Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Hantu

























***


"Seorang gadis remaja kehilangan nyawanya di tengah hutan malam itu, dan dia mirip dengan Erika, tentu aku akan membalas dendam!" ucap Virgo, yang saat ini sedang serius berbicara dengan seseorang dalam panggilan telepon.


"Baiklah, biar aku yang urus. Jangan gegabah dan---" tiba-tiba sambungan telepon terputus, berganti bunyi isak tangis teredam menyedihkan dan mengganggu pendengaran.


Virgo kemudian memeriksa ponselnya, dan mendapati bar sinyal yang kosong.


Hal itu membuatnya yakin bahwa suara tangis barusan tidak berasal dari ponsel miliknya.


Virgo lalu memasang telinga, dan ketika ia kembali mendengar suara tangisan tersebut ia pun bergegas mencari tahu dari mana asalnya dan siapa pemiliknya.


Saat Virgo melangkahkan kakinya semakin dekat dan dekat dengan suara itu, saat akhirnya ia tiba di depan pintu gudang, ia bisa mendengar suara berbisik pelan diantara tangisan sesenggukan.


Virgo lalu mengangkat tangan dan menyentuh gagang pintu di depannya dengan ragu.


"Siapa di sana? Apa ada orang di dalam?" tanya Virgo. Namun tak mendapat jawaban.


Ia lalu menarik napas dalam-dalam sembari memejamkan mata. Kemudian dengan perlahan ia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka.


Dan apa yang Virgo lihat membuat seluruh darah ditubuhnya membeku.


Di sudut sepi, di dalam gudang peralatan olahraga, sesosok pucat, hampir transparan nampak sedang duduk terisak-isak seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Ketika menyadari kehadiran Virgo di sana, sosok itu pun mengangkat wajahnya dan Virgo langsung mengenalinya.


Seketika wajah Hans yang tadinya begitu merana, kini dapat sedikit menampakkan kebahagian. Karena pada akhirnya ada seseorang yang bisa melihatnya. Ia pun langsung berdiri dan tanpa peringatan langsung melayang mendekat ke arah Virgo.


"Virgoooooo... kenapa... kenapa gue harus mati?" tanyanya tersedu, mencoba memeluk Virgo namun gagal, membuatnya tersungkur dan jatuh ke lantai.


Virgo lalu memutar tubuhnya. Ia hanya bisa memperhatikan Hans di tempat dimana ia terjatuh, tanpa mampu menolong. Karena tak memungkinkan baginya untuk menyentuh tubuh Hans yang saat ini nampak seperti sebuah gambar hologram.


"A-apa yang terjadi? You're a ghost?"


"Yeah, yeah, surprise, i'm a ghost," jawab Hans ketus, kemudian bangkit sendiri sembari menepuk-nepuk seragamnya seakan tertempel debu saat terjatuh tadi. Ia lalu terisak lagi.


"Tapi bagaimana? Bagaimana bisa?" tanya Virgo kebingungan dan mengambil satu langkah lebih dekat dengan Hans untuk mengamatinya.


"I'm not sure.


Petugas medis bilang karena serangan jantung," ucap Hans masih sesenggukan.


"Wow," gumam Virgo. Ia tak bisa berhenti mengamati penampilan Hans saat ini.


"Apanya yang wow?!" protes Hans nampak begitu tersinggung.


"Kamu sudah mati dan, dan seharusnya tidak berada di sini." Terkejut, terpukau, takut, ketiga emosi itu berkecamuk dalam kepala Virgo. "Ini... ini benar-benar bertentangan dengan apa yang aku percayai. Ini melawan semua hukum alam yang ada. Hantu itu tidak ilmiah dan tidak nyata. Seharusnya begitu seterusnya," ungkapnya tak dapat percaya.


"Oh ya? Jadi menurut lo gue ini apa?" tanya Hans sinis dengan sedikit membentak.


"Mhm... semacam gangguan halusinasi?" terka Virgo, sembari mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Hans menghela napas kesal. "Hei, dengar akan gue adukan penghinaan lo ke Komunitas Hantu setempat jika nanti gue berhasil menemukan kantor pusat mereka. Tapi, eh, apa mereka juga punya layanan pengaduan untuk membantu masalah gue ya?" renungnya sembari memegangi dagu.


"Ini terlalu aneh, Hans. Setelah kamu mati seharusnya kamu pergi ke alam baka. Kenapa justru---"


"Mungkin karena gue punya urusan yang belum selesai," potong Hans. "Dalam film biasanya karena hal itu," jelasnya.


"Oh, begitu. Ngomong-ngomong aku sedang sibuk sekarang. Aku harus pergi ke suatu tempat," ucap Virgo berpamitan dan langsung melangkah pergi meninggalkan Hans.


"Hei, dasar jahat! Lo seharusnya berbasa-basi menawari gue bantuan atau setidaknya mendengarkan curhatan hantu kesepian ini dan menemaninya atau memberinya motivasi agar tak putus asa!" seru Hans sembari melayang mengikuti langkah kaki Virgo.


"Kamu sudah besar Hans," ujar Virgo seraya menghela napas jengah. "Berhenti merengek seperti seorang bayi yang takut ditinggal oleh ibunya pergi ke kamar mandi sebentar. Carilah orang lain yang sedang senggang untuk diganggu, atau pulang saja ke rumahmu. Lagipula jam sekolah sudah berakhir sejak tadi," sarannya.


"Gue sendiri ingin pulang, Virgo. But, i can't do it. Setiap kali gue mencoba keluar dari sekolah ini, gue akan kembali ke dalam gudang gelap itu," jawab Hans. Nada suaranya terdengar sedih. "Apa gue akan di sini selamanya? Dan menyaksikan kalian lulus, sementara gue hanya bisa bergentayangan di gudang menyeramkan itu selamanya?"


Virgo menghentikan langkahnya, merasa iba. "Itu tak akan terjadi, Hans," ucapnya.


Ia lalu mengamati penampilan Hans sekali lagi. Ia menyadari mata cokelat redup yang Hans miliki sudah berubah, menjadi kelabu gelap, sesuai dengan waran tubuhnya yang pucat seperti asap.


"Aku benar-benar harus pergi. Besok aku akan kembali kemari pagi-pagi dan mencoba sebisaku untuk membantumu menyebrang ke alam baka."


"Bagaimana lo melakukannya?" tanya Hans. "Lo punya rencana?"


"Ya." Virgo mengangguk yakin. "Memanggil Dukun, Paranormal atau Pendeta. Akan aku coba segalanya," jawab Virgo.


"Hei, sebentar...


Gue ingin dibantu... BUKAN DIUSIR!" protes Hans, tidak setuju.


"Oke, oke. Aku akan batalkan rencana itu. Tapi... apa kamu ingat urusan apa yang belum kamu selesaikan? Aku butuh petunjuk untuk bisa menolong," ujar Virgo seraya menatap penuh selidik.


"Entahlah, saat gue berusaha mengingat alasan gue berada di sini, ketika di gudang seharian tadi... yang dibenak gue... gue melihat wajah Valencia," ungkap Hans sembari menerawang jauh ke langit jingga yang berpendar kemerahan.


"Valencia? Kenapa? Urusan apa yang kamu punya dengan dia?" hardik Virgo bertanya-tanya.


"Gue sempat bertemu dengan hantu lain. Dan mereka bilang takdir gue diubah demi nyawa seseorang. Mereka tidak bilang seseorang itu siapa. Gue pun kurang paham tapi... gue berprasangka Valencia yang sudah main-main dengan takdir gue, hingga gue berakhir seperti ini," jelas Hans. Keheningan mengikuti kata-katanya.


Hans kemudian bicara lagi. "Meski sebenarnya gue juga curiga pada adik kelas bernama Bayu itu. Tapi Valencia lebih mencurigakan karena dia pernah mengancam gue."


"Mengancam apa?" tanya Virgo menatap tajam.


Bersambung...