
***
Dante menutup buku catatannya setelah selesai mengerjakan semua soal yang ia salin dari papan tulis.
Ia lalu melirik Valen yang masih menulis di atas bukunya. Namun anehnya Valen menggeser bukunya seolah agar seseorang yang berada di belakangnya dapat melihat.
Ketika menyadari Dante memperhatikannya, Valen pun diam, menunduk.
"Lo kenapa?" tanya Dante bingung.
Valen masih diam, menggeleng.
Dante lalu mendekatkan wajahnya, memperhatikan Valen penuh selidik. "Ada apa? Katakan."
Dante masih menatap Valen curiga, seraya memperhatikan rambut panjang hitam gadis di sampingnya itu yang dibiarkan acak-acakan. "Ikut saja," ucapnya, lalu dengan lembut merapihkan rambut Valen agar lebih enak dilihat. "Dengan wajah ini, lo bisa menjadi juara 2," lanjutnya.
Valen mendengus. "Lo berpikir Zoey yang akan menjadi juara 1?" tanyanya.
"Tentu saja." Dante mengangguk yakin. "Dia gadis terindah."
Mendengar itu Valen memasang wajah masam. "Bagaimana kalau Zoey yang juara 2?" tanyanya lagi.
"Karena Dara memiliki banyak penggemar, jadi mungkin saja. Tapi itu bukan masalah, lo bisa menjadi juara 3," ucap Dante dengan nada kurang mengenakan sembari menatap ponselnya.
Valen lalu kembali bertanya. "Bagaimana kalau justru Zoey yang menjadi juara 3?"
Dante menatap teman sebangkunya itu sesaat lalu beralih pada ponselnya lagi. "Maka gue bunuh jurinya."
"Tsk." Valen mengumpat dalam hati.
Sementara itu para siswi perempuan sedang menggunjing Valen dengan makian yang buruk dan tak enak di dengar. Mengatakan Valen gadis mengerikan yang suka mencari perhatian.
Fotonya yang dipojokkan di dinding bersama Virgo sudah menyebar, membuat Valen tak heran ia menjadi gosip hangat hari ini.
Namun, Valen bukan hanya mendapat hinaan dan gunjingan tentang itu saja. Ia pun mendapat fitnah telah menjual diri untuk uang kepada Rey, anak kelas 3 yang selalu tersenyum menyapa saat Valen berpapasan dengannya.
Anak-anak mulai mengasihani Dante karena memiliki pacar murahan seperti itu dan mereka terus membuat postingan di platform sekolah dengan cuitan yang meminta agar mereka lekas putus.
"Bisa kalian berhenti?" ucap Dante tiba-tiba. Dengan suara tegas dan keras.
Semua mata pun kini menuju padanya. Menatap dalam diam.
"Hapus, sebelum gue ambil tindakan," ancamnya.
William yang paham dengan maksud Dante pun ikut membuka suara. "Buruan hapus postingan kalian. Kalo kalian gak berharap jadi tumbal setan."
Kelas lalu menjadi hening, tak ada yang berani menyahut ataupun membuat suara sekecil apapun.
Tak lama kemudian terdengar sebuah teriakan yang menggema sepanjang lorong di luar kelas. Suara teriakan itu berangsur mendekat dan memunculkan sosok Juni yang berlari sembari menjerit-jerit panik.
"Huwaaaaaaaaaaaaaa..."
"Kenapa lo, hah?" tegur William.
"I-tu... i-tu... i-tu... i-tu..." Wajah Juni sudah pucat dengan napas yang tak terkendali.
"Kenapa? Lo dikejar Pak Sumanto? tanya William.
Juni menggeleng. Ia menarik napasnya lalu mendudukkan diri. "Gue liat hantu tadi," ungkapnya, masih mengatur napas.
"Hantu? Gimana ceritanya?" tanya salah satu anak yang kepo. Semua murid pun mulai mengerubungi Juni karena rasa penasaran.
Juni lalu mulai menceritakan kejadian mencekam yang baru saja ia alami dan penampakan mengerikan yang telah ia lihat saat sedang dihukum membersihkan toilet sekolah.
Bersambung...