Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Hari normal



Wujudnya hanya berbentuk tubuh. Ia mencoba berjalan dengan tangan yang hampir putus. Sementara kepalanya tergeletak di sampingnya. Bertanya apakah Juni bisa membantunya untuk menggunakan toilet apa tidak.


Setelah cerita itu menyebar, orang-orang yang awalnya hanya bergosip tentang Valen kini beralih dengan topik penampakan yang dialami Juni. Mengkaitkan dengan salah satu korban yang terbunuh tragis di tangan Lita.


Dante sempat berpikir dan tak percaya bahwa kejadian yang dialami Juni hanya kebetulan. Ia merasa mungkin Valen sudah merencanakan ini agar orang-orang bisa berhenti menggosipkannya. Tapi Dante tak mempermasalahkan atau menyalahkan Valen. Bukan urusannya jika terjadi apa-apa pada Juni.


Daripada menginterogasi Valen untuk mendapatkan penjelasan, ia saat ini justru sedang asik bermain ular tangga di pojok kelas bersama anak-anak lain. Juni yang sudah melupakan kejadian yang baru ia alami tadi pagi pun ikut bermain dengan mereka.


"Eh, turun lo! Lo berhenti di ular!" seru Juni pada anak kurus berwajah pucat seperti 'pemakai', bernama Andrian.


"Ini ularnya mingkem, jadi gak apa-apa," elak Andrian.


"Mana bisa gitu! Aturan darimana lu!" protes Juni.


"Iya, iya." Andrian pun mengalah karena melihat tatapan Dante yang seperti mengancam nyawanya. Ia pun pasrah dan meluncurkan pionnya turun.


Kini giliran Juni mengocok, namun fokusnya teralihkan pada Dira yang sedang menata rambutnya dengan roll, kemudian menebalkan bedaknya dan menggunakan lipstik yang semerah darah. Ia seperti itu karena ingin ikut serta dalam kontes kecantikan yang akan diadakan kelak.


"Si j*bl*y ngapain," celetuk Juni.


"Berisik lo! Muka kaya pedagang singkong sok ngatain orang j*bl*y!" balas Dira.


"Dih, bukan kaya, emang gue dagang singkong. Sekilo dua ribu lima ratus. Mau beli gak lo?" tawar Juni.


"Murah banget. Dapet untung lo?" tanya William dengan tawa.


"Dapet lah," sahut Juni.


"Emang gak rugi lo jual segitu?" tanya Felix, sosok siswa yang betah dengan gaya rambut belah duanya.


"Kaga lah. Yang rugi yang punya kebon," ungkap Juni.


"Bentar..." William loading sesaat. "Lo nyolong ya?" tebaknya.


"Iyalah," jawab Juni santai.


"Parah banget. Bangga lagi lo," cibir Dira.


"Jelaslah," ucap Juni.


"Gak beres emang lo," gumam William, menggelengkan kepala.


"Cepat Jun," tegur Dante yang masih menunggu giliran.


"Sabar napa sih," gerutu Juni.


"Buset, siapa tuh pesen paket pake alamat sekolah," pekik Juni seakan ingin satu kelas tau.


"Pakeeeeet COD skincare atas nama mbak Nadira Ariesta," ucap kurir itu lagi.


"Sarap lo pake alamat sekolah!" seru Juni pada Dira.


"Suka-suka gue. Weeek..." Dira memberi ekspresi meledek dengan menjulurkan lidah dan menarik bawah mata kirinya seraya menghampiri sang kurir.


"Ckck..." decak Juni tak habis pikir.


"Lama!" Dante yang geram menendang papan ular tangga hingga berantakan, lalu kembali ke kursinya. Sementara yang lain hanya bisa diam dan melongok.


"Lo sih, Jun," tegur William dan berinisiatif lebih dulu membereskan papan ular tangga itu. Mereka semua lalu melanjutkan permainan meski tanpa Dante, karena ia sudah tak ingin ikut bergabung.


***


Di sudut lain sekolah, di sebuah ruangan kelas bertema Kpop, terlihat anak-anak kelas 1 sedang bergaduh.


Pelopor kegaduhan itu adalah Benni, ABG labil itu marah karena celana renangnya hilang saat akan digunakan di jam pelajaran olahraga. Siswa yang lain pun mengaku kehilangan celana renang mereka juga di saat yang bersanaan.


"Ngaku lo Yog!" tuduh Benni pada teman sekelasnya Yoga, si siswa berambut ikal dengan kawat gigi ungu terang.


"Bukan gue!" sangkal Yoga.


"Lo udah h#m#, klepto!" maki Benni dengan urat-urat wajah yang menonjol jelas.


"Lo kali yang h#m#!" balas Yoga, tak terima.


"Jangan gak ngaku lo! Emangnya siapa di sini yang gak tau lo h#m#! Bangs** lagi!" murka Benni sembari menggebrak meja dengan kaki.


"Dia gak h#m#," bela Nonik. "Cowoknya yang h#m#," lanjutnya.


Benni terdiam sesaat. Otaknya mencoba menelaah ucapan gadis oneng tersebut. Merasa menanggapi Nonik hanya membuang waktu, ia pun kembali marah pada Yoga. "Ngaku buru lo, h#m#!"


"Ngaku apa, gue gak ambil," sahut Yoga. Wajahnya menunjukkan ia ingin menangis.


Bayu yang jengah pun menghampiri dan berbisik pada Benni.


Benni kemudian terdiam. Ia lalu berjalan keluar kelas dan diikuti anak-anak lain.


Bersambung...