
Pagi ini ketika Dante terbangun karena silaunya sinar matahari yang menerpa wajahnya dari sela-sela tirai jendela yang terbuka, entah kenapa ia tiba-tiba menangis. Ia tidak bisa mengingat mimpinya semalam, tapi ia sangat ingin memeluk adik bayinya sekarang.
Ia lalu bangkit dan bergegas menuju kamar adik kecilnya itu.
Di sana, di ranjang kecilnya, Agie sedang bermain dengan boneka dudutnya.
Menyadari kehadiran Dante, bayi kecil itupun mengadah menatap wajah kakaknya itu dan mengukir senyum dengan menarik kedua pipi imutnya hingga ia nampak begitu menggemaskan.
"Agie," sapa Dante seraya mengangkat tubuh kecil adiknya keluar dari ranjang bayi, kemudian memeluknya. "Kamu harus menjaga kakak sampai akhir, okey?
Karena kamu sudah berjanji, dihari kita bertemu lagi, kamu akan bermain dengan kakak setiap hari, sampai napas kakak terhenti." Setelah mengatakan itu, Dante terdiam. Ia merasa bingung luar biasa, karena tak tau mengapa ia bisa tiba-tiba mengucapkannya.
Bayi kecil itu kemudian menyahut seraya menganggukkan kepala pelan dalam dekapan kakaknya, "hu'um. Ag-gie pomes (promise \= janji)"
Di kehidupannya kali ini, ia yakin mampu mencabut belati yang tertancap di hati sang kakak.
***
Sementara itu di kediaman rumah Huong, William nampak sudah rapih dengan seragam musim seminya. Ia hanya tinggal memakai sepatu dan segera ia pun akan siap untuk berangkat ke sekolah.
Ia lalu mengeluarkan tali berwarna pink yang lebih mirip dengan pita dari sakunya, lalu memasangkan di sepatu sebelah kanannya, setelah membuang tali sepatu putihnya yang lama ke tempat sampah. Meski akan terlihat aneh, ia tetap nekat memakainya, tanpa khawatir akan mendapat ejekan dari teman-temannya saat di sekolah nanti.
Dan setelah selesai mengikat tali sepatunya, William nampak masih belum mau beranjak. Ia masih menundukkan kepala, menatap bayangannya sendiri di lantai.
Sekilas matanya terlihat tergenang oleh air mata kepedihan, namun cepat-cepat ia tersenyum untuk menghilangkannya.
Ya, ia sedikit kecewa karena perjalanan mimpi panjangnya telah berakhir dan pada akhirnya ia akan menghabiskan hari-hari biasa di dunia nyata dengan penuh kesepian tanpa Nara lagi. Meski begitu, ia tau Nara akan selalu ada di sisinya, memperhatikannya dan akan selalu menunggunya, di alam lain. Alam yang indah, yaitu alam mimpi.
"Iwaaaaaaaaaan... Iwaaaaaaaaan..." panggilan dari luar membuyarkan lamunan William.
"Iwaaaaaaaaan... Iwaaaaaaaaan... Iwaaaaaaaaaan..."
"Berisik, Jun!" seru William. "Belum aja lo, oe siram pake air seember!" ancamnya, setelah keluar dari rumah menemui temannya Juni.
"Abisan lo lama. Ngapain dulu sih? Mantengin acara gosip?" tanya Juni, berkacak pinggang.
"Bengong dulu oe tadi," jawabnya, jujur.
"Bengong mikirin apaan? Fenomena mimpi basah lo tadi malem?" tebak Juni.
"Lo diem deh, daripada oe jambak," ucap William datar.
"Eleh baper lu," gerutu Juni.
"Lo napa lagi pake masker, hah?" tanya William, heran.
"Lagi sakit gue," jawab Juni.
"Alah, bilang aja biar bisa makan permen pas di kelas," ucap William, tau betul tingkah laku kawannya itu.
"Kaga," elak Juni. "Orang gue pake masker biar gak ketauan gayem gorengan pas di kelas."
"Brilian banget ide lo, Jun. Cuma yang punya IQ tinggi yang kepikiran itu. Emang beda dari yang lain lo, pasti otak lo bentuknya segitiga," ejek William diiringi gelak tawa renyah.
"Kuylah, entar telat," ajak Juni, ia nampak sama sekali tak tersinggung sudah diledek. Keduanyapun kemudian berboncengan mengendarai motor untuk menuju ke sekolah.
Bersambung...