Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Latihan



















***


"Terus ngapain ini an🐕ing? Jauh-jauh ke sini malah billing-nya abis," keluh Juni pada Andy. Namun Andy hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepala, tanpa menjawab sama sekali. Juni lalu mengalihkan pandangan pada Gagas yang mengangkat bahu padanya.


"Ya udah mau ngapain lagi Jun, ya pulang," ucap William suram, sembari memijat-mijat keningnya.


"Terus latihannya gimana?" cetus Andy yang kemudian dibalas tatapan kesal oleh William.


Andy kemudian mendelik pada Gagas, mencoba melemparkan kesalahan. "Elo sih Gas, bukannya tambah billing dulu sebelum jemput mereka. Jadi penuh kan gak kebagian tempat lagi kita."


"Gue kan gak bisa liat masa depan," dengus Gagas, agak kesal disalahkan.


"Yodah, kita tunggu aja sampe ada yang kosong lagi," ujar Juni sembari menatap ke sekeliling, mencari tempat untuk duduk.


Dante yang sejak tadi matanya hanya tertuju pada ponsel kini bicara. "Ah, sepetinya gue harus pulang lebih awal. Gue masih ada keperluan lain," ucapnya seraya mengambil Agie dari gendongan Valen.


"Keperluan apa Dan?" tanya Gagas.


"Mengantar Agie ke Posyandu," jawab Dante.


"Emang sore Posyandu buka? Terus bukannya adanya sebulan sekali?" tanya Juni, mengernyit.


"Entah, gue hanya mencari alasan agar bisa cepat pulang dan bermain kejar-kejaran dengan Agie," jawab Dante sembari mencubiti pipi menggemaskan adik kecilnya dengan pelan.


"Kalo Posyandu sekarang sepi, gimana kalo latihan band di sana aja?" usul Gagas.


"Alat-alatnya gimana?" sambar Andy. "Stik drum aja Dante gak bawa."


"Pinjem aja ke RW setempat. Kita kasih rokok sebungkus pasti dipinjemin," balas Gagas.


"Masang sound system-nya emang kalian ada yang bisa?" tanya Andy lagi.


"Gue ngerti sound dikit," timpal Gagas.


"Lo paling ngertinya sound the sheep," ejek Andy sinis.


"Udah gak usah ribut @su. Tinggal cari rental studio yang lain kalo kaga mau nunggu," semprot Juni, emosi.


"Loh iya, kok gue gak kepikiran?" ucap Andy menyadari kebodohannya sendiri.


"Otak lo malah dibuang sih, kaga heran gue," komentar Juni sembari berkacak pinggang.


"Kalo bukan temen udah gue injek batang leher lo!" seru Andy dengan ekspresi tersinggung.


***


Hujan mengguyur deras di luar, Andy dan kawan-kawan bersyukur mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Oke, udah siap semua?" tanya Andy sembari menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya yang sudah berada di posisi mereka masing-masing.


"Iya," jawab William. Sedangkan yang lain hanya membalas dengan anggukan.


"Oke," ucap Andy dan kembali menatap ke depan seraya memegangi stand mic.


Lalu hening.


"Nah loh?" Juni terheran. "Lo kenapa malah diem set@n? Bukannya nyanyi!" tegurnya meradang.


"Mau nyanyi lagu apaan? Kita belum mutusin lagunya," jelas Andy.


"Lo kalo gak bisa nyanyi, udah gue aja yang nyanyi," ucap Juni, kemudian ia mulai memetik gitarnya sembari menyanyikan lagu opening animasi populer yaitu Bima Sakti.


"Biiiiimmm~


Bim kejepit~ Rumah jahe~ Sate goreng~ Tik tak pahit~ Chota Bim, Chota Bim, Chota Bim, Chota Bim, diing, diing, diing, odading, odading--"


*Bukk


Sebuah lemparan sepatu dari Dante berhasil mengakhiri nyanyian Juni.


"Eh, k#mpret!" umpat Juni tak terima.


"Kalo gak paham lagu bagus gak usah ngehina lu!" seru Juni tersinggung.


"Jadi gimana nih? Mau bawain lagu apa?" tanya Andy sambil memandangi teman-temannya bergantian.


"Udah lah lagu Kekeyi bukan boneka aja. Dijamin menang itu," usul Juni asal.


"Lo kenapa sih Jun? Kehabisan obat, ha?" komentar William.


"Gue pengen ngide aja biar keliatan kaya orang bisa mikir gitu, Will," cetus Juni seraya sedikit memanyunkan bibirnya, sok imut.


"Ide lo justru membuat lo terlihat seperti kebalikannya," sindir Dante.


"Berisik lu jenggot Fir'aun!" balas Juni.


"Ini lagunya gimana ini," ujar Andy lelah, padahal mereka belum sama sekali memulai latihan.


Gagas lalu berbisik pada Andy yang dibalas Andy dengan kalimat, "oh gue tau lagu itu!"


"Lagu apa?" tanya Dante.


Gagas kemudian memberi tahu kepada semuanya sembari mengembalikan sepatu Dante yang ia lempar pada Juni sebelumnya.


"Oooooo... gue juga tau lagu itu!" pekik Juni nyaring.


William dan Dante pun menyetujui lagu itu.


Dan dimulailah permainan lagu modern dari mereka. Lagunya menghentak, dinamis dan menyenangkan.


Bahkan berhasil membuat Agie yang memperhatikan dari kejauhan berjingkat-jingkat riang di pangkuan Valen.


Tak lama suara Andy mulai masuk mengiringi musik. Nyanyiannya seindah senyumannya. Membuat Valen takjub dan mengira Malaikat lah yang sedang bernyanyi.


Tapi Valen tidak bisa terlalu menikmati lagunya, karena gangguan dari Juni yang terus membuat ekspresi memualkan. Pemuda jenaka itu terus saja tebar pesona, tersenyum jahil sembari memberi ciuman jauh kepada Agie, juga Valen dengan terus berkata "muacchh... muacchh..." tanpa suara.


Kemudian dipertengahan lagu, tiba-tiba William menghentikan memainkan jemarinya di atas tuts putih piano. Ia hanya diam, seperti mematung.


Melihat itu Gagas memasang wajah khawatir.


Andy yang juga menyadarinya pun akhirnya meminta yang lain untuk berhenti sejenak. "Kenapa Will?" tanyanya, mengamati wajah William yang tiba-tiba memucat.


"Sssttt.." desis William sembari menaruh satu jarinya dekat mulut, sementara satu jari di tangan lain menunjuk ke langit-langit.


Semua orang pun serentak menatap ke atas, tanpa ada satupun yang berani mengeluarkan suara.


Dalam keheningan, mereka lalu mendengar bunyi sebuah langkah kaki yang tidak beraturan dari lantai atas. Suara langkah pelan seperti seorang wanita yang berjalan dengan aneh dan kemudian terdengar rintihan kecil seperti meminta tolong.


"Harusnya ruangan ini kedap suara, kan?" bisik William. Ada ekspresi ngeri di wajahnya.


Valen tiba-tiba berlari mendekati Dante, lalu menarik kerah jaketnya supaya wajah mereka saling berdekatan.


"Lo ini kenap--" belum sempat Dante melontarkan aksi tidak setuju karena tingkah Valen kepadanya, Valen sudah lebih dulu membisikkan sesuatu. Dan setelah mengatakannya, Valen melepaskan cengkeramannya dari Dante dan kembali duduk di sofa bersama Agie.


"Valen bilang apa Dan?" tanya Gagas dengan ekspresi tegang di wajahnya.


"Bukan apa-apa. Studio ini hanya berhantu," ujar Dante dengan nada suara paling santai.


"Oh," sahut Gagas singkat.


"Kirain apa. Jadi suara ribut barusan suara hantu? Oe kira tadi ada yang lagi ngelakuin KDRT," ucap William merasa lega.


"Ayo lanjut lagi," ajak Andy. "Di D sekarang Will, kuncinya di D," instruksinya dan dibalas gestur 'oke' oleh William.


"Weh, ini gimana sih!" seru Juni. "Kok reaksi kalian kek gak masalah gitu?" keningnya berkerut. "Kalo berhantu mestinya takut pan?"


"Kalo berhantu mau gimana lagi? Kita gak ada tempat lagi. Udah lanjut aja," timpal Andy.


"Tapi kan... kan..." Juni terlihat sangat ingin protes.


"Tenang, Jun. Setelah latihannya selesai kami akan mengunci lo sendirian di sini supaya lo bisa berduaan dengan hantunya," ucap Dante. Nada suaranya terdengar begitu serius, ditambah paras jahatnya terkesan sangat meyakinkan.


"Heeeeeh..." Juni menatap Dante dengan ekspresi tidak percaya, membuat yang lain tak kuat menahan tawa.


"Gak lucu an🐕ing! Gue pengen pulang!" rengek Juni. Suaranya sedikit bergetar karena rasa takut.


"Pulang aja sana. Gak ada yang keberatan," ucap Andy mempersilahkan.


"Ja'at kalian semua! Gue aduin ke emak kalian, liat aja!" ancam Juni dengan kemarahan yang nampak jelas di wajahnya.


"Gue tadi hanya bercanda, Jun," ralat Dante. Ia terlihat was-was dengan ancaman Juni. "Gak mungkin gue setega itu mengurung lo bersama hantu," lanjutnya. "Itu tidak berkeprihantuan," tambahnya.


"Jadi lo lebih kasihan ke hantunya kalo dia mesti kekurung bareng gue!" ujar Juni mempertegas.


"Yap," ucap Dante seraya mengangguk mengiyakan.


"Dan, gue heran dah," ungkap Juni. "Kenapa yak gue bisa temenan sama SET#N KAYA LU!" geramnya emosi.


"Itu pertanyaan gue," balas Dante datar. "Padahal pelihara Tuyul lebih bermanfaat daripada pelihara lo," sarkasnya.


"Eh, lo ngajak baku hantam?" tantang Juni sembari melipat lengan kausnya kasar.


"Udah, udah woy! Lanjut latihan lagi. Waktunya udah mepet ini," tukas Andy nyaring untuk mengalihkan perhatian.


"Gue pengen bunuh si Dante dulu bentar," ujar Juni masih emosi.


"Udah Jun. Oe beliin es krim nanti. Gak usah dengerin Dante. Kita selesaiin latihannya dulu," bujuk William.


Juni pun patuh karena tergiur tawaran es krim.


Bersambung...