
Dira sedang duduk di atas sofa sembari menyaksikan acara TV dan menyantap sebuah kue tart yang baru ia ambil dari dalam kulkas.
Ia berharap malam ini akan menjadi malam yang tenang, tidak seperti malam-malam lainnya.
Namun, harapannya pupus ketika Dara, saudari kembarnya yang baru saja ke luar dari arah dapur menghampirinya.
"Lo benar-benar mahir membuat orang kesal. Lo berbakat," ujar Dara, menunjukkan wajah kesal sembari menghalangi layar TV.
"Apasih lo ganggu aja! Awas! Jangan ngalangin," keluh Dira.
"Lo tau kue tart itu untuk siapa?!" tanya Dara mengeraskan suara.
"Siapa?" tanya Dira, menunjukkan wajah tidak peduli.
"Untuk teman gue! Gue sengaja membelinya! Kenapa lo makan itu!" seru Dara, setengah berteriak.
"Oh. Maaf deh," sahut Dira, namun ekspresinya tak memperlihatkan penyesalan atau rasa bersalah.
"Kalau maaf berguna untuk apa ada Polisi!" bentak Dara.
"Yeah, i like care," balas Dira sembari memutar bola mata.
Dara yang sudah geram pun menggenggam kue tart yang sedang disantap Dira dengan tangannya, kemudian melemparkannya ke wajah saudarinya itu.
"B*zeng!" umpat Dira.
"Next time, yang gue lempar palu!" ancam Dara, terpampang jelas wajah kepuasan.
"Lo bener-bener..." Dira bangkit berdiri dengan amarah yang meluap. Ia lalu menyerang Dara, melongsorkannya hingga membuat Dara terjerembab.
Setelah itu ia menindih Dara dan menarik rambutnya.
Dara tak mau kalah, ia pun membalas Dira, menarik baju Dira hingga sobek dan beberapa kali mencakar Dira dengan kuku-kuku panjangnya.
Mereka terus bergulat di lantai sembari memaki satu sama lain.
Kegaduhan tersebut terdengar oleh seisi rumah.
Sang ayah yang baru ke luar dari ruang kerja pun langsung berteriak untuk melerai mereka berdua.
"Hentikan! Apa-apaan kalian ini!"
Seketika Dara dan Dira pun menghentikan pergulatan mereka.
"Dia yang mulai Pah! Dia memakan kue tartku tanpa ijin!" seru Dara menunjuk pada saudarinya, rambutnya nampak kusut dan dagunya terlihat membiru.
"Dira kamu ini! Selalu saja cari masalah! Dasar pembuat onar!" maki si ibu, yang datang hanya untuk membantu Dara untuk berdiri dan merapihkan penampilan putri sulungnya itu.
"Minta maaf pada kakakmu Dira!" bentak si ayah.
"Kenapa cuma aku yang disalahin? Kakak juga salah karena ngajak berantem duluan. Dia lempar kue tart ke mukaku Pah," ujar Dira membela diri. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kalau kamu gak ambil barang kakak kamu lebih dulu, dia gak mungkin lakuin itu ke kamu," sahut si Ibu sembari memeluk putri pertamanya itu dan mengasihaninya, namun mengabaikan putri keduanya yang malang yang masih terjerembab di lantai.
"Keliatan banget kalian sama sekali gak peduli sama aku," gumam Dira menunduk. Air matanya sudah menetes ke lantai.
"Tidak ada hubungannya, minta maaf cepat Dira!" bentak si ayah lagi.
"Terlepas dari kesalahanku, kalian cuma peduli sama kakak, yakan? Aku juga putri kalian tapi kalian pilih kasih dan suka beda-bedain," ujar Dira terisak.
"Apa maksud kamu? Kami peduli sama kamu, tapi jelas saat ini kamu yang salah," timpal si ayah.
"Kalau kalian peduli sama aku, terus kenapa Mama-Papa sering pamerin kakak di depan rekan bisnis kalian, kalau aku gak pernah?" tanya Dira meluapkan apa yang selama ini ia pendam. Membuat kedua orang tuanya terdiam dan saling pandang.
"Aku malu-maluin bagi kalian ya?" tanya Dira lagi, tanpa mendapat jawaban.
"Kalian tau... aku tadi siang dimarahin orang asing di jalan karena gak becus bawa motor. Aku bahkan kena tampar.
Aku kena tampar karena hal se-sepele itu, apa kalian peduli?" ungkap Dira. Tapi lagi-lagi dia tak mendapat sahutan, hingga ia terlihat seperti bermonolog.
"Mah? Pah? Kalian denger? Aku ditampar! Kalian gak kasihan sama putri kalian ini?"
Dira lalu menatap Dara.
Dira berharap sedikit saja simpati dari keluarga kecilnya.
Namun, yang ia terima hanya keheningan.
Dengan jengah pun ia berlari masuk ke dalam kamarnya dan sengaja membanting pintu sekencang-kencangnya.
***
Berjam-jam Dira hanya duduk di depan jendela. Memeluk lutut sembari memandang pemandangan hujan.
Langit begitu hitam, sama seperti nuansa hatinya. Gelap dan begitu tersiksa dengan rasa sakit yang tak dapat disembuhkan.
Drrrttt...
Ponselnya tiba-tiba bergetar, Dira pun mengambilnya.
Terlihat ada sebuah panggilan telepon untuknya.
Dira buru-buru menyeka air mata di wajahnya, setelah itu lekas mengangkat panggilan yang berasal dari Dante teman sekelasnya.
"Hallo? Kenapa Dan?"
"Zuwie... tidak peduli berapa kali aku mencoba untuk melupakanmu, kita telah menghabiskan banyak waktu bersama-sama.
Sebenarnya apa lagi yang harus aku lakukan untukmu agar kamu memilih aku?
Sepanjang hari dan saat ini, aku tenggelam dalam pikiran tentangmu.
Kenapa kamu sangat kejam, hah?
Daritadi kamu tidak mau mengangkat teleponku.
Yang kudengar sejak tadi hanya nada panggilan teleponmu." Suara Dante terdengar seperti sedang mabuk. Seakan sesuatu yang menyedihkan telah terjadi padanya.
"Dan?" Dira nampak heran. Ia menduga Dante tengah salah sambung.
"Lagu yang dulu kita dengar bersama-sama apa kamu mau mendengarnya?
Aku bisa menyanyikannya.
Akankah kamu memikirkan tentangku sesaat saja setelah mendengarnya?" ujar Dante.
"Kenapa kamu diam?
Aku di sini... menahan kesendirian.
Aku merasa tidak adil karena sepertinya hanya aku yang menderita.
Karena ego bodohku aku berpura-pura tidak apa-apa," sambungnya, benar-benar terdengar menyedihkan.
Dante tiba-tiba berteriak, hingga Dira sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Kamu perempuan jahat! Kamu perempuan yang jahat! Kamu membuatku menjalani hidup dengan hanya mengagumimu, tanpa bisa memilikimu!"
"Dan... lo habis berantem sama Zoey?" tanya Dira menghela napas.
Dante tak menjawab pertanyaan Dira dan justru melanjutkan melantur.
"Zowie, andai aku jadi dirimu, aku akan sangat bahagia. Karena kamu memiliki seseorang... orang yang melindungimu untuk waktu yang lama. Orang itu aku. Bahkan orang bod*h yang pikirannya lambat pun bisa menyadari itu. Tapi kenapa kamu tidak tau?
Andai kamu adalah aku, kamu akan merasa begitu terluka. Karena berharap dan terus berharap seorang diri. Berharap suatu hari cintamu dibalas."
Dante kemudian berteriak lagi.
"Berapa lama aku harus merindukanmu supaya hatiku bisa mencapaimu!"
Dira tertawa tanpa suara. Ia merasa begitu gemas karena tingkah imut temannya yang sedang mabuk.
"Lo dimana?" tanyanya, berniat mendatangi untuk menghibur temannya yang sedang terpuruk itu.
Bersambung...