
Ryan menatap bayangannya di dinding kaca.
Pantulan dirinya terlihat dingin dan menyeramkan dengan senyum miring yang ia sematkan.
"Lo emang bego. Kalo lo bisa ngatur hidup lo sendiri gue gak akan muncul," ujarnya bicara sendiri.
"Buat apa lo muncul kalo cuma bisa lemparin banci sembunyi tangan!" seru Ryan sembari menggebrak dinding kaca di hadapannya, matanya menunjukkan ketakutan dan kemarahan.
Namun pantulan dirinya terlihat biasa saja dengan senyum miring yang masih ia gunakan.
"Banci tadi gangguin lo kan? Jadi apa salahnya gue kasih dia pelajaran? Lita udah sukarela ngurus sisanya buat lo. Jadi, apa yang lo khawatirin?
Dan Dante yang akan disalahkan. Untung aja bocah berisik tadi ngajak dia ke kolam renang. Hansel pasti bakal makasih sama lo."
Ryan terdiam.
Pikiran bawah sadarnya otomatis memutar ulang kejadian yang baru ia alami hari ini.
Ketika itu, ketika teman-temannya berpencar entah kemana, Ryan diganggu oleh Xiaoli. Anak kelas 3Z yang tak mengakui jenis kelamin bawaan lahirnya.
Dia laki-laki, namun berdandan layaknya perempuan. Memanjangkan rambutnya, memakai riasan, mengenakan rok mini dan tanktop seksi.
Karena kesal terus digoda, sang Alter Ego-nya pun muncul untuk membantu.
Ia melempar kursi besi hingga menghantam Xiaoli dan membuatnya terkapar tak berdaya.
Ia lalu menyeret Xiaoli pergi.
Meski banyak saksi yang sudah melihat kejadian itu, Ryan merasa tak peduli.
Namun, ketika ia sedang berusaha menyembunyikan tubuh Xiaoli di belakang stand figure dengan Tuan Takur sebagai model iklannya, ia tak sengaja melihat Lita.
Di sana, di lorong yang minim cahaya, dengan deretan kios-kios yang tertutup rapat, Lita secara membabi buta menggigit seorang pria hingga tenggorokannya terluka, setelah sebelumnya ia menghancurkan kepala dan bahu pria itu dengan palu yang masih berada di genggamannya.
Ryan yang melihat itu tak ngeri ataupun heran. Ia justru terpukau, Lita bisa melakukan hal sesadis itu sendirian.
Ryan sangat tau kalau Lita memiliki sindrom kegilaan.
Karena ia pernah berpapasan dengan Lita saat berobat di salah satu klinik pengobatan kejiwaan.
Dan saat itu Lita mengakui ia memang mengalami gangguan jiwa. Dimulai sejak ia mengenal Hans.
Ia terobsesi dengan Hans dan mencari perhatian dengan melakukan pembunuhan.
Karena Hans pernah mengatakan bahwa dia mengidolakan pembunuh berantai di serial horor yang selalu ia tonton.
Cara Hans mengagumi tokoh-tokoh fiksi di film horor tersebut membuat Lita berharap Hans akan mengaguminya juga.
"Oi," ujar Lita. Ia sudah menyadari kehadiran Ryan yang memperhatikannya.
Mereka beradu pandang sejenak.
Ryan kemudian memberi senyum, lalu menawarkan Xiaoli sebagai hadiah untuk dijadikan korban Lita selanjutnya.
Lita menerima tawaran itu.
Ia mendekat dan meneliti tubuh Xiaoli. Perut Xiaoli terlihat bergerak, menandakan ia masih bernapas.
"Darahnya harus dialirkan ke luar sampai tubuhnya menegang, supaya mudah dipotong," ujar Lita santai.
"Tapi terlalu berantakan jika di sini," sambungnya.
Dan seperti itu lah kronologi kejadiannya, dari mayat seorang yang diduga adalah wanita, bisa berada di kolam renang kosong dengan beberapa anggota tubuh yang termutilasi.
***
"Apaan ngab?" sahut Ryan, kemudian menghampiri.
"Ada orang gila lari-lari cuma pake boxer di luar," ujar Raka memperhatikan situasi di luar jendela.
"Kasihan ya, mana masih muda," sahut Ryan.
"RUN! RUN! RUN!" pekik Rey berlari dengan telanjang dada sembari memegangi lehernya yang terluka.
Ia menabrakkan dirinya pada Ryan dan Raka, membuat mereka bertiga melompat ke luar dari jendela bersamaan.
Duaaaaaarrrr...
Dalam sekejap udara panas dari ledakan gas memenuhi lantai dasar.
Jeritan dan lolongan minta tolong terdengar berdampingan dengan suara alarm kebakaran.
Seluruh kaca di lantai dasar pecah, kios-kios bermaterial kayu runtuh dan menimpa para pegawai yang masih stand by di sana.
Mereka terpanggang hidup-hidup tanpa sempat menyelamatkan diri.
Meski begitu, Ryan, Raka dan Rey... ke-3 R itu berhasil ke luar hidup-hidup meski mengalami beberapa patah tulang dan juga luka ringan.
***
Polisi berlalu-lalang mengamankan TKP dan menanyai para saksi yang berhasil hidup.
Hans yang baru saja bebas dari terkurung di sebuah stand kosong di lantai 7 pun dibuat bingung, karena sudah ditodong pertanyaan-pertanyaan oleh Polisi atas kematian beberapa teman seangkatannya.
Hans benar-benar tak tau sama sekali dan ia tak pernah membayangkan itu akan terjadi.
Ia datang kemari hanya berniat menjebak Dante. Tapi bukan jebakan dengan adanya korban jiwa, apalagi korbannya adalah teman-teman satu angkatannya sendiri.
Satu-satunya korban jiwa yang dia inginkan adalah rivalnya itu.
Dia ingin setidaknya Dante mematahkan kakinya karena terjatuh dari eskalator atau semacamnya.
Tapi Dante sendiri tak luput dari interogasi. Bahkan beberapa detektif mencurigai Dante. Karena hampir di setiap kasus yang mereka kerjakan, selalu ada Dante yang hadir untuk menonton. Ia layaknya tata surya yang menaungi kejahatan.
Namun Dante memiliki alibi yang kuat. Karena rekaman CCTV menunjukkan bahwa Dante tak pernah sendirian lama-lama saat setelah memasuki gedung.
Rekaman CCTV pun menunjukkan di saat pelaku yang mengenakan jas hujan hitam melakukan teror bunuh diri, Dante sedang bersama dengan teman-temannya, melompat ke dalam air.
Meski begitu, Polisi tetap curiga. Karena ada berapa rekaman yang terpotong dan rusak. Seakan memang sengaja dilenyapkan untuk menghilangkan bukti.
***
Di dalam ambulan, Ryan bergumam sendiri. Ia terus mengulang perkataan hal yang sama.
"Bukan gue, bukan gue, bukan gue, bukan gue."
"Yan," tegur Raka dengan gips yang terbalut di kedua lengan.
Ryan pun menggerakkan lehernya yang sakit perlahan untuk menoleh.
"Lo kenapa?" tanya Raka.
"Tadi gue kentut. Tapi gue gak mau ngaku," ujar Ryan mencari alasan.
Raka memicingkan mata. Menggigit lidahnya untuk menahan diri agar tak mengumpat.
Bersambung...