
Valen menggerutu di sepanjang jalan ketika ia menuju ke dalam kelasnya.
"Bisa-bisanya gue memiliki 5 anak kembar dengannya di masa depan," keluhnya, tak terima dengan takdirnya sendiri.
"Dia memang mesum, tapi dia bukan orang cabul. Dia pria baik," sahut hantu wanita berwajah pucat, berjalan dengan melayang di sisi Valen, dengan darah yang mengalir dari mata dan telinga kirinya.
"Bagaimanapun caranya, gue akan membuat pria lain yang akan menikahi gue nanti," ucap Valen bertekad.
"Lo harus bantu gue," sambungnya.
"Um?" Zoey yang berpapasan dengan Valen mengira Valen sedang bicara dengannya.
Valen tiba-tiba terdiam ketika melihat garis warna disekitar Zoey yang berubah. Garis warna semacam aura yang memperlihatkan seberapa lama seseorang akan hidup.
Valen yakin saat bertemu dengan Zoey di UKS tadi pagi, garis warna milik Zoey berwarna hijau solid. Menandakan Zoey memiliki banyak sisa waktu untuk hidup. Namun saat ini garis warna milik gadis berkebangsaan Jerman itu telah berubah menjadi berwarna kuning agak oranye. Yang artinya akan ada tragedi mengerikan yang segera menimpanya.
Tiba-tiba Dante muncul di hadapan Valen dan membuat semua nampak gelap gulita.
"Kenapa lo memandangi Zoey seperti itu?" tanya Dante dengan wajah dingin.
"Minggir, kegelapan lo menghalangi penglihatan gue," keluh Valen, mendorong Dante dengan kasar hingga Dante hampir kehilangan keseimbangan.
"So rude," ejek Hans. Melihat Dante diperlakukan seperti itu oleh perempuan terlihat menyenangkan di matanya.
Pandangan Valen tiba-tiba berpaling dan berpendar memindai Hans.
Ada sesuatu di belakang pemuda sombong itu. Sebuah aura pekat yang memancarkan spektrum merah, seperti yang ada pada lampu lalu lintas. Warna itu menandakan pemilik aura itu akan dibunuh atau bunuh diri.
"Minggir." Valen mendorong Hans untuk menyingkir, ia pun mendapati satu figur perempuan yang sedang memperhatikan mereka dari balik tembok. Sosok itulah yang memancarkan aura merah tadi. Seorang siswi gemuk dengan setelah olahraga.
Ketika menyadari kehadirannya diketahui, sosok itu pun berlari pergi.
"Dia itu kenapa?" gumam Hans, melihat Valen sebagai gadis yang aneh.
Valen kemudian menghardik Dante seraya mencengkram jas seragam milik pria bertubuh lebih tinggi darinya itu.
"Apa yang lo lakukan?" tanyanya, nampak kesal.
"Hanya bernapas," jawab Dante apa adanya.
"Lo... apa lo memberitahu kalau kita gak beneran berpacaran pada dia?" tanya Valen memastikan, sembari menunjuk Zoey yang berdiri diam tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
"Memang itu kenyataannya," sahut Dante dan menepis tangan Valen yang mencengkram jasnya.
"Apa lo pikir gue mengaku menjadi pacar lo hanya untuk kepentingan gue sendiri? Gue lakukan itu untuk menyelamatkan dia juga!" sentak Valen, masih menunjuk Zoey.
"Apa maksud lo?" tanya Dante, mengangkat satu alis.
"Cepat lo bilang kalo kita memang pacaran. Bilang kalo lo mencintai gue dan lo gak punya perasaan apapun pada dia!" titah Valen, bersikeras.
"Wow, lo sedang diperebutkan," ejek Hans, mentertawai.
"Kenapa gue harus mengatakan kebohongan itu? Jelaskan," pinta Dante, tegas.
"Apa hal nih? Kok kumpul di sini?" tanya Andy yang baru datang menghampiri, sembari membawa beberapa barang dengan bungkus pink, yang ia dapat sebagai hadiah dari beberapa gadis yang memujanya.
Valen terdiam untuk saat yang lama sembari menatap Andy. Entah mengapa, suara jernih milik Andy membuat telinganya terpikat dan membuatnya terpaku di tempat.
"Lagi ribut sama cewek lo Dan?" tanya Andy.
"Dia bukan pacar gue," ujar Valen seraya bergeser, memberi jarak antara ia dan Dante.
"Bukannya lo menyuruh gue untuk bilang---"
Valen spontan membekap mulut Dante dengan tangannya, membuat Dante sedikit tertarik dan merunduk.
"Gue balik ke kelas duluan ya. Guru yang masuk sekarang sensian," ujar Andy berpamitan. Ia pun sekalian mengajak Zoey untuk masuk ke kelas bersama.
Valen melepaskan bekapannya pada mulut Dante, lalu dengan santai ia berjalan di belakang Andy dan Zoey, untuk menuju ke dalam kelasnya sendiri. Meninggalkan Dante yang kebingungan dan Hans yang mendes4h heran.
***
Hari sudah sore dan matahari sedang terbenam.
Dante dan Hans turun dari sepeda motor mereka masing-masing, lalu memarkirkannya di depan rumah tua yang akan mereka masuki.
Mereka pun tanpa segan menerobos garis Polisi untuk melihat-lihat ke dalam.
Rumah yang mereka datangi nampak seperti di bangun pada tahun 1900-an.
"Di sana," tunjuk Hans pada sebuah pohon yang telah di tebang.
"Mayat Lita di temukan menggantung di sana," terangnya sembari menunjukkan foto dalam ponselnya. Foto mengerikan yang memperlihatkan kondisi terakhir mantan teman sekelasnya.
"Apa menurut lo, Lita disekap lebih dahulu sebelum dibunuh?" tanya Dante, seraya memperhatikan situasi sekitar.
"Gue meragukan. Dia punya tenaga yang kuat dan bisa merobohkan 10 pria sendiri. Hal yang tidak mungkin jika dia diculik. Terlebih, teknik membunuhnya dan saat dia mengayunkan pisau sangat profesional. Jika lo saat itu tidak menjatuhkan dia dengan tembakan, lo mungkin yang akan disekap di gudangnya hari ini," tutur Hans, meremehkan juniornya itu.
Namun, Dante nampak tak tersinggung, karena ia masih fokus meneliti tempat kejadian untuk mencari petunjuk.
Dante pun mulai berjalan menghampiri pintu depan. Ia lalu mengintip ke dalam rumah melalui jendela.
Ruangan di dalam nampak kosong dengan beberapa kardus yang menumpuk di sudut.
Di samping kanan sepertinya ada pintu yang ia duga menuju dapur, sedangkan pintu di samping kiri menuju kamar.
Dante lalu berjalan lagi untuk menuju ke pekarangan belakang. Saat memperhatikan dekorasi patung kurcaci di antara tanaman mati, tanpa sengaja ia melihat sebuah pintu yang berada di tanah.
Ia sangat ingin membukanya untuk mencari jawaban. Meski ia tidak tau jawaban apa yang akan ia temukan.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Ia segera mengangkatnya dan mendengar suara otomatis mengatakan, "anda memiliki pesan suara dari nomor tidak dikenal."
Ia lalu mendengar pesan suara itu... suara yang sepertinya disamarkan. Mirip dengan suara pedagang pengguna borax di acara TV Investigasi.
"Hai," ucap suara itu pada rekaman pertama.
Lalu rekaman ke-dua mengatakan, "aku merindukanmu."
Rekaman ke-tiga, "oh betapa tampannya kamu."
Rekaman ke-empat, "sinar matamu masih sama. Oh sinar itu memberi kehangatan untukku."
Rekaman ke-5, "bibirmu kering. Mau kubuat lembab lagi?"
Rekaman ke-6, "seratus pelukan hangat untukmu."
Rekaman ke-7, "hidup itu sungguh gelap. Sungguh gelap."
Dan tak ada lagi rekaman yang dikirim.
"Apa itu tadi?" tanya Hans, sempat bergidik ngeri.
Dante tak menjawab.
Ia justru menghampiri pintu yang terletak di atas tanah itu dan mencoba mendobraknya dengan kaki.
"Lo ingin membukanya?" tanya Hans dan dijawab anggukan oleh Dante.
Hans akhirnya membantu, meski tak tau untuk apa Dante ingin membuka pintu itu.
***
Tak lama berselang, pintu pun dapat di buka setelah mereka berhasil menjebolnya dengan kaki.
"There you are," ucap Dante pada sosok yang terkurung di dalam.
Saat mendengar pesan-pesan suara yang dikirim untuknya, pada awalnya Dante mengira itu adalah pesan teror.
Namun ia menyadari, bahwa itu sebenarnya adalah permintaan putus asa dari seorang yang meminta tolong.
"Here," ujar Dante, menawarkan tangannya yang terbalut sarung tangan untuk membantu sosok itu keluar dari dalam sana.
Sosok yang bersembunyi di antara kegelapan gudang bawah tanah itu pun mulai menampakan wajah, membuat Hans terkejut dan jatuh tersungkur ke belakang.
"What the F?" ucap Hans, nampak shock.
Sosok itu kemudian melengkungkan senyum kepada Dante. Senyum yang aneh seperti orang gil4.
"Lo memalsukan kematian, huh?" tanya Dante, seraya berusaha menghindar karena sosok itu sedang mencoba memeluknya.
Dengan masih memasang senyum aneh di wajah, sosok itu berkata, "gue punya sistem pernapasan yang spesial. Yang membuat gue bisa kembali bernapas meski sudah dicekik dan kembali hidup sebelum di kubur."
Bersambung...