Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Berlindung di hati yang salah



Hans menghela napas panjang, menatap seekor kucing yang sepertinya sengaja di tinggalkan Dante di dalam mobilnya.


"Harus gue apakan?" gumamnya.


Ia lalu mengambil ponselnya, memotret si kucing lalu mempostingnya di media sosial, dengan caption, "Apa ada yang menginginkan kucing ini?"


Sekejap postingannya dibanjiri oleh komentar yang memuji betapa lucunya kucing itu. Namun, tak ada dari mereka yang ingin merawatnya.


Syabil lalu mengirim pesan chat pada Hans, ia bilang bahwa dia sudi untuk merawat kucing liar itu, tapi ia tak bisa mengambilnya hari ini karena sedang kerepotan.


Hans yang tak sabar pun berkata bahwa akan mengantarnya saja pada Syabil.


Setelah sepakat, Hans pun melajukan mobilnya menuju kediaman Syabil.


Saat di perjalanan, ia tak sengaja melihat sosok yang dia kenal. Sosok itu adalah Sahala.


Gadis berkulit kecoklatan berambut sedikit kemerahan itu sedang berdiri sendirian di tepi jalan yang padat dengan kendaraan lewat.


Hans menjadi khawatir. Karena ia tau bahwa Sahala seorang sleepwalker. Ia pikir saat ini mungkin Sahala sedang tidur sambil berjalan lagi.


Ketika mobilnya sedikit dekat dengan gadis itu, Hans menepi lalu turun dari mobilnya untuk menghampiri.


Dugaan Hans ternyata benar, Sahala sedang tertidur. Matanya terpejam dan ia tak merespon ketika Hans memanggil.


Langsung saja Hans menuntunnya masuk ke dalam mobil, ia mau tak mau membawa saudari anehnya itu bersamanya.


Saat melajukan mobilnya kembali, tiba-tiba Sahala bergumam dengan mata yang masih terpejam. "Namanya Tisha.


Dia terbelakang dalam pergaulannya sama sepertiku."


Hans melirik Sahala sesaat lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Sahala lalu kembali bergumam. "Ayahnya meninggalkan ibunya tanpa alasan saat sedang mengandung Tisha.


Ia lalu tumbuh menjadi gadis yang kurus dan lemah karena ibunya terlampau miskin, tak bisa memenuhi gizinya. Hingga ia dikirim ke sebuah Yayasan amal karena ibunya tak sanggup membiayai hidupnya dan sekolahnya lagi."


"Oh, kasihan sekali," sahut Hans dengan nada yang tak terdengar serius ataupun tulus.


"Karena Tisha anak yang pintar, ketua Yayasan memasukkan Tisha ke sekolah terpandang.


Dengan balutan almamater elit, Tisha pun menemui cintanya.


Dia pria yang tampan, kaya, lembut dan ramah di mata Tisha.


Mereka selalu bersama sejak mentari tiba dan berakhir.


Hubungan mereka menjadi lebih jauh. Terlalu jauh untuk sepasang kekasih." Suara Sahala tiba-tiba terdengar sedih. "Bayi itu tinggal di perutnya dan si pria pergi seperti ayahnya."


Mendengar itu Hans mendadak menginjak rem. Ia lalu menoleh menatap Sahala dengan kening yang mengerut.


"Lo sedang membicarakan siapa?" tanya Hans, intonasinya terdengar agak membentak. Sepintas ia mengingat nama itu, nama yang Sahala terus sebut sejak tadi.


"Di sepetak kamar mandi, Tisha mendatangi ajalnya. Bersama Hana, putrinya," ucap Sahala dengan bibir gemetar.


Desir angin tipis tiba-tiba mendera tengkuk belakang Hans.


Kucing yang ia taruh di belakang kursi penumpang pun tiba-tiba bersikap aneh. Kucing itu menatap ke udara sembari mendesis dan meregangkan ke 4 kakinya dengan bulu-bulu yang berdiri semua.


Perasaan Hans menjadi tak enak. Wajahnya memucat dan ia tak berani menatap spion depan. Karena sekilas, di sudut matanya, ia melihat sesuatu di sana. Pantulan seorang gadis berambut panjang kusut yang sedang menenggelamkan wajahnya di antara lutut.


Tok...


Tok...


Tok...


Sebuah ketukan dari kaca di sampingnya tiba-tiba terdengar, spontan Hans memeluk Sahala karena ketakutan.


Tok...


Tok...


Tok...


Namun ketukan itu masih belum berhenti, Hans lalu berteriak dan menawarkan uangnya agar dia cepat pergi.


"Woi! Hans!" Setelah mendengar suara yang familiar itu memanggil, Hans pun perlahan berani menoleh ke luar.


Hans lalu menghela napas dan menjadi sedikit tenang. Karena yang mengetuk kaca mobilnya sejak tadi ternyata hanyalah Syabil.


Hans lalu membuka pintu mobilnya dan turun.


"Lo kenapa? Kaya abis liat hantu," ujar Syabil, terheran dengan raut wajah Hans yang menampakkan ketakutan.


"Lo yang kenapa," balas Hans, sembari menatap Syabil dari ujung kaki ke ujung kepala. "Lo mirip ibu rumah tangga," ejeknya, karena penampilan Syabil yang nampak tidak biasa, mengenakan celemek, serta gendongan bayi, dengan bayi di dalamnya dan sudip di tangan kanan.


"Mau gimana lagi. Karena kakak gue gak punya suami, dia yang harus cari nafkah. Gue sebagai adik ya harus bantu jagain anaknya sama lakuin kegiatan rumah tangga," terang Syabil. "Kucing gue mana?" tanyanya.


Hans mengarahkan dagunya ke arah mobil. "Ada di kursi belakang. Lo ambil sendiri. Gue mau pulang naik taksi," ujarnya sembari melempar kunci pada Syabil, lalu berjalan pergi.


Syabil lalu membuka pintu mobil di depannya untuk mengambil kucingnya, namun ia baru sadar ada penumpang lain dalam mobil itu selain seekor kucing yang Hans tawarkan.


Ia yang kaget pun menutup pintu mobil itu kembali dan berteriak pada Hans yang sudah berjalan cukup jauh.


"Woi, Hans! Lo tadi nawarin kucing doang, kan? Kenapa ada cewek sekalian?"


Namun Hans tak menengok, dia hanya melambaikan tangannya seraya mempercepat langkahnya.


Bersambung...