Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Akhir Jerman



"Kamu yang tersakiti karenaku, aku yang tersakiti tanpamu."


***


Zoey sedang asik membaca buku. Itu adalah buku ke-3nya yang hari ini ia baca.


Dante memperhatikan dari meja yang agak jauh. Berpura-pura sedang membaca buku juga.


Tak lama berselang, Virgo dengan senyum memuakkan datang menghampiri Zoey. Ia duduk dihadapan Zoey, membuat pemandangan indah Dante terhalang punggung lebarnya.


Dante menjadi kesal. Bahkan buku yang digenggamnya hampir menjadi korban karena direm#as terlalu kencang dan hampir mengeluarkan asap.


"Eh, Dan." Juni menghampiri Dante dan duduk dihadapannya tanpa minta ijin lebih dulu. "Entar lo mau ikut pembantaian?" tanyanya seraya berbisik, karena mereka sedang berada di Perpustakaan.


"Hah?" Dante tak memahami maksud kawan absurdnya itu.


"Bentar lagi kan Idul Adha. Lo gak daftar tuh jadi Panitia Qurban? Lo pan suka Gore. Lo bisa suka-suka gorok leher kambing di sana," jelas Juni.


"Oh," sahut Dante. "Anyway, kenapa telinga lo belum diberi nomor?" tanyanya.


Kening Juni mengernyit. "Buat apaan?"


Dante tak menjelaskan justru kembali bertanya. "Bagaimana perasaan lo? Apa lo gugup karena leher lo akan segera dipotong?"


"Lo kira gue kambing Qurban!" seru Juni, merasa terhina.


"Sssttt..." Orang di dekat mereka menegur.


"Eh... maaf neng. Ini nih si kampret, di perpus malah ngajak ngobrol," ujar Juni, menjadikan Dante kambing hitam.


Ia lalu kembali menoleh pada kawannya itu dan kembali mengajak mengobrol seakan tidak kapok "Eh, entar jadinya mau nampilin lagu apa?" tanyanya.


Dante mencoba mengabaikan, menganggap Juni tak ada dan membayangkan pemuda aneh di depannya itu hanya poster iklan bubuk agar-agar yang dapat bicara dan tak perlu disahuti. Ia pun lebih memilih membaca buku membosankan yang ia pegang, yang sebelumnya ia ambil asal di rak tanpa melihat covernya.


Namun Juni tak menyerah untuk mengusik kedamaian temannya itu.


"Eh, lu denger gak? Sut, sut, sut, Dan! Sut, sut, sut, suuuuuut!"


Air ludah Juni yang muncr#at kemana-mana membuat Dante menyerah mengabaikannya.


"Apa?" tanyanya geram, menahan kepalan tangannya agar tak membuat keributan dengan menggebrak meja.


"Entar jadinya mau nampilin lagu apa kata si Andy?" tanya Juni mengulangi sembari menyeka wajahnya yang tak sengaja terciprat ludahnya sendiri.


"Lagu daerah," ujar Dante asal.


"Lagu daerah mana?" tanya Juni lagi.


"Daerah rawan konflik," celetuk Dante.


"Becanda mulu lo! Serius napa!" sentak Juni dan sontak saja ia disambut dengan suara desisan dari seluruh penghuni Perpus, yang menyuruhnya untuk diam. "Ssssssttttttt!!!"


Juni yang malu pun hanya bisa menyembunyikan wajah dengan buku.


***


15 menit telah berlalu, Dante yang sudah jenuh dengan buku horor aneh tentang lemari berhantu namun justru menceritakan tentang kisah sepasang suami istri yang bertemu pertama kali di restoran China dan memulai perjalanan cinta mereka dengan motor Supr4 pun memutuskan untuk berhenti membaca buku itu. Ia lalu bangkit berdiri dan berniat untuk pergi.


"Eh, mau kemana Dan?" tanya Juni. Karena tak mendapat sahutan, ia pun ikut bangkit dan berjalan mengikuti.


Ketika Dante dan Juni mencapai pintu keluar, mereka berdua melihat Bayu. Si anak kelas 1 dan mantan korban bully itu sedang berdiri sendirian. Ia nampak bicara pada seseorang atau mungkin sesuatu.


Juni yang heran pun menegur sembari menoleh kesana-kemari. "Lo ngomong sama siapa?"


Dengan wajah serius, Bayu menjawab, "ada residual energi di sini. Pernah ada kejadian menyedihkan dan sisa-sisa energi iku tersimpan di tempat iki."


"Kejadian menyedihkan seperti apa?" tanya Dante, sedikit penasaran.


"Tadi dari lubang kunci," tunjuk Bayu ke pintu Perpus. "Saya liat ada orang lagi mes#um di belakang rak buku paling belakang," ungkapnya.


"Beneran?" Juni langsung mengintip dari lubang kunci yang Bayu maksud untuk memastikan. Namun tak ada yang sedang mes#um di sana. "Gak ada ah," ujarnya kecewa.


"Mungkin mereka sudah pergi karena ketahuan," duga Dante.


"Ndak, kejadiannya di masa lalu," jelas Bayu.


"Oh," ucap Dante. "Lalu apa yang menyedihkan?" tanyanya. "Apa mereka mes#um sembari mengiris bawang?" terkanya.


"Eh, sarap! Ngiris bawang nyedihinnya dimana?" protes Juni.


"Jika lo gak pernah menangis saat mengiris bawang, sepertinya lo gak punya empati," terang Dante.


"Gak gitu dah perasaan konsepnya," gumam Juni dengan wajah cengok.


"Astagfirullah, mungkin abis kecelakaan kemarin otaknya geser. Oh tidak, harus aku umumkan ini pada warga sekitar!" seru Juni dan bergegas angkat kaki. Namun Dante menahan kerah belakangnya hingga ia hampir tercekik dan tak bisa pergi.


"Jika ada gosip aneh-aneh tentang gue berkat mulut sialan lo, akan gue kirim pengaduk semen ke sekolah dan memasukkan diri lo yang sudah terbalut kain kafan ke dalam sana. Mirip dengan scene sinetron yang lo suka," ancam Dante serius.


"Ampun Dan, ampun! Gak akan, gak akan gue ngomong apa-apa ke anak-anak!" ucap Juni, menjerit panik.


Dante pun melepaskan genggamannya pada kerah belakang Juni, hal itu membuat Juni tersungkur jatuh.


Juni lalu mengamankan diri dengan menyandar ke dinding sembari duduk memeluk lutut. Ia tak berani bangkit dan ekspresi yang ia tunjukkan sekarang sama seperti ketika ia dianiaya oleh adiknya Cassi.


"Jadi, apa yang menyedihkan tentang penglihatan lo tadi?" tanya Dante, kembali membahas pernyataan Bayu.


"Penglihatan saya cuma kilasan-kilasan. Mirip kepingan puzzle," ucap Bayu. "Adegan pertama si pasangan memang lagi mes#um. Adegan kedua, mereka jadi kaya orang asing yang ndak saling kenal. Adegan ketiga mereka berantem dan perut si cewek udah besar. Kayanya hamil. Dan seterusnya adegannya jadi random, terus kayanya ada yang ke-skip."


"Btw, mereka berantem kenapa? Si cowok ogah tanggung jawab?" tanya Juni. Posisinya belum berubah, ia masih duduk di lantai memeluk lututnya.


Bayu mengangguk. "Makanya saya lagi dengerin si cewek curhat."


"Si cewek meninggal?" tanya Juni.


Bayu kembali mengangguk, membuat Juni terkejut dengan menaruh kedua tangannya di pipi.


Hans yang kehadirannya tak disadari, tiba-tiba mencondongkan kepalanya ke samping bahu Bayu, ikut menimbrung. "Dia meninggal karena apa?"


Bayu tak menjawab. Ia justru pindah dan menyembunyikan diri ke belakang punggung Dante, ketakutan.


"Kenapa setakut itu?" tanya Hans seraya mengatur posisi tubuhnya kembali tegak. "Gue hanya tanya," lanjutnya, menyeringai.


"Seharusnya lo lebih tau dari siapapun penyebab perempuan yang diceritakan anak ini tadi meninggal," ucap Dante, tatapan matanya pada Hans seperti sedang menuduh.


"Apa maksud lo, huh?" tanya Hans, intonasinya sedikit keras. Firasatnya mengatakan Dante sedang beraba-aba untuk menghinanya, seperti biasa.


"Bung, bukannya lo pernah mengaku pada gue, junior lo yang polos ini, tentang lo yang terbiasa menghamili para gadis? Dan setelah itu lo tinggalkan mereka," ucap Dante.


"Benarkah itu Fernando!" seru Juni, bangkit berdiri dan memasang mimik wajah seperti pemain Telenovela.


"Jika memang benar kenapa? Kalian mau apa?" tanya Hans santai.


"Wis puas?" gumam Bayu dari balik punggung Dante.


"Dia benci dirinya sendiri. Merasa dirinya ndak berharga lagi. Sampean yang lari dari tanggung jawab bikin dia lari dari dunia dengan bunuh diri," tutur Bayu dengan napas cepat tak beraturan.


Hans menyeringai. "Yang lo maksud siapa?"


"Ih Dajjal! Akhir Jerman!" celetuk Juni, memicingkan mata, menatap Hans.


Namun Hans masih tak menyadari dialah tokoh utama yang sedang dibicarakan.


"Lo gak mungkin tau. Lo gak mungkin akan tau rasanya jadi perempuan yang udah dirusak, lalu ditinggal," ucap Dante.


"Memangnya lo tau?" tanya Hans.


"Meski bukan gue, tapi----"


Valen yang baru saja lewat tiba-tiba saja meraih tangan Dante dan menggandengnya pergi. Membuat yang melihatnya diam terheran.


"Kantin yuk?" ajak Juni pada Bayu, karena Dante yang pergi membuat ia tak punya teman untuk diganggu lagi.


Bayu langsung setuju. Mereka berdua pun pergi menuju kantin tanpa berniat mengajak Hans.


Sementara itu, Dante yang baru sadar diseret pergi pun bertanya, "kita mau kemana?"


Valen tak menyahut.


"Lo mau ajak gue kemana?" tanya Dante lagi, sembari melepaskan genggaman tangan Valen.


"Tempat sepi," ucap Valen dan kembali menggandeng tangan Dante pergi.


Dante pun pasrah, meski ia tak tau tujuan Valen membawanya untuk apa, ia ikut saja dan tak kembali bertanya. Intuisinya belum menyadari kalau ada sesuatu yang salah.


***


Lab Komputer. Tempat yang sepi dan agak gelap. Tak akan ada yang mengganggu di dalam situ, pikir Valen.


Ia pun mengajak Dante masuk ke dalam dan bergegas menutup pintunya.


Setelah itu ia memojokkan Dante ke dinding dan mengurungnya dengan kedua tangan.


Meski terkejut diperlakukan seperti itu, wajah Dante masih saja datar.


"Lo sedang apa? Ini maksudnya apa?" Dante mempertanyakan.


"Karena gue sudah menyelamatkan Zoey dari penindasan anak-anak yang menyukai lo, dengan menggantikannya untuk dibenci, gue ingin lo membalas budi," tuntut Valen.


"Lo ingin gue membalas dengan apa?" tanya Dante.


"Lo pasti tau istilah Friend with Benefit," ucap Valen.


"Hmm, iya, kenapa?"


"Ajari gue," pinta Valen, lugas.


"Hah?" Lo, apa ini modus lo?


Katakan dengan jujur, apa lo menyukai gue?" tanya Dante shock.


"Gue menyukai Andy dan lo sudah tau itu!" sangkal Valen. Kalimatnya menyiratkan, "jangan kepedean!"


"Lalu kenapa lo meminta itu, yang lo ucapkan tadi?" tanya Dante bingung.


"Sebagai kawan karib Andy, lo tau sifat Andy seperti apa kan?"


"Ya. Playboy, buaya darat, brengs**, pria buruk, toxic, lalu---"


"Jangan menjelek-jelekan dia di depan gue!" sela Valen.


"Tapi itu fakta, kan?"


"Lo ingin gue balas dendam dengan menyebut seluruh kejelekan Zoey?" tantang Valen.


"Okey, okey, jadi kenapa dengan sifat Andy? Dan apa hubungannya dengan ajakan lo tadi?" tanya Dante.


"Andy lelaki yang selalu dikelilingi perempuan, gue jadi kesulitan mendekatinya. Karena itu gue ingin terus terang dan mengajaknya tidur. Karena itu cara instan agar gue bisa mendapatkan dia dengan mudah dan dia bisa langsung berada dalam genggaman gue," tutur Valen tak sedang main-main.


"Lo seputus asa itu?" tanya Dante tak habis pikir. "Dan kenapa melibatkan gue?"


"Gue belum pernah melakukan itu.


Gue rasa lo guru yang cocok untuk mengajari gue itu.


Gue gak ingin tampil konyol, sementara gue yang mengajak," ujar Valen.


"Lo butuh obat. Sepertinya ada sel yang sakit di dalam otak lo," ucap Dante sembari menyingkirkan tangan Valen yang mengurungnya dengan lembut. Kemudian berniat melangkah pergi.


"Lo gak bisa pergi gitu aja!" hadang Valen dan kembali memojokkan Dante ke dinding.


"Gue gak pergi. Gue akan belikan lo obat. Itu hanya sebentar, gue akan kembali," ujar Dante, berbohong. Ia hanya ingin kabur.


"Zoey akan mati. Kematian menginginkan Zoey," ucap Valen tiba-tiba. Ia mengatakannya dengan suara aneh seperti bukan suara yang berasal dari dirinya. Kesan mistis pun terpampang jelas di wajahnya yang terbingkai helaian rambut yang berjatuhan.


"Akan gue carikan pria lain jika memang lo sudah tidak tahan. Jangan usik Zoey," ujar Dante, masih bisa bersikap sabar.


"Kenapa lo menolak permintaan gue? Apa gue sejelek itu? Apa gue gak menarik untuk membuat lo terang$#ng?" ucap Valen blak-blakan.


"Lo memang cukup cantik meski isi kepala lo sepertinya belum komplit. Tapi gue gak bisa melakukan itu dengan lo, teman gue sendiri," ungkap Dante terus terang, diiringi ejekan.


"Jadi jika Zoey yang mengajak, lo akan menolaknya juga? Karena dia juga teman lo, kan?" sambar Valen.


"Jika itu Zoey, akan gue pertimbangkan. Karena hanya dia yang boleh menyentuh gue," ucap Dante dengan nada menyebalkan.


Valen berdecih. "Lo ingin sok suci sampai akhir?"


"Lo bisa bersaing dengan 1000 orang yang menyukai gue, tapi tidak dengan orang yang gue sukai," ujar Dante.


"Siapa yang menyukai lo!" sangkal Valen.


"Lalu apa yang lo lakukan saat ini? Apa lo tau, ini termasuk pelecehan?" Kalimat yang Dante ucapkan itu membuat Valen terdiam.


"Jika lo memang benar-benar menyukai Andy, lo hanya perlu tunjuk, ambil dan pergi," racau Dante. "Kenapa justru menawarkan s#x?" tanyanya.


"Lo benar-benar membuat gue kesal," geram Valen.


"Yang harusnya kesal adalah gue. Gue sudah cukup bersabar pada lo. Bahkan gue bersabar ketika lo seperti menghalang-halangi hubungan gue dengan gadis yang gue suka. Tapi kali ini---"


"Sayang sekali, lo gak bisa mendapatkan gadis yang lo suka itu tanpa bantuan dari gue," sela Valen, menyeringai licik.


"Bagaimana jika gue bisa?" tanya Dante, menatap tajam.


Valen menyunggingkan senyum misterius. "Maka hanya mayatnya yang bisa lo dapatkan."


Bersambung...