
***
Pikiran Dante dipenuhi dengan lamunan mengenai semua hal yang ingin ia lakukan dengan adiknya.
Lima ratus hal yang sudah ia persiapkan.
Namun, ia cemas semua hal itu tak akan pernah bisa terealisasikan.
"Menjalani hubungan jarak jauh, sulit memang. Tapi itu bukanlah akhir dunia," nasehati Valen pada Dante yang terlihat tak bersemangat dengan terbaring di ranjangnya sembari mengurung adiknya yang demam dalam pelukan.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur ke luar kota dengan membawa serta adik lo. Itu hanya akan memperburuk situasi," sambung Valen, namun Dante tak menyahuti sama sekali.
Valen kemudian beralih ke ranjang di sebelah Dante, dimana William berada.
William sedang mengacak-acak rambutnya frustasi di sana, berduka atas ponselnya yang sudah tak bisa diperbaiki lagi.
"Istri lo baik-baik saja, lo gak perlu khawatir. Yang tiada bukan dia, tapi hanya hp lo, semangat," ujar Valen menyemangati. Namun ekspresinya berkata lain, seakan mengatai, "dasar wibu." Membuat William merasa begitu pedih.
Valen kemudian berlalu pergi meninggalkan room ke-3 teman prianya itu.
Juni menyusul untuk mengantar, sekalian mencari cemilan yang disediakan hotel.
Karena siang ini mereka tak jadi diijinkan pulang.
Polisi mengatakan pelaku meninggalkan pesan ancaman bahwa ia akan menghabisi seluruh korban yang berhasil selamat selagi ia belum tertangkap.
***
Pukul 12 malam, Agie terbangun di dalam buaian.
Ia meletakan jari telunjuknya ke pipi Dante berkali-kali dengan sentuhan lembut, berusaha untuk membangunkan kakaknya itu.
"Hmm?" Dante berhasil terbangun, meski matanya masih terpejam.
"Akak pee... akak pee..." ujar Agie, ia minta popoknya di ganti karena merasa sudah tak nyaman.
Dante pun bangkit, menggeledah tas, mencari popok baru untuk adiknya kemudian menggantinya.
Setelah itu ia tidur lagi.
Tapi Agie masih terjaga.
Ia pun membangunkan kakaknya lagi. Kali ini ia menarik rambut kakaknya sampai si kakak terbangun.
"Akh... sakit, akh..." Dante meringis. Ia lalu memegangi tangan kecil adiknya agar berhenti menarik rambutnya.
"Apa, hmm?" tanya Dante lembut sembari mengecup punggung tangan adik bayinya.
"Akak, iat akol maw iat," pinta Agie yang sudah memegangi ponsel Dante.
"Drakor? Drakor bukan tontonan bayi," ujar Dante, mengambil ponselnya dan menjauhkan dari Agie.
"Udi buti? Iat iat," pinta Agie lagi.
"Rudy Tabootie belum tayang, Agie. Ini masih jam 12 malam. Ayo tidur lagi," ucap Dante dengan suara kantuk sembari menepuk-nepuk adiknya agar kembali tidur.
"Nghhhnghhhhng..." Agie merengek, karena ia merasa bosan.
"Hmm... ini main dengan ini ya. Kakak sungguh mengantuk," ujar Dante, memberikan plastik popok yang belum ia buang.
Hanya dengan itu Agie pun tak menganggu Dante lagi. Karena Dante sangat tau bahwa plastik popok adalah mainan terbaik yang bisa menyibukkan bayi seumuran adiknya.
Sraaakkk... Sreeekkk... Sraaakkk... Sreeek...
Sraaakkk... Sreeekkk... Sraaakkk... Sreeek...
Sraaakkk... Sreeekkk... Sraaakkk... Sreeek...
"Hoaamm..." Suara gemerisik plastik popok yang dimainkan Agie membuat Juni terbangun.
Juni pun bangkit untuk memeriksa suara yang didengarnya itu.
Dan ia langsung menyadari bahwa suara itu berasal dari adik temannya yang tidur di jajaran ke dua ranjang sebelahnya.
"Belom bobok kamu?" tanya Juni pada biang suara itu.
Agie hanya menjawab dengan senyum menggemaskan dan semakin antusias bermain dengan plastik popok yang ada di genggamannya.
Juni lalu mengecek ponselnya, jam menunjukkan pukul setengah 1 pagi.
Ia lalu bangkit keluar dari kamar, berniat meminjam sarung pada pihak hotel untuk menunaikan shalat malam.
"Angan! Iyu iyu!" ujar Agie saat melihat Juni membuka pintu.
Tapi Juni yang masih setengah mengantuk tak menggubris dan pergi begitu saja.
Agie lalu turun dari ranjangnya, merangkak dengan masih menggenggam plastik popok di tangannya dan ke luar dari kamar melewati pintu yang tidak Juni tutup dengan rapat.
Agie merangkak menulusuri lorong hotel. Karena dia sudah expert dalam merangkak, ia bisa dengan cepat menyusul Juni. Tapi Juni masih tak menyadari kalau ada bayi yang sedang membututinya.
Kriieeettt...
Sebuah pintu terbuka, menghalangi laju Agie.
Agie terduduk di situ. Menunggu pintu yang menghalanginya tertutup.
Namun pintu itu belum juga tertutup. Justru menampakan sosok Raka yang ke luar dari dalam sana.
"Boo," ujar Agie jail, sembari mengangkat kedua tangan.
"Tu-Tu-Tuyuuuuuul," pekik Raka dan kembali masuk dengan membanting pintu.
Agie cekikikan karena berhasil membuat orang yang lebih besar darinya ketakutan.
Ia lalu kembali merangkak menulusuri lorong, meski telah kehilangan jejak Juni.
Ting...
Lift di sampingnya tiba-tiba terbuka. Perlahan memperlihatkan sosok siswi berbaju merah dengan kapak yang masih menancap di bahunya.
Rambutnya berkibar dengan wajah kesedihan dan mata yang sayu.
Agie menatap siswi itu dengan mata kagum.
"Akak thantik," ucapnya. Tidak peduli betapa mengerikan wujud yang siswi itu tampakkan, rupa dari siswi itu tetaplah cantik.
Agie pun merangkak menghampiri penampakan itu, membuatnya memasuki lift.
Lift kemudian tertutup, menekan tombolnya sendiri di angka 30.
"Akak, akak, akak," ujar Agie pada sosok siswi itu seakan minta untuk digendong.
Siswi itu kemudian berjongkok di depan Agie dengan senyum yang ia sematkan.
Ia berpikir mungkin bayi kecil di hadapannya ini akan cukup menyenangkan untuk diajak bicara.
Ia kemudian membisikan sebuah kisah di telinga Agie, sebuah kisah bahagia namun berakhir dengan air mata.
***
Malam yang menyesakkan dan udara yang dingin di sebuah kolidor sepi. Di depan jendela terbuka, Rey terduduk sendiri menggenggam bunga berwarna kuning dengan seutas tali di pangkuannya.
Ia menatap ponsel, menonton video tutorial bagaimana cara menyimpul tali untuk gantung diri yang baik dan benar, dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya.
"Sraaakkk... sreeekkk... sraaakkk... sreeek... khi... khi... khi..." suara cekikikan bayi disertai suara gemerisik menarik fokusnya.
Seketika ia merasa merinding.
Karena di tengah malam, ia mendengar suara bayi, itu tentu saja sudah pasti hantu.
Tapi, karena dia adalah pria dan ia merasa pria seharusnya tak takut hal-hal seperti itu, ia pun mengumpulkan keberanian untuk mencari asal suara itu.
Ia lalu beranjak bangkit dan melacak suara itu dalam keheningan.
"Sraaakkk... sreeekkk... sraaakkk... sreeek... khi... khi... khi..."
Suara itu semakin dekat, menggema di antara dinding dingin dan ruang yang sepi, mengarah ke lorong sebelah kanan.
Rey perlahan mengintip di balik dinding dan mendapati sosok bayi yang sedang merangkak di tengah kolidor, dengan plastik popok yang tersangkut di kaki kirinya.
"Paw-paw!" seru bayi itu saat menyadari kehadiran Rey.
Rey berhenti mengintip dan menunjukkan diri seluruhnya pada bayi itu.
"Where's your mom?" tanya Rey, namun ia masih ragu untuk menghampiri bayi itu, karena bisa jadi itu sungguhan hantu.
Bayi itu mengarahkan telunjuknya ke arah belakang Rey.
Rey spontan menoleh ke belakang, namun dimatanya tak ada siapapun di sana.
Ia kemudian menghadapkan diri pada si bayi lagi, namun bayi itu sudah tak ada di tempatnya.
"Angan, angan," ujar si bayi yang sudah berdiri sembari berpegangan pada kaki Rey dan mencoba menarik seutas tali yang digenggam Rey.
Rey langsung terkejut dan tersungkur ke belakang karena ulah bayi itu yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya.
"Paw-paw, angan! Icca-icca iat! Angan, angan!" celoteh si bayi, mengarahkan jari seperti sedang mengomel.
"Wh-what's?" Rey terperangah mendengar ucapan kurang jelas si bayi.
Ia lalu ingat kembali, bahwa Paw-paw adalah nama panggilannya yang diberikan oleh kekasihnya dan Icca-icca adalah panggilan darinya untuk kekasihnya. Tapi itu sudah jarang mereka gunakan karena Hans selalu meledek mereka. Jadi, seharusnya tak ada yang tau panggilan itu lagi.
Rey kemudian menatap bayi di depannya dengan intens dan bertanya, "who are you?"
"Ag-gie," ujar si bayi memperkenalkan diri sembari memasukkan jari ke mulut.
"Tidak, maksudku---"
"Aku berada di depanmu, aku di sini."
Rey spontan menoleh ke segala arah dengan wajah terkejut.
Ia yakin, ia baru saja mendengar sesuatu.
Suara pelan yang beriringan dengan hembusan angin dan hawa dingin.
Tapi tak ada seorang pun di sana, kecuali dirinya dan bayi di hadapan--
"Babay," ucap si bayi berpamitan sembari membawa serta tali rampasannya. Ia sudah merangkak pergi sejak tadi.
"Hey, wait," ujar Rey kemudian berjalan menyusul untuk bertanya mengenai sesuatu yang masih mengusik pikirannya.
Bersambung...