Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Kesepakatan



"Gib bacc!" seru Agie saat cangkir kecil berisi bubuk kopinya Valen ambil.


"Siapa yang memberimu ini?" tanya Valen.


"Pleez... gib bacc, pleez!" pinta Agie memohon sembari menggosokkan kedua tangan.


"Gak akan. Ini gak baik untukmu," larang Valen. Ia lalu memberikan boneka beruang yang selalu ia bawa sebagai gantinya.


Agie nampak menyukainya dan langsung memeluk boneka berwarna cokelat itu. Boneka itu memiliki dua kancing hitam sebagai mata, hidung merah muda dan senyum yang dijahit di mulutnya.


"Namanya Tom. Tapi kamu boleh memanggilnya dengan apapun yang kamu mau," ucap Valen.


"Dudut," celoteh Agie, dengan serpihan bubuk kopi yang masih menempel di sekitar mulut kecilnya.


"Kamu menamainya itu karena dia gendut?" tanya Valen.


Agie mengangguk dengan senyum riang.


"Oke, kakak gak akan protes. Dia milikmu sekarang. Jaga dia baik-baik--" Valen tiba-tiba mengecilkan suaranya, berbisik, "---dan jangan bilang pada siapapun kalau dia bisa bicara."


"Okie," sahut Agie mengerti.


Daniel yang tidur di samping Agie pun terbangun. "Eh, udah lama kak?" tanyanya sedikit gelagapan, saat melihat Valen yang nampak sedang mengasuh adik kecilnya.


"Belum lama," jawab Valen.


Ia kemudian bertanya, "kakak lo Dante kemana?"


"Mungkin di---"


"Oh, gue tau dia dimana." Valen menyela dan langsung pergi keluar ruangan dan membuat Daniel terdiam kebingungan.


***


Dante tengah tidur di ranjangnya. Ditemani seseorang di sana. Bukan Zoey. Tapi seorang gadis dengan rambut pendek sebahu. Dia adalah Dira.


Ekspresinya terlihat khawatir namun hatinya tersenyum-senyum, karena mendapat kesempatan melihat wajah Dante yang lembut saat tidur.


Tak ingin mengganggu, Valen pun memutuskan menunggu di luar hingga Dante bangun.


Namun Hansel tiba-tiba datang dan masuk begitu saja ke dalam.


Ia lalu membangunkan Dante dan mengusir Dira keluar.


Dira yang diusir menyadari keberadaan Valen yang menunggu di luar, mereka berdua pun sepakat untuk menguping apa yang akan Hansel dan Dante obrolkan.


"Antar gue besok. Gue sudah tau teman gue yang hilang ada dimana. Sintia benar-benar membuat dia hilang dan membuat orang-orang lupa tentang dia," ujar Hans to the point.


Dante langsung melontarkan penolakan. "Malas. Pergi saja sendiri." Ia lalu tidur lagi.


"Hey! Setelah apa yang gue lakukan untuk lo, semua bantuan yang gue berikan secara gratis, dan ini balasan lo!" sentak Hans.


Namun Dante abaikan dan menukar posisi tubuhnya dengan membelakangi Hans.


Hans yang kesal pun menarik paksa bantal yang menjadi alas tidur Dante, membuat Dante mendesis kesakitan dengan rasa nyeri karena kepalanya menghentak ranjang.


Dante lalu membalikkan badannya kembali, menatap sengit pada Hans. "Apa perban-perban ini gak cukup jelas buat lo?" tanya Dante. "Gue adalah pasien yang sedang sekarat. Minta orang lain untuk antar lo saja sana!"


"Karena yang tau hal ini hanya kita berdua, gue tidak bisa ajak orang lain," ujar Hans.


"Jika begitu ikhlaskan saja dia. Lagipula tanpa 1 orang itu, lo masih dapat membentuk sebuah Boyband dengan hanya 4 orang teman lo yang lain," sahut Dante. "Atau... lo mencarinya untuk alasan rahasia?" terkanya.


Hans mengernyit. "Alasan rahasia apa maksud lo?"


"Ya, seperti..." ucap Dante ragu-ragu. "...apa lo memiliki ketertarikan pada teman lo yang hilang itu?"


"Apa maksud nada bicara lo yang tidak mengenakan itu?" Hans kembali mengernyit.


"Ada apa dengan ekspresi tidak menyenangkan itu!" pekik Hans meraung. "Gue normal! Jika tidak, gue sudah memperk#sa lo sejak tadi!"


Dante tak bereaksi dengan mulutnya, ia justru memberi gestur lucu dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, berpura-pura takut akan diapa-apakan Hans.


"Apa-apaan reaksi lo itu!" seru Hans tak terima diperlakukan seperti predator h*m*s*xual. "Sekali lagi! Gue normal! Apa lo ingin tau ada berapa perempuan yang berhasil gue hamili?!"


Dante memicingkan matanya. "Apa lo harus membanggakan itu?"


"Kenapa, huh? Lo iri?" ucap Hans angkuh.


"Untuk apa?


Gue hanya gak habis pikir.


Bagaimana lo bisa mengucapkan itu tanpa rasa bersalah?" Dante heran. "Atas tindakan kriminal lo pada para wanita itu, apa lo gak takut akan karma?" tanyanya.


"Cih, lihat siapa yang bicara," decih Hans. "Lo membunuh orang-orang, juga menyiksa mereka, lalu lo merasa pantas menasehati gue?"


Dante menghela napas kasar. "Lo tau pepatah ini?


Jangan lihat siapa yang mengatakan tapi apa yang ia sampaikan."


Ia lalu melanjutkan tanpa menunggu sahutan dari Hans. "Lagipula, gue belum pernah benar-benar membunuh orang."


"Sintia?" Hans mencoba mengingatkan.


"Dia bunuh diri," bantah Dante. "Apa lo perlu menontonnya lagi? Dimana Sintia menembakkan---"


"Lo mungkin tidak membunuh Sintia atau pun membunuh orang-orang itu secara langsung." Hans memotong. "Tapi pengikut lo---"


"Orang-orang mana yang lo maksud?" Dante membalas memotong. "Yang mengapung dalam air itu?" tanyanya. "Gue hanya membayar mereka untuk ber-akting melakukan itu."


"Huh?" Hans mengernyit bingung.


"Mereka masih hidup," ucap Dante dengan nada tenang dan serius. "Akan gue bawa mereka kepada lo jika lo butuh bukti," tawarnya.


"Lo---"


"Dan gue pun sudah menanggung biaya pengobatan mata adik Sintia dan pengobatan dia lainnya." Dante kembali menyela.


"Untuk apa lo lakukan itu?


Seharusnya sejak awal lo tidak perlu melukai mata anak itu atau membuat dia dipukuli!" protes Hans.


"Sebenarnya gue gak ingin melakukan itu, tapi gue cukup lelah dengan rantai dendam ini," ungkap Dante.


"Yah, gue harap, semoga dengan uang-uang itu gak ada lagi yang mencoba membalas dendam dengan mengancam nyawa adik gue," lanjutnya, nampak sekali jika dia masih trauma. "Tak akan ada lagi yang tersakiti, tak ada lagi tangisan, tak ada lagi kehilangan, akhir yang bahagia." Dante menghela napas lagi. "Semua orang suka happy ending, bukan?"


Lalu, hening.


Ada kesenyapan panjang karena Hans diam. Ia tidak tau lagi harus mengatakan apa atau bereaksi apa.


"Kenapa lo diam?" tegur Dante. "Lo terkejut karena kebenaran tentang diri gue tidak sesuram itu?" tanyanya.


Dante lalu bersikap pongah. "Yah, memang gak banyak yang tau kalau di balik sisi gelap gue, gue masih punya sisi terang dan empati." Ia lalu melirik Hans dengan ekspresi mencibir. "Tidak seperti lo."


Hans berdecih. "Oke, jika begitu gue akan memperlihatkan sisi baik hati gue terhadap lo, karena lo ingin gue tunjukkan itu." Pemuda sakit hati itu lalu memampangkan senyum keji. "Pertama-tama dengan menawarkan gadis keturunan Jerman itu... Zoey, tumpangan untuk pulang bersama."


"Baik, gue akan temani lo besok," ucap Dante tiba-tiba berubah pikiran.


Hans dengan cepat menyahut. "Oke! Jangan tarik omongan lo!" Selepas itu ia pun pergi dari ruangan Dante dan menghilang di telan pintu.


Bersambung...