Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Pertemuan (2)



"Kak Iam," panggil sesosok gadis kecil yang entah sejak kapan sudah berdiri di tengah-tengah ruangan, membuat William menutup kembali pintu dan batal untuk pergi.


William membalas dengan senyum. Ekspresinya nampak tenang, meski hatinya saat ini sedang berteriak, "imut banget astaga Tuhan!"


"Kamu Nara?" tanya William memastikan. Karena wajah gadis mungil di hadapannya jauh lebih menggemaskan daripada di foto.


Nara mengangguk seraya menarik pipi chubby-nya untuk tersenyum.


"Aaaarrrggghhh... grogi. Mau ngomong apa hamba," batin William.


Ada irama kesenyapan yang panjang di antara mereka, meski suara kotak musik masih berputar.


"Kamu yang banting pintunya tadi?" tanya William yang akhirnya kembali membuka mulut.


"Nggak, itu angin," jawab Nara, menggeleng, tak mau mengaku.


"Oh. Mhm... Nara kan hantu. Kamu pernah gak sih ketemu hantu lain? Kaya ketemu kuyang terus numpang naik di atas kepalanya buat jalan-jalan terbang?" tanya William spontan. Ia kemudian memukul mulutnya karena menanyakan pertanyaan aneh, akibat salah tingkah.


"Aku gak perlu numpang sama kuyang. Aku bisa terbang sendiri," jawab Nara dan perlahan tubuhnya melayang mendekati langit-langit atap.


"Eh, astaga. Turun Nara, nanti jatuh," titah William khawatir.


"Gak akan jatuh kok. Aku kan udah pro," sahut Nara yang saat ini melayang-layang mengitari William dengan senyum merekah di wajah.


"Turun sini, ngobrol di bawah aja sambil duduk," pinta William.


"Gamau. Aku mau turun kalo rakyat udah demo!" ucap Nara, memasang ekspresi pouty face.


"Jangan kaya gitu! Masa nunggu rakyat demo baru mau turun. Harusnya kamu introspeksi. Kalau yang kamu bawa bukan kepentingan rakyat tapi kepentingan pribadi dan justru dengan kamu naik menyengsarakan rakyat, kamu harusnya sadar diri! Turun gih biar diganti," dengus William.


"Loh? Kita bahas apa sih?


Udah turun Nara, kita mabar pabji," pancing William.


"Oke, aku mau turun di Pochinki ya." Nara terpancing dan perlahan menurunkan diri.


"Iya, boleh," sahut William sembari mendudukkan diri di sisi ranjang dan mengeluarkan ponselnya untuk login.


"Umh..." Nara tiba-tiba mendekatkan wajahnya untuk menatap wajah William, mata mereka pun bertemu.


"Apa? Kenapa?" tanya William, kembali salah tingkah.


"Lama gak ketemu kakak tambah ganteng ya," puji Nara.


"Emang kakak jualan?" tanya Nara dengan wajah polos, seakan pipinya minta untuk dicubit


"Eng...gak gitu. Cuma ya kakak kesulitan cari pacar aja. Karena bisa dibilang kakak no life," terang William.


"Kakak kenapa gak ikut grup kak Jun aja? Siapa tau ketemu pacar di sana," ujar Nara seraya mendudukkan diri di samping William.


"Grup apa?" tanya William.


"Grup janda muda m0nt0k aduhai," celetuk Nara dan membuat William tersedak ludahnya sendiri.


"Aku denger yang jadi moderatornya guru di sekolah kakak. Namanya Pak Sumanto," cetus Nara lagi.


"Astaga Tuhan..." William mer3sm4s ponselnya, geregetan.


"Umh kak..." ucap Nara, mendadak memasang wajah heran.


"Apa?" tanya William.


"Kakak beneran gak punya pacar? Padahal aku denger kakak udah nikah," ucap Nara bingung.


"Hah? Kakak belum nikah. Kakak masih SMA masa udah nikah," sangkal William.


"Iya kok. Aku denger kakak pernah bilang kalo istri kakak marganya .jpg," tutur Nara merengut.


William menelan ludah. Ia tak tau harus mengatakan apa.


Wajahnya lalu memucat. Entah mengapa sesuatu yang ia takutkan terpikir dibenaknya.


"Nara... kamu beneran selalu ngikutin kakak?" tanyanya.


Nara mengangguk. "Kecuali ke kamar mandi."


"Mhm... apa kamu pernah... liat kakak di depan komputer---"


"Nonton kartun tel4nj4ng?" sela Nara.


William membeku. Dalam kesehariannya, ia seharusnya lebih berhati-hati.


Bersambung...