Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
I See Your Monster



"Duh kenyang," ucap Juni sembari menyandarkan diri di kursi, setelah habis menyantap makanannya tanpa sisa.


"Pesen lagi ah," ujarnya membuat yang lain terheran.


"Lo udah kenyang mau pesen lagi?" tanya William yang ia sendiri pun belum selesai menghabiskan makanan di piringnya.


"Emang kenapa sih?" tanya Juni mengernyitkan dahi.


"Gila, perut karet. Padahal di mobil lo udah makan nasi kuning, gorengan sama donat loh Juni," tutur Feby.


"Tapi masih pengen ngunyah, ukhty," balas Juni.


Duuuttt...


Suara nyaring terdengar dan menciptakan kesunyian di antara mereka.


Rin yang tengah mengkonsumsi es krim spontan menutup hidungnya.


William memicingkan mata ke arah Juni.


"Jorok banget Jun. Yang lain masih pada makan, lo malah kentut," keluhnya sembari melemparkan sendok ke arah si terduga pelaku, namun si terduga dapat menghindarinya dengan begitu mulus.


"Iya ish, jorok banget Juni. Bau lagi," ungkap Feby sembari mengibas tangannya di depan wajah.


"Gue gak kentut," bantah Juni tak merasa melakukan itu.


"Agie kali yang kentut," tuduhnya pada bayi dipangkuannya. Namun si bayi dengan cepat menggeleng untuk mengelak tuduhan yang ditimpakan padanya.


"Lo boleh kentut sembarangan karena udah terlanjur, tapi jangan fitnah bayi sembarangan!" seru William emosi.


"Serius mas, gue gak kentut. Percayalah padaku," ujar Juni dengan mata berbinar memohon agar sahabat berbeda rasnya itu percaya padanya.


"Terus siapa yang kentut? Baunya di elo kok. Masa setan yang kentut?" tanya William yang sudah tak bernafsu melanjutkan makan.


"Jangan salahkan setan. Mereka saat ini sedang sibuk menimbun minyak," celetuk Valen, membuat orang-orang menoleh padanya dalam diam.


"Asli gue gak kentut," bantah Juni lagi.


Ia kemudian menatap bayi dipangkuannya dengan lembut sembari memegangi kedua bahunya.


"Agie, coba jujur ke kakak, kamu yang kentut kan?" tanyanya, menatap mata bulat bayi itu dalam-dalam.


Namun Agie yang tengah memeluk sepatu sneekers merah muda di dekapannya lagi-lagi menggeleng.


Ia terlihat sedikit mengejan lalu berkata, "poopoo."


"Heeeeeeh? Gak kentut tapi ee?" tanya Juni memastikan. Agie pun mengangguk mengiyakan.


"Astagfirullah, kok gue pingin ngakak sih," celetuk Feby yang tak mengira hal itu.


"Hurry up! Bawa bayi bau itu ke toilet," titah Rin berekspresi mual.


Juni pun buru-buru bangkit dari kursi sembari membawa Agie dengan mengapitnya di ketiak.


"Dan! Adek lo ee, Dan!!!


Dan! Adek lo ee!!!" pekiknya sepanjang jalan.


Bu Agatha pun bergegas menyusul Juni, karena cemas Juni tak bisa menanganinya sendiri. Sembari membawa koper bayi Agie, yang mungkin ada popok di dalamnya.


***


Setelah Juni pergi, Dante datang menghampiri meja teman-temannya dengan memar di sudut bibir dan punggung tangan kanannya.


Rambut yang tadinya tertata rapih miliknya pun terlihat sudah acak-acakan.


"Sorry, kalian menunggu lama," ujarnya dan mendudukkan diri di kursi.


"Lo abis ngapain, Dan?" tanya William heran dengan penampilan kawannya itu.


"Bukan hal besar. Hanya mengurung pengganggu di kios kosong," jawab Dante santai dan meneguk segelas air.


"Mwo? Lo mengurung my Hans?" tanya Rin sembari menggebrak meja.


"Exactly," sahut Dante menyeringai.


"Lo tidak ingin pergi untuk membantunya ke luar dari sana, senior?" usir Dante halus.


Rin bimbang.


Ia ingin mengeluarkan salah satu dari TTMnya yang sedang terjebak itu.


Tapi... mengingat sepatunya ada pada Agie, si bayi yang baru saja buang air dan telah pergi dibawa oleh Juni yang entah kemana, ia pun mengurungkan niatnya dan menenangkan diri meski ia sedikit emosi.


"I think... my Hans bisa mengurus dirinya sendiri di sana," ujarnya berpura-pura tak peduli.


Dante menatap sekitar, ia baru menyadari adik bayinya tak ada.


"Dimana Agie?" tanyanya, ekspresinya berubah panik.


"Oh iya, tadi Juni bawa Agie. Soalnya adik lo itu buang air besar," terang Feby.


"Kenapa dia gak berikan pada gue?" tanya Dante bertambah panik, seakan itu adalah masalah besar.


"Emang gak papasan sama lo? Juni perginya belum lama padahal. Bu Agatha juga nyusulin," tutur Feby.


Dante segera bangkit kembali dari kursi, ia bergegas pergi untuk mencari adiknya.


"Lo gak akan makan Dan? Apa mau dibungkusin aja?" tanya Feby sebelum Dante benar-benar pergi.


"No need. Gue gak terbiasa makan," jawab Dante dan lekas pergi.


"Hah? Maksud dia apaan gak biasa makan?" Feby terheran tak memahami.


"Gak usah heran Feby. Oe sendiri temen akrabnya gak pernah liat Dante makan," ujar William sembari bermain game ponsel.


"Hah? Terus dia gak pernah makan?" tanya Feby semakin dibuat heran.


"Entah sih," balas William.


"Dia gak makan kok masih hidup?" tanya Feby lagi.


"Setau oe sih dia sering konsumsi minuman energi gitu. Rekomendasi dokter katanya," tutur William masih terfokus pada layar ponsel.


"Dia kenapa kaya gitu? Gimana pun manusia tetep butuh makan, kan?" ujar Feby yang masih heran.


"Saat SMP Dante mengalami obesitas," celetuk Valen tanpa memberi ekspresi.


William melirik Valen dan mematikan game yang sedang ia mainkan.


"Iya, ibunya suka bikinin makanan manis makanya Dante jadi kegemukan," sahutnya menatap Valen dengan curiga dan bertanya di dalam hati, siapa sebenarnya murid baru yang dengan mudah mendapat ranking 3 di sebelahnya ini? Kenapa ia bisa tau informasi rahasia teman baiknya itu?


"Mereka temenan?" tanya Feby, jiwa keponya terpancing untuk muncul.


"Dulu," jawab Rin sembari melipat tangan di dada dengan angkuh.


"Been a long time," sambungnya seperti melakukan intro.


Ia kemudian melanjutkan.


"Dante dan My Hans adalah 2 pecundang yang berhasil membuat orang-orang yang pernah mengolok-olok mereka berakhir mencium sepatu."


"2 pecundang?" Feby kembali bertanya.


"My Hans dulu punya banyak pimples (jerawat) karena puber.


So, dia hanya bisa berteman dengan orang-orang yang senasib.


Orang-orang yang not popular. Seperti Dante saat SMP yang overweight.


Lo pasti not expect dengan wajah mereka berdua sekarang, right?" tutur Rin sembari menyantap es krimnya kembali, dengan erotis.


"Gak disangka kak Hansel pernah jadi korban bully. Padahal sekarang dia yang jadi tukang bully. Apa dia sekarang kaya gini karena dendam?" cetus Feby.


"Dia pencari perhatian. Berpura-pura tangguh tapi mengincar yang lebih lemah. Dia menghindari orang yang lebih kuat. Dari segi mental dia masih pecundang," celetuk Valen seraya menatap sup dihadapannya.


"But he's here for Dante, for fighting. Argumen lo terbantah dengan itu," sahut Rin kembali melengkungkan senyum sinis.


"Lo mengakui Dante lebih kuat dari Hans?" tanya Valen mengangkat wajahnya menatap Rin.


"Ani, bukan itu yang gue maksud," bantah Rin.


"Mata lo baru saja berbohong," ujar Valen dan kembali menunduk menatap supnya.


"Oke, but... argumen lo masih terbantahkan karena my Hans berani melawan orang yang lebih kuat darinya," cetus Rin membanggakan pria yang sebenarnya hanya partner perzinahannya saja.


"Oh? Kalau begitu apa gue boleh tanya?" Valen kembali mengangkat wajah untuk menatap Rin.


"Go ahead." Rin mempersilahkan.


"Jika your Hans memang pemberani, untuk apa mengajak teman-temannya hanya untuk sekedar berkelahi dengan Dante?


Gue yakin tadi Dante gak hanya melawan dan mengurung satu orang di dalam kios kosong. Mungkin sudah ada 15 orang yang terjebak di sana," cetus Valen memberi seulas senyum kemenangan.


Rin pun terbungkam, ia kelimpungan, tak tau harus memberi alasan apa.


"Lo gak bisa jawab?" tanya Valen menegaskan kemenangannya.


"Gue not have HAK to answer," ucap Rin, menolak menjawab.


"Jaksel banget mbak," gumam Feby menyindir.


"Lo tadi bilang apa?" tanya Rin dengan tatapan mengintimidasi.


"Gue tadi bilang, keren ya Dante bisa nurunin berat badannya. Nanti gue minta tips dietnya deh," ujar Feby tersenyum kecut. Namun batinnya ia bersyukur Rin sempat tuli, karena akan jadi masalah jika Rin tersinggung dengan gumam'annya tadi.


"Gak usah Feb. Dietnya Dante ekstrim.


Dia gak makan sama sekali dan setiap minggu ngegym angkat beban berat. Kalo lo bukan robot, lo gak akan mampu," tutur William yang sudah kembali memainkan game ponselnya.


"Gue gak percaya Dante sama sekali gak makan. Mungkin dia diem-diem makan tanpa ada yang liat," duga Feby.


"Gak mungkin. Dante keliatan udah trauma karena pernah diejek gemuk. Jadi, pastinya dia phobia sama makanan. Sampe dia mikir makan sesuap nasi aja bakalan bikin dia gendut," balas William.


"Beda banget ya sama Juni. Dia sejak diperjalanan gak berhenti ngunyah dan tadi habis makanpun niat nambah, badannya gak gemuk-gemuk. Bener-bener perut karet," ujar Feby.


"Jun kalo makan itu gak tumbuh jadi daging tapi jadi dosa," ledek William tertawa renyah.


"Dante makan," celetuk Valen lagi.


"Dia terkadang makan sesuatu yang disuapi adik bungsunya. Meski itu sudah kotor," sambungnya.


William mem'pause game-nya dan menatap Valen penuh tanda tanya.


"Sorry Val, oe tanya ini.


Darimana lo tau detail itu?" tanyanya penasaran.


"Apa lo selidikin Dante?" terkanya.


"Mia yang memberitahu," ungkap Valen santai.


Rin melotot ke arah Valen.


"Apa?" tanya Valen tak suka dengan tatapan Rin.


"Omo... bertambah satu junior yang indigo di sekolah kita," cibir Rin, ekspresinya berubah meremehkan.


"Apa hantu Mia memberitau lo juga kenapa Dante over bucin pada adik bayinya?" tanyanya seperti menantang.


"Hanya untuk hiburan," jawab Valen dingin.


"Hiburan?" Rin tak mengerti maksudnya.


"Jangan berharap iblis memiliki emosi. Dante gak punya emosi. Dia hanya...


yang dia pikirkan hanya menghibur dirinya sendiri," jelas Valen. Nada suaranya selalu konsisten, tidak tinggi ataupun rendah, namun lembut dan tegas.


"Gak punya emosi?" William mengangkat satu alis.


"Oe kenal Dante sejak TK dan dia bisa mengekspresikan emosinya dengan baik. Contohnya, marah.


Daniel sering kena marah Dante, bahkan hampir setiap saat.


Kenapa lo bisa bikin stat kalo Dante gak punya emosi?


Meski emang kadang dia persis kaya robot sih, tapi oe jamin dia punya emosi," bela William.


"Sorry gue ralat, karena mungkin lo kurang memahami. Maksud gue, Dante gak punya perasaan," jelas Valen lagi.


William dibuat diam, ia tak bisa mengelak. Temannya itu memang tak punya perasaan. Terbukti saat melihat seseorang mengalami kecelakaan di depan matanya, Dante menganggapnya seperti tontonan sembari bergumam, "It's so pretty. Do it again."


Entah mengapa ia bisa berteman dengan monster berhati dingin itu.


"Jadi, lo mau bilang rasa sayang Dante ke Agie, adiknya, cuma akting?" simpul Feby.


"Apa menurut lo, Dante sendiri mengerti apa makna dari kata rasa sayang?" tanya Valen, tanpa ada satupun yang memberi jawaban.


Bersambung...