal apa?" tanya Hans. Ia terpicu untuk penasaran.


Dante lalu menjelaskan dengan masih memajang ekspresi yang sama.


"Saat melahirkan gue, ibu gue hampir meninggal dan seharusnya gue pun mati."


"Oh, betapa mengenaskannya." Hans terlihat tidak serius menanggapi.


Dante melanjutkan.


"Kelahiran prematur dan komplikasi yang muncul terlalu banyak untuk bentuk rapuh gue saat itu. Yang membuat gue seharusnya tak selamat."


"No way.


(Tidak mungkin)," sahut Hans, terlihat tak mempercayai meski Dante mengatakan hal itu dengan wajah serius.


"Yes way," balas Lita sembari mengunyah tulang ayam.


Dante berdehem. Kemudian melanjutkan. "Menurut lo, bagaimana gue bisa berhasil keluar dalam kondisi hidup dalam ruang operasi?"


"You know i can't understand s**t, right?


(Lo tau gue tidak mengerti apa-apa, kan?)" ucap Hans, seperti mengalihkan tanggung jawab untuk menjawab.


Bersambung...