
Benni dengan polosnya bersembunyi di bawah pot yang ia angkat ke atas kepala, untuk bersembunyi dari kejaran Syabil.
Nonik teman sekelasnya yang entah sejak kapan lewat pun memperhatikan.
Ia diam di sana cukup lama, menatap lurus ke arah Benni tanpa bergerak.
Benni yang terus diperhatikan pun merasa risih, ia lalu menegur Nonik.
"Ck, maneh ngapain sih ngeliatin aing terus?"
"Gamu ngapain di situ? Lagi main cilukba-cilukba ya?" tanya Nonik.
"Kaga, gue lagi jual somay."
"Wah, udah lama gamu jual somay?" tanya Nonik. Ekspresinya menampakkan kekaguman karena Benni sudah mencari nafkah di usia yang masih dini.
"Iye, udah lama," jawab Benni seraya menaruh pot yang tadinya ia angkat ke tempat asalnya.
"Sejak kapan?" tanya Nonik lagi.
"Sejak tadi," jawab Benni.
"Itu sebentar donk!" protes Nonik.
"Daritadi itu itungannya lama!" seru Benni, bersikukuh.
"Oooooo..." Nonik yang memiliki IQ jauh di bawah standar pun percaya begitu saja.
"Agu pesen somay dong," pintanya.
"Yakin?" tanya Benni, merengut.
"Iya, yakin. Agu laper soalnya," ucap Nonik sembari mengelus perutnya.
"Beneran yakin?" Benni kembali memastikan.
"Iya yakin. Liat mata agu kalo gak percaya," ujar Nonik sembari mendekatkan wajahnya.
"Sangat meyakinkan," ucap Benni.
"Btw, belek lo elap dulu bjir," titahnya, sedikit jijik.
"Iya, cepet ya. Kalo bisa kecapnya dibanyakin sedikit," pinta Nonik sembari mencungkil kotoran matanya dengan jari.
"Yang jelas dong! Banyak atau sedikit?" tanya Benni, memperlihatkan sedikit emosi.
"Banyak aja dech," sahut Nonik, tak ingin berdebat.
"Nah gitu." Benni pun mulai membuat somay pesanan Nonik dengan menabur tanah dan batu dari pot ke atas daun.
Ketika Benni sedang asyik bermain tanah, Syabil yang tengah mencarinya pun akhirnya menemukan keberadaannya. Syabil kemudian menghampiri dengan terengah.
"He, antum ngapain di situ?" tanyanya.
"Main masak-masakan bang," jawab Benni, santai.
"Oh, ikutan," ucap Syabil yang begitu tertarik oleh segala sesuatu yang berhubungan dengan memasak.
"Lo mau masak apa emang bang?" tanya Benni sembari bergeser sedikit agar Syabil bisa berjongkok di sampingnya.
"Gue mau masak javanese salad with peanut sauce," jawab Syabil, antusias.
"Hah?" Benni nampak bingung, sejak kecil ia tak memahami bahasa inggris.
"Gado-gado," jelas Syabil.
"Oh, bilang.
Kebetulan gue punya toge. Kemarin numbuh di jempol kaki gue," ujar Benni. Ia lalu membuka sepatu dan kaus kakinya, memperlihatkan satu pangkal toge yang menyelip di sisi kuku jempolnya.
Syabil pun tanpa jijik mengambil itu untuk bahan menunya.
Tak beberapa lama, Dira yang sedang berjalan-jalan dengan tongsis di tangan pun melintasi mereka. Karena penasaran ia pun menegur.
"Pada ngapain?"
"Main masak-masakan mbak.
Mau ikutan? Atau mau beli?" tawar Benni. Tangannya nampak sibuk menyobeki daun.
"Gue mau beli aja." Dira yang sedang gabut pun tertarik untuk ikut bermain.
"Beli apa?" tanya Benni.
"Beli bohlam sekilo," jawab Dira.
Mendengar itu, Benni menghentikan aktivitas menyobeki daun sebentar. Ia lalu menatap Dira dengan senyum yang dipaksakan.
"Menurut pengamatan mbak, gue masak bohlam kaga?"
"Oh gak ada ya. Ya udah deh, gue pesen Topoki," pinta Dira. Benni menyahut dengan memberi jempol.
"Pesenan agu udah jadi belumz?" tanya Nonik. Kakinya terasa kesemutan karena menunggu sang koki Benni yang begitu lama memasak pesanannya.
"Udah nih.
Bon appetit~" ucapnya dengan suara kekanakan, seraya menyodorkan satu porsi somay yang tak mirip dengan somay.
"Ikh, koq somaynya gini?
Koq isinya bukan somay, tahu, sama kol?
Malah daun, batu, sama tanah? Kalo ini gak akan bisa dimakan!" protes Nonik karena pesanannya jauh dari ekspektasi.
"Dih, namanya juga masak-masakan. Gak pake bahan asli, oneng!" seru Benni tak kalah emosi.
"Kata siapa kaya gitu?!" balas Nonik, sama sekali tak percaya.
"Kata gu---
Ck, lo cicip aja itu rasanya somay walau bukan somay beneran," ucap Benni, membohongi.
"Masa sich?
Tapi ini rasa somay-nya ada rasa sotonya gak?" tanya Nonik sembari memperhatikan lagi somay aneh miliknya.
"Ada, lengkap. Rasa penderitaan gue juga ada," ujar Benni, asal bicara saja.
"Tapi koq gak ada kuahnya yach?" tanya Nonik lagi.
"Eh, lo punya otak gak sih?" tanya Dira yang sejak tadi hanya menyimak.
"Punya. Ada 3, kak," jawab Nonik.
"Udah sono Nik. Kalo makanannya kaga enak lo boleh minta refund," ucap Benni, masih memasang wajah kesal.
"Oke deh, agu ngebon dulu yach," ujar Nonik dan berlalu pergi, membawa serta somay anehnya.
"Heuh, Maemunah," gerutu Benni, sedikit memajukan bibirnya karena kesal.
"Pesenan gue mana weh?" tanya Dira yang sudah bosan menunggu.
"Lo mau apa mbak?" tanya Benni.
"Gue kan tadi bilang pesen Topoki," geram Dira.
"Nggak, maksud gue, lo mau apa kesini mbak? Warungnya udah tutup," ucap Benni, sangat suka sengaja membuat orang kesal.
"Bambang! Gak niat dagang lo ya!" umpat Dira.
"Udah sono. Siuh... siuh..." usir Benni. Ia mengibas tangannya ke arah Dira seperti sedang mengusir ayam.
Dira yang sedang tidak mood berkelahi pun memilih pergi.
"Buang waktu!" gerutunya.
"Kok udah tutup? Gue belum selesai ngulek bumbu gado-gado," ucap Syabil yang telapak tangannya kini sudah blepotan dengan klorofil (zat hijau pada daun).
"Lanjut besok aja bang. Gue mau sparring dulu sama Panglima SMP sebelah," ujar Benni sembari membereskan tanah dan daun yang bercecer di lantai, sebelum ketahuan Pak Yedi selaku Kepala Sekolah.
"Kan gak setara. Lo masih paut," ucap Syabil meremehkan.
"Gapapa bang, nanti bisa gue lawan pake jurus Upin-Ipin," ujar Benni, merasa yakin pada kemampuannya sendiri.
"Tapi SMP sebelah bawa Bazoka," ucap Syabil, mencoba menakut-nakuti.
"Wah?" Mendengar itu Benni langsung ciut.
"Mending lo tetep di sini, dengerin ceramah gue," tawar Syabil. Benni pun setuju.
Syabil lalu mulai menceritakan bagaimana pentingnya shalat 5 waktu dan mengapa shalat sunnah pun sebaiknya dijalani jika punya banyak waktu.
"Kalian sedang apa?" tanya Dante yang kebetulan lewat bersama William.
"Gue lagi ngisi kultum," jawab Syabil, nampak serius.
"Kalo kalian?" ia berbalik bertanya.
"Gue mau melihat Erika," jawab Dante.
"Kalo gue, nemenin dia lihat Erika," timpal William.
"Oh," sahut Syabil.
"Bang, lo temen sekelasnya bang Jun kan?" tanya Benni.
"Iya. Kenapa? Dia sahabat kita," ujar Dante.
"Haaaa? Kok bisa sih?" tanya Benni, terkejut.
"Bisa apa?" Dante berbalik bertanya.
"Nggak, nggak." Benni tak berani mengatakannya.
Ia lalu berbisik di telinga Syabil.
"Bang, kok bisa sih bang Dante yang terkenal angker nganggep bang Jamet eh bang Jun sahabat?" tanyanya.
"Lo ngapain bisikin ke telinga gue kalo lupa ngecilin suara sekalian?" tegur Syabil.
"Heee, kedengeran ya?" tanya Benni dan dijawab anggukan oleh William.
"Lo mau tau ceritanya?" tanya William
"Ho'oh, gue juga heran kenapa lo yang kalem bisa sahabatan sama mereka berdua, bang," ucap Benni, bertambah penasaran.
"Jadi gini ceritanya," ucap William memulai ceritanya sembari mendudukkan diri menghadap Benni dan Syabil, ia tak lupa menarik Dante untuk ikut duduk bersama.
"Oe dulu waktu kecil susah dapet temen," sambungnya.
"Kenapa? Karena lo wibu no life?" tanya Dante, nada bicaranya seperti mengejek.
"Nggak," jawab William, memasang ekspresi masam.
"Terus karena apaan bang?" tanya Benni.
"Karena pas nonton Power Ranger, oe selalu rebutan ranger merah sama temen," terang William.
"Gue juga dulu kaya gitu," ungkap Syabil.
William kemudian melanjutkan.
Ia mengawali dengan menceritakan ketika rekan bisnis papanya mampir ke rumah dengan membawa seorang anak laki-laki yang seusia dengannya, yaitu Juni.
Kala itu William disuruh untuk bermain dengan Juni dan pada akhirnya William mengajak Juni untuk menyaksikan Power Ranger bersama.
Dan saat William mengatakan bahwa Power Ranger merah adalah miliknya, Juni sama sekali tidak keberatan. Karena Juni lebih memilih ranger pink dan kuning, dengan alasan ranger pink dan kuning adalah wanita. Dan dia lebih suka ranger wanita dibandingkan ranger pria.
Sejak itu William dan Juni pun bersahabat dan tak pernah bertengkar ataupun berebut sesuatu, karena hal yang mereka pilih atau sukai selalu berbeda.
Lalu, di minggu pagi yang cerah saat William dan Juni sedang asik di depan layar TV, sebuah bel berbunyi.
William pun segera membuka pintu, memperlihatkan seorang bocah dengan wajah datar, dengan sorot mata tajam seperti sedang marah, seolah menunjukkan bahwa dirinya dipaksa untuk mengantarkan makanan yang tengah dibawanya.
Bocah itu lalu menyerahkan makanan itu pada William, seraya mengatakan bahwa dirinya adalah tetangga yang baru saja pindah di sebrang rumah William.
William lalu dengan ramahnya mengajak bocah itu menonton Power Ranger dengan mereka.
Bocah itu tak menolak. Ia pun tak sungkan masuk untuk menyaksikan Power Ranger bersama.
Saat menonton, bocah itu hanya diam, berbeda dengan Juni yang nampak bersemangat dan berlarian kesana-kemari.
Kemudian, di saat jeda iklan, William bertanya padanya, ranger mana yang akan ia pilih.
William pun sempat berkata bawah ranger merah miliknya, sedangkan ranger pink dan kuning milik Juni.
Bocah itu berdehem cukup lama sembari berpikir.
Awalnya William menduga, bocah itu pasti ingin ranger merah juga, atau ranger hitam yang jarang muncul, atau mungkin ranger biru yang hanya second lead. Namun, dugaannya semua salah. Karena saat iklan telah selesai dan filmnya kembali tayang, bocah itu justru menunjuk pada karakter monster yang melawan Power Ranger.
"Jadi gitu," ujar William dan menyelesaikan ceritanya.
Benni dan Syabil sempat memasang wajah heran. Namun, saat menyadari bocah yang dimaksud William adalah Dante, mereka menjadi maklum.
Bersambung...