Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Pertemuan



"Nara suka warna pink. Warna yang biasa diasosiasikan dengan cinta dan romansa. Warna yang dikaitkan dengan sesuatu yang feminim. Warna yang dipandang mencerminkan kelembutan, kebaikan dan kasih sayang," tutur Naru seraya menyajikan beberapa camilan kue melon dan menyuguhkan teh bunga krisan pada kedua tamu di hadapannya.


"Gue ingin tau..." ucap Valen sembari menghirup wangi teh dari cangkir yang disajikan Naru untuknya sebelum mencicipi.


"Setelah Nara meninggal, kenapa lo masih menetap di sini? Kenapa lo gak pindah rumah atau kembali ke Jepang seperti ayah lo dan istri barunya lakukan?" tanyanya, kemudian menyeruput teh miliknya.


"Seseorang pernah berkata padaku bahwa Nara akan lahir kembali. Jadi aku tetap di sini. Karena mungkin dia akan mencari rumah kami lagi," terang Naru.


"Bagaimana jika dia lupa tentang kehidupan dia sebelumnya dan gak akan pernah mengunjungi lo lagi meski dia lahir kembali?" tanya Valen lagi dan menaruh cangkir tehnya kembali ke atas meja.


"Gak apa. Aku selalu berdo'a, dimanapun Nara akan terbangun, aku berharap Nara bahagia," ujar Naru tersenyum cerah. Senyum yang membuat Valen hampir jatuh cinta. Namun sudah ada Andy dihatinya.


"Um... meski bahagia tanpa lo?" tanya Valen ceplos, membuat William menyenggol lengannya pelan, karena pertanyaan Valen terdengar menyinggung.


Namun Valen mengabaikan. Justru lanjut bertanya karena Naru belum menanggapi.


"Meski lo bukan kakaknya lagi?"


Naru berdehem, kemudian menjawab.


"Hm... sejujurnya, aku merasa kurang cocok menjadi kakak Nara."


Ia meminum tehnya, lalu melanjutkan.


"Jika diingat kembali, yang kulakukan hanyalah memarahinya."


"Oh," ucap Valen terdengar kurang simpatik.


"Ada banyak orang yang menganggap Nara seperti adiknya sendiri. Mereka memperlakukan Nara lebih baik daripada lo. Pastinya lo merasa malu."


Naru tertawa kecil mendengar itu. Ia lalu menunduk, kemudian diam melamun.


Teringat saat terakhirnya bersama Nara, adiknya. Air mata membasahi wajahnya saat itu, saat melihat kondisi tubuh Nara yang mengenaskan karena jatuh dari atas tebing.


Tentu ia panik.


Tentu ia memanggil layanan darurat.


Nara masih bernafas saat itu. Meski hanya sedikit nafas yang keluar.


Nara pun berhasil membuka matanya dan tersenyum saat melihat Naru, kakaknya.


Nara telah pergi. Tanpa sempat mengatakan selamat tinggal.


"Ru," panggil Valen, menyudahi lamunan Naru.


"Mm?" Naru menyahut seraya menyunggingkan seulas senyum tipis.


Valen mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Sebuah surat yang terlipat kumal berwarna merah muda. Ia lalu menyerahkannya pada Naru.


Naru menerima itu dan mulai membacanya.


William yang hanya diam saja, matanya tiba-tiba tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang memperhatikan dengan mengintip dari balik pintu berwarna putih.


Valen meminta ijin pada Naru agar William dibolehkan untuk pergi ke sana, ke tempat dimana gadis kecil itu mengintip. Naru pun mengijinkan.


William lalu bangkit dan berjalan menghampiri pintu putih yang sudah tertutup itu.


Perlahan ia membukanya dan tak menemukan siapapun di dalamnya.


"Hallo?" sapa William seraya mencondongkan setengah tubuhnya ke dalam. Namun tak ada yang menjawab sapaannya.


Ia kemudian melangkahkan kakinya ke dalam hingga seluruh tubuhnya telah masuk.


Braaak...


Pintu tiba-tiba terbanting dan tertutup dengan sendirinya.


Stiker bintang-bintang yang tertempel di dinding serentak menyala terang.


Alunan lagu dari kotak musik terdengar berputar.


Hawa dingin mulai memenuhi ruangan.


Sekejap itupun William merasa merinding dan berniat kembali keluar.


Ia meraih gagang pintu, lalu membukanya kembali dan...


Bersambung...