Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Renang



Agie baru saja terbangun, namun mulut kecilnya masih menguap.


Ia kemudian menoleh ke sekeliling dalam gendongan sang kakak. Ia menyadari bahwa dirinya dan si kakak sedang berada di kolam bola.


"Akak," ucap Agie.


"Hmm?" sahut Dante.


"Ka-Un nana?" tanyanya mencari sosok Juni yang sudah akrab dengannya. Ia mencari-cari dalam tumpukan bola berwarna-warni di hadapannya.


"Kak Jun sedang berenang. Kamu mau berenang juga?" tawar Dante.


Agie menolak dengan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Dante tak mengira. Karena Agie biasanya menyukai air. Bahkan di cuaca yang panas, dia akan minta mandi 5x dan berendam di bathtub sampai telapak tangannya keriput.


"Akut iyu iyu," ujar Agie, kedua sudut bibirnya turun ke bawah sangat mirip dengan emoji sedih.


"Tidak ada hiu di dalam kolam renang, Agie," jelas Dante.


"Aus?" tanya Agie.


"Paus tidak ada juga," jawab Dante.


"Imau?" tanya Agie lagi.


"Tidak ada harimau," jawab Dante bersabar.


"Ino-aulus?" Agie kembali bertanya.


"Untuk apa dinosaurus ke kolam renang?" Dante berbalik bertanya sembari tertawa kecil, tawanya menular pada adiknya.


Agie kemudian merogoh isi tas selempang bermotif strawberry yang satu set dengan bajunya dan mengeluarkan selembar uang berwarna hijau.


"Akak, cibu," ujarnya memamerkan uang bernominal 20 ribu itu di depan si kakak.


"Dapat darimana?" tanya Dante.


"Di athih," jawab Agie.


"Di kasih siapa?" tanya Dante mengintrogasi.


"Bu uyu," jawab Agie tersenyum. Senyum yang sampai hingga ke mata.


"Mau kamu gunakan untuk apa uangnya?" tanya Dante.


"Beyi uwe" jawab Agie.


"Kue apa?" tanya Dante.


"Uwe oyu," jawab Agie, kemudian menyimpan uangnya kembali ke dalam tas.


Syabil yang kebetulan lewat datang menyapa.


"Hei, lagi ngapain?"


"Bermain," jawab Dante singkat.


"Gue punya keponakan seumur adik lo. Harusnya gue ajak ke sini ya. Biar main di kolam bola bareng," ujar Syabil.


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Dante.


"Laki-laki," jawab Syabil.


Wajah Dante berubah tak suka.


"Maaf saja, tapi keponakan lo sepertinya bukan level adik gue," ungkapnya.


"Bukan level?


Denger ya binatang, keponakan gue sama adik lo disuruh adu mekanik, pasti keponakan gue yang menang!" seru Syabil merasa tersinggung.


"Gue gak suka kebodohan. Jadi, gue gak tertawa mendengar lawakan lo," sarkas Dante.


Ia sangat pandai membuat orang lain membenci dirinya.


"Ya Allah, berilah aku pahala karena rasa sakit hati ini," ujar Syabil memanjatkan do'a. Di luar sifatnya yang menyebalkan dan keras kepala, ia tak pernah lupa berdo'a atas segala sesuatu.


"Lo terlihat sendirian. Lo mau bergabung?" tawar Dante, seraya ke luar dari kolam bola bersama adiknya.


Dante seakan sengaja mengalihkan Syabil agar tak menemukan Hans di tempat dimana ia di kurung.


Karena, Hans tidak benar-benar dikunci di kios kosong. Lebih tepatnya disebuah stand mainan kosong yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini.


"Kemana?" tanya Syabil.


"Kolam renang. Teman-teman gue sedang ada di sana. Rin sepertinya pergi ke sana juga," tutur Dante.


***


Benni mencarikan ojek online untuk Bayu.


Setelah mendapatkan satu, ia lalu membantu Bayu untuk naik. Kemudian ia berpesan pada Bayu sembari menitipkan minyak sayur yang akhirnya berhasil ia beli.


"Lo mampir ke rumah gue dulu yak, buat kasihin minyak ke emak gue. Tenang, ongkosnya udah gue bayar pake dompet digital.


Gue mau balik lagi buat berenang," ujarnya. Ia tergiur rayuan Rin yang mengajak untuk mantap-mantap di kolam renang.


"Ndak ada akhlak," gerutu Bayu sedikit kesal.


Setelah Bayu pergi, Benni pun bergegas untuk menyusul Rin di kolam renang.


Meski ia menyadari, ia sama sekali tak membawa baju ganti.


Namun, pikiran kotornya berniat untuk telanjang saja agar bisa leluasa berenang berdua dengan senior seksinya itu.


Tapi, sesampainya Benni di area kolam renang, ia terpaku dengan mulut yang terbuka membentuk huruf O.


Angan-angannya untuk mantap-mantap dengan senior seksinya telah pupus. Karena kolam renang di hadapannya sudah hadir beberapa orang. Bahkan ada bayi yang ikut ada disana. Dengan pelampung ban berbentuk bebek untuk membantunya tetap mengambang di permukaan.


"Will! Will! Liat gue bisa berenang gaya ubur-ubur!" pekik Juni mencoba pamer.


"Lo malah mirip bayem yang lagi dicuci," ledek William mentertawai.


"Nih! Nih! Sekarang gue bakal berenang gaya kupu-kupu malam." Juni pun dengan heboh mengepakkan tangan layaknya kupu-kupu yang sedang terbang.


Setelah sampai di ujung, ia berteriak.


"Will liat gak? Ukhty liat gak?" tanyanya.


"Lo ngapain sih Juni?" ujar Feby, sebenarnya ia malas mempedulikan.


"Biarin aja, Feb. Cita-cita Jun dari dulu pengen jadi putri duyung," celetuk William, sangat mengenal teman hiperaktif-nya itu.


"Dan, lomba yuk Dan," ajaknya pada Dante yang sibuk berenang mendorong pelampung adiknya.


"Lo siapa ya? Apa kita saling kenal?" tanya Dante berpura-pura lupa ingatan.


"Jangan pura-pura anemia lo!" seru Juni kesal.


"Eh? Si pantat ayam ngapain ke sini?" Juni baru menyadari ada sosok junior yang pernah memiliki skandal dengan tupperware miliknya, berada di sini. Memperhatikan dari atas.


Benni yang kehadirannya sudah disadari memilih memundurkan langkah dan berniat pergi.


Namun, Rin sudah lebih dulu menghampiri.


Rin lalu menarik lengan Benni untuk lebih dekat dengan kolam renang. Kemudian membantu membukakan pakaian dan celana Benni, menyisakan celana pendeknya saja.


Benni merasa canggung saat itu, tapi dia hanya pasrah.


Matanya begitu fokus pada pakaian renang Rin yang memperlihatkan lekuk tubuh dan belahan dada.


"Mari." Rin menuntun Benni turun ke kolam renang.


Benni seperti terhipnotis. Kakinya hanya berjalan mengikuti Rin.


"Calon penghuni neraka tuh," celetuk Juni dengan tatapan iri pada Benni yang asik bermain ciprat-ciprat air bersama Rin.


"Gak boleh gitu, Juni," tegur Feby. Pakaian renang yang ia gunakan begitu sopan, menutupi ujung kaki hingga ujung kepala. Berbeda dengan pakaian renang Rin dan Valen yang menunjukkan beberapa bagian kulit mulus mereka.


Namun pakaian renang Valen tidak seseksi milik Rin. Hanya menunjukkan punggung. Karena ia menggunakan model pakaian renang lengan panjang dan celana panjang, beserta rok luar yang menutupi paha.


"Ah, berenang lagi aja lah," ujar Juni berancang-ancang.


"Neng Valen! Neng Valen! Liat aa mau renang gaya lumba-lumba!" seru Juni meminta perhatian gadis yang duduk di tepi kolam dan hanya mencelupkan kakinya saja ke dalam air.


"Lo gak ingin mencoba gaya batu?" saran Valen.


"Nanti aa tenggelem gimana? Neng mau kasih napas buatan emangnya?" tanya Juni berharap.


"G," jawab Valen acuh.


Juni cemberut. Ia kemudian beralih mencari perhatian Agie.


"Agie, liat, liat! Kak Jun mau berenang gaya kuda laut!" serunya. Namun Dante memutar pelampung Agie agar adiknya memalingkan wajah dan tak melihat pemandangan aneh yang ditampilkan oleh orang aneh yang tak lain adalah Juni.


"Agie liat gak?" tanya Juni sumringah setelah selesai memamerkan keahlian berenangnya meniru hewan laut, dengan air yang terus menetes di wajahnya.


Tapi, Agie sudah berada sangat jauh darinya dan sama sekali tak memperhatikan aksi anehnya tadi.


"Dante kampret!" umpat Juni sembari memukul air. Kemudian ia kembali berenang.


Bersambung...