
Erika merasa sudah sampai diakhir hidupnya.
Penyakit yang dideritanya sangat membuat kondisi tubuhnya semakin memburuk.
Ia terbaring di lantai. Matanya tak terpejam, ia tak pingsan. Ia hanya sekarat dan menunggu seseorang untuk datang menolong.
Agie yang kebetulan merangkak melintasi kamar Erika melihat itu.
Agie duduk di depan pintu terbuka dan memperhatikan tubuh Erika yang sudah melemah.
Agie membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menghampiri.
Karena Erika selalu memarahi jika Agie memasuki kamarnya. Sebab tangan kecil Agie tak bisa berhenti mengacak-ngacak barang milik saudari angkatnya itu.
Nafas Erika menjadi berubah. Kakinya mati rasa. Kepalanya juga sakit. Dia merasa kewalahan meski hanya terbaring di lantai sejak tadi.
Menyaksikan itu pun Agie terlihat gelisah dan hampir menangis. Bayi itu merasa tak tega meski Erika selalu memarahi dan melotot padanya, bahkan sering memberi sikap seakan menghina.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Agie pun bergegas merangkak mencari ibunya, untuk memberitahu kondisi Erika yang sudah sangat memprihatinkan.
"Mum-my... mum-my... mum-mum-mum-my," ujar Agie memanggil-manggil. Ia nampak menangis saat mengambil langkah pertamanya untuk mencari pertolongan.
***
Dira menemukan Dante di sebuah Club's malam pribadi.
Dante terlihat sedih sembari menenggak minuman dari botol yang ia genggam.
Di sekelilingnya ada banyak wanita yang tengah berkelahi dan berebut untuk menemaninya.
Sepertinya tanpa sadar Dante menghubungi semua wanita itu dan berhasil membawa mereka kemari. Ia mengira ia hanya menelepon Zoey dan ia kecewa karena Zoey sama sekali tak datang menemuinya. Padahal ia sendiri lah yang menghapus nomor Zoey dari ponselnya, hingga seluruh panggilan telepon yang ia lakukan tak pernah terjawab oleh Zoey.
***
Setelah mengusir para wanita genit yang mengganggu Dante, Dira duduk bersama dalam diam.
"Gue baik-baik saja. Lo pergi lah. Lo gak perlu tetap di sini menemani gue dan lo gak perlu mengasihani gue. Gue baik-baik saja," ujar Dante, pandangannya sudah mulai buram.
"Gue dateng mau hibur lo. Tapi gue gak tau mau hibur dengan cara gimana. Gue lagi search kata-kata motivasi di gugel. Lo sabar sebentar," ucap Dira. Ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan.
"Gue gak butuh dihibur. Gue pun gak ingin mendengar kata-kata motivasi. Lo pulang lah. Gak perlu cemaskan gue. Gak perlu memikirkan gue. Gue sudah terbiasa sendirian. Gue baik-baik saja." Dante terus mengulang-ngulang kalimat yang hampir sama. Untuk mengusir Dira dan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia pasti bisa begitu, bisa baik-baik saja.
"Lo gak capek usir gue terus?
Lo kalo mau cerita tentang masalah lo, gue bakal dengerin. Gratis buat lo," tawar Dira, namun Dante tak menyahut dan sibuk menuang alkohol ke dalam gelasnya.
"Gue tau lo ngerasa jadi lebih baik kalo sendirian, Dan.
Tapi lama-kelamaan lo bakal ngerasa kesepian juga. Gue bisa tau ini, karena gue juga ngalamin itu," lanjut Dira sembari menyingkirkan botol-botol alkohol dari jangkauan Dante, agar ia tak meminumnya lagi.
"Gue bilang gue baik-baik saja! Kenapa lo gak mendengarkan!" ujar Dante, sedikit meninggikan nada suara.
"Oke gue tebak, lo habis ditolak Zoey?" terka Dira dengan pasti.
Dante tak menjawab. Dia hanya diam menunduk, tak membantah dan juga tak membenarkan.
"Gue tau itu sakit. Hati lo pasti tergores. Tapi gue yakin lo bakalan membaik satu atau dua hari ke depan."
Dante menyeringai kecil. Ia merasa ucapan Dira berkebalikan dari isi hatinya sendiri.
"Lo gak berpikir gue akan mati hanya karena perempuan itu, kan?"
Dira menggeleng.
Dante kemudian melanjutkan.
"Jika begitu, berhentilah menatap gue seolah gue sedang sekarat!" serunya sembari menghentakkan gelas ke atas meja dengan keras, hingga gelas itu pecah dan membuat telapak tangannya terluka. Membuat orang lain yang juga berada di sana menatapnya heran.
"Dan..." Dira nampak panik. Ia meraih tangan Dante untuk melihat kondisinya, namun Dante tak mengijinkan dan menarik tangannya menjauh dari Dira.
"Luka lo bakalan infeksi kalo gak diobatin," ujar Dira khawatir.
"Jangan sok tau! Lo gak tau apapun! Jangan bertingkah lo tau segalanya!" sentak Dante, menunjuk dengan tangan berlumuran darah.
Dira menghela napas lagi. Dalam batinnya ia berkata, "kenapa lo malah lebih ganteng dalam keadaan kaya gini sih. Harusnya lo gak boleh terlalu ganteng kalo cuma jadi temen."
"Tolong tinggalkan gue sendirian. Gue gak ingin dilihat saat menangis," titah Dante sembari menunduk dengan napas berat.
Namun Dira tak menuruti. Ia bukannya pergi, melainkan duduk lebih dekat dengan Dante dan menarik kepala Dante perlahan untuk menyandar padanya.
"Anggep gue pulau kosong. Lo bisa nangis sesuka lo di gue," ujar Dira tulus.
Dante tak menjawab, namun ia bersedia membenamkan wajahnya pada pelukan Dira.
Terdengar Dante mulai terisak. Membuat Dira berpikir sepertinya Dante memang benar-benar mencintai Zoey.
Dan meski kausnya menjadi basah, namun Dira tak berkomentar sama sekali.
Dira sudah rela ketika mengijinkan dirinya menjadi sebuah tempat untuk bersandar.
Dira pun begitu tau diri, ia menyadari bahwa dirinya hanya bisa sebatas itu, tempat bersandar. Dan tak akan pernah bisa mengisi tempat di hati Dante meski tempat itu saat ini sedang kosong.
Lagipula bagi Dante, Dira bukanlah sosok wanita yang menarik hati.
Hanya sahabat setia, yang kesetiaannya bahkan di level lebih tinggi dari seekor anjing.
"Gue gak bisa tinggalin lo, tapi gue juga gak bisa deketin lo.
Gue cuma bisa liat lo mandang cewek lain dan hibur lo dengan air mata gue sendiri yang mengalir," ujar Dira seraya membalut telapak tangan Dante dengan sapu tangannya.
"Lo mau tau kenapa gue kaya gini, Dan?
Karena lo ganteng. Cuma karena alasan itu. Tapi sayangnya kita cuma temen," lanjutnya, mengungkapkan isi hati dengan begitu jujur.
Meski Dante tak mendengar karena sudah kehilangan kesadaran.
Bersambung...