Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Owner



Matahari hampir terbit dan Juni masih tak ingin pulang. Ia masih ingin melihat kunang-kunang bersama gadis menggemaskan itu untuk esok, esoknya lagi, lagi, lagi, dan seterusnya.


Namun, jika seperti itu jiwa Juni akan menghilang selamanya. Ia tak akan punya jalan kembali dan akan melupakan wajahnya sendiri.


Meski begitu Juni tak peduli. Asalkan gadis itu bersamanya, tak ada hal lagi yang ia mau. Cukup gadis itu di sampingnya.


Karena Juni sulit dibujuk, gadis itu pun mencoba menceritakan sebuah kisah padanya.


Kisah seekor kucing dan 3 pemiliknya.


Pada awalnya kucing berbulu putih berjenis munchkin (ras kucing pendek), itu milik dari seorang anak pengusaha kaya.


Pemilik pertamanya ini adalah anak yang kesepian yang mendapatkan kucing itu sebagai hadiah di ulang tahunnya yang ke-5.


Si anak yang orang-orang kira bisu karena tak pernah bicara, berubah semenjak memiliki kucing kecil itu.


Ia mulai bicara pada ibunya dan ayahnya, tentang apa saja kegiatan yang sudah ia lakukan bersama kucing yang ia beri nama Myu.


Hingga suatu hari kucing itu hilang.


Myu, si kucing kecil itu tersesat saat mengejar belalang dan tak sengaja terbawa oleh mobil pick up yang sempat lewat.


Ia lalu terlunta di jalan, tak bisa pulang.


Dan saat hujan turun, ia meneduh dan masuk ke dalam kardus usang di bawah jembatan.


Menangis dalam sana, ia mengeong-ngeong, terus mengeong hingga ada seorang anak yang sejak awal tertidur di dekat sana mendengarnya.


Mata anak itu berbinar saat melihat Myu kecil. Ia lalu melepaskan kaus kumalnya untuk menyelimuti Myu agar tak kedinginan.


Ia lalu pergi dan kembali dengan membawa makanan.


"Aku tau kamu pasti lapel," ucap anak itu sembari menyodorkan kaleng dengan sisa sedikit sarden yang ia temukan di tempat sampah.


Sejak saat itu, anak dengan tubuh kotor dan penampilan lusuh itu menjadi pemilik kedua Myu.


Hari-hari pun berlalu, dan anak itu selalu datang menemui Myu untuk memberinya makan, membersihkan kotorannya, mengganti kardusnya dan mengajak Myu bermain.


Meski ia tak bisa membawanya pulang, karena ia takut ayahnya akan memarahinya dan memukulinya sebagai ganti memungut seekor kucing, tapi bagi Myu itu sudah cukup.


Karena kucing kecil itu bisa melihat ketulusan si anak.


Si anak yang miskin bahkan rela berbagi ikan asin miliknya dengan Myu dan terkadang menyisihkan uang sakunya untuk membeli susu untuk Myu. Meski si anak sendiri tak ingat pernah meminum itu.


Lalu suatu ketika, si anak yang datang pagi-pagi buta dengan membawa satu kotak susu untuk menemui Myu lagi di kardusnya, tak dapat menemukannya.


Myu menghilang. Seseorang mengambilnya.


Hatinya sedih, tapi wajahnya tersenyum.


Karena ia merasa Myu sudah berada di tangan orang yang lebih baik. Yang akan merawatnya dengan baik. Memberi makanan terbaik dan tempat tinggal yang luar biasa baik.


Ya, itu benar.


Myu dipungut oleh seorang anak yang berkecukupan.


Ia diberi makanan mahal, dipakaikan kostum lucu dan hangat, mendapat mainannya sendiri dan ranjang yang lebih nyaman dari kardus lamanya.


Terlihat pemilik ke-3 kucing itu juga sangat-sangat menyayangi Myu kecil. Apapun yang ia lakukan, ia selalu mengajak Myu.


Ke taman kanak-kanak, taman bermain, tempat les, berkunjung ke rumah nenek dan kemanapun. Tanpa tega mengurung Myu di dalam kandang.


Namun, dalam pertemuan selalu ada perpisahan.


Saat musim panas tiba, mendadak si anak mendapatkan penyakit yang mengharuskannya menginap berminggu-minggu di rumah sakit. Dan kali ini ia tak bisa membawa Myu bersamanya.


Myu kecil akhirnya di rawat oleh orang lain. Orang yang sama sekali tak ahli. Yaitu, sepupunya yang menganggap hewan hanyalah hewan dan tak apa jika dikasari.


Myu sempat di tendang, telat diberi makan dan dibiarkan tidur bertumpuk kotoran.


Myu kecil bertahan 3 hari dan akhirnya mati.


Tak ingin dimarahi, sepupu si anak membeli kucing baru yang mirip dan membuang Myu ke tempat dimana ia di temukan.


Meski begitu, si pemilik ke-3 Myu tak bisa dibohongi. Ia pun memaksa sepupunya untuk berkata jujur dan mengatakan kebenarannya.


Dan... ia pun mendengar apa yang tak ingin ia dengar.


Kemudian ia kembali sakit karena kesedihan dan hampir menyusul Myu dalam sakitnya.


Sementara nasib Myu sendiri tak kalah menyedihkan. Myu kecil hanya bisa melihat jasadnya yang malang. Ia menangis berhari-hari di sana, tak ingin ikut dengan malaikat kematian jika jasadnya tak ada yang menguburkan.


Sang malaikat pun mengalah dan mengatakan jika sudah ada yang menguburnya, Myu harus patuh dan ikut. Myu pun setuju.


Lama menanti, datang seorang anak yang Myu kenali sebagai pemilik ke-2nya. Myu senang, ia melompat-lompat riang. Ia merasa akhirnya akan ada yang mengubur jasadnya yang malang.


Anak itu melihat Myu yang sudah mati.


Ia sedih dan terisak dalam hati.


Ia lalu melepaskan kausnya untuk menutupi jasad Myu dengan itu, kemudian pergi dan tak pernah kembali ke sana, karena terlalu sedih.


Myu kecil kecewa dan kembali menanti. Menunggu dan memperhatikan jasadnya yang mulai membusuk.


Hingga datanglah anak lain, anak yang menjadi pemilik pertamanya.


Ia sepertinya sudah lama mencari-cari kucing kesayangannya itu dan ia cukup senang karena dapat menemukannya. Meski dalam keadaan mati.


Karena dia telah berjanji pada dirinya, dia akan mencari kemanapun kucingnya berada. Dia tak akan berhenti sampai menemukannya. Jika masih hidup, ia ingin melihatnya. Jika sudah mati, ia ingin melihat mayatnya.


Anak itu lalu menggendong jasad Myu tanpa jijik. Membawanya pulang dan meminta ayahnya untuk membuatkan lubang untuk memakamkan Myu.


Sebelum menguburkan Myu, ia bahkan membuat upacara pemakaman yang dihadiri banyak orang. Ia bahkan mengundang Wali Kota dan Kepala Sekolah TKnya.


Dan ia sendiri yang memasukkan peti mati Myu dengan hati-hati ke peristirahatan terakhirnya.


Myu bahagia. Ia sudah tenang sekarang. Dan ia berjanji akan menemui ke-3 pemiliknya untuk membalas budi. Membalas apa yang mereka beri ketika ia telah lahir kembali.


Dan di kehidupan ke-2nya, ia benar-benar kembali kepada mereka bertiga. Meski singkat, tapi itu sangat berkesan.


Lalu pada kehidupan ke-3, dia pun kembali datang. Namun ia hanya kembali pada pemiliknya yang pertama. Karena dia memanglah pemiliknya.


Setelah cerita itu selesai, Juni pun bertanya, "kenapa kamu ceritain cerita itu ke kakak?"


Gadis itu tersenyum. "Pemilik pertama kucing itu kak Dante."


"Terus pemilik kedua?" tanya Juni.


Gadis itu menjawab dengan menunjuk Juni.


"Kakak?" Juni memastikan dan dijawab dengan anggukan.


"Kalo pemilik ke-3 kak Iam," tutur gadis itu.


"Dan kucing kecil itu adalah aku," ungkap gadis itu tiba-tiba.


Mendengar itu, Juni menganga tak percaya. "K-kok... kok bisa?" tanyanya.


Gadis itu kembali tersenyum. "Aku bukan punya kak Jun atau punya kak Iam. Pada akhirnya aku selalu kembali ke pemilik pertamaku."


Ia lalu melanjutkan, "di kehidupan ke-2ku, aku datang pada kakak buat balas budi dengan semua apa yang udah kakak kasih untukku. Dan aku datangi kak Iam, karena aku jatuh cinta sama kak Iam, meski aku harus pergi lagi. Karena aku bukan milik kak Iam."


"Kamu... makanya kamu... makanya Agie lahir jadi adiknya Dante sekarang?" tanya Juni.


"Kalau aja kakak kubur kucing itu waktu itu. Mungkin sekarang kakak punya 3 adik," ucap gadis itu mencandai.


Juni tiba-tiba menggenggam tangan gadis yang duduk di sampingnya itu, memohon. "Apa suatu hari nanti kamu bisa jadi anak kakak? Mau ya? Kalo gak bisa, jadi cucu kakak aja gapapa. Kakak pingin kamu---"


"Apa yang seharusnya jadi milik kakak, cepat atau lambat tetap milik kakak," potong gadis itu. "Meski kita berjanji sekarang, itu belum tentu bisa terlaksana."


Juni mengangguk mengerti. Ia merenung sesaat, setelah itu ia terbujuk untuk pulang.


"Sampai ketemu lagi Gi, di lain semesta," ucap Juni berpamitan dan pergi, kembali ke tubuhnya sendiri.


Meski ia sempat tak rela, tapi setidaknya ia bisa mengakhiri perjumpaan itu dengan sebuah senyuman.


***


Setelah tertidur cukup lama, Juni pun terbangun di tempat asing. Sebuah kamar sederhana dengan kasur matras sebagai alasnya.


"Baru bangun lo bang? Yang lain udah bangun rumah tangga," ejek seorang yang Juni kenali sebagai juniornya, Benni.


"Eh? Berapa lama gue tidur? Gue tidur udah berapa tahun? Beneran yang lain udah pada berumah tangga?" tanya Juni panik.


"Kaga, gue becanda," ucap Benni dengan tawa.


"Ngagetin lu. Btw, kenapa gue bisa di sini?" Juni celingak-celinguk.


"Lo bisa di sini karena gue nemuin lo pingsan di kuburan pas gue lagi nyari kumbang buat tugas sekolah," jelas Benni sembari mengunyah singkong rebus di depannya.


"Oh. Ini rumah lo? Jelek banget," ucap Juni dan mengambil sepotong singkong milik Benni tanpa ijin. Beberapa ia masukan dalam saku.


"Bukan. Ini rumah si Bayu. Gue tadi nyari kumbang bareng dia. Bapaknya kan penjaga makam, jadi rumahnya deket makam," terang Benni.


"Owh," sahut Juni yang sekarang sibuk memasukkan singkong ke dalam mulutnya.


"Lo laper banget yak?" tanya Benni. Juni mengangguk dengan mulut penuh.


"Eh bang, lo katanya bisa main gitar yak?" tanya Benni sembari meraih gitar yang ada di sampingnya.


"Nwapa?" tanya Juni.


"Ajarin lah. Ntar ada pentas seni, gue pengen keliatan keren nyanyi sambil ngegitar," pinta Benni.


"Pwengwen lwagu apwa?" tanya Juni.


"Lagunya itu tuh, Mahalini. Melawan Orochimaru," jawab Benni.


"Hah? Mwang adwa? tanya Juni bingung.


"Telen dulu, baru ngomong bang," tegur Benni.


"Mang ada lagu kek gitu?" tanya Juni mengulangi, setelah mulutnya kosong.


"Ada. Kalo kaga caya liat gugel aja," ujar Benni.


"Maksud lo Melawan Restu kali. Apaan melawan Orochimaru," koreksi Juni dan mengambil alih gitar yang di pegang Benni.


"Iya kali. Lupa gue," ujar Benni sembari menggaruk-garuk kepala.


Juni kemudian memetik gitar yang di pegangnya, mengalunkan lagu klasik yang lembut dan memikat telinga.


"Wih keren lu bang! Ajarin! Ajarin!" seru Benni bersemangat.


"Iya gue ajarin. Tapi ambilin minum dulu, gue haus," titah Juni.


"Kopi?" tawar Benni.


"Iya gapapa."


"Pake gula apa kaga?" tanya Benni dan beranjak bangkit.


"Pake gula," sahut Juni.


"Salah! Yang bener kaga!" seru Benni.


"Si 🐕 malah main tebak-tebakan," umpat Juni.


Benni lalu pergi keluar pintu dan tak lama ia kembali dengan dua gelas kopi di tangan.


"Nih." Benni menyodorkan salah satu gelas yang dibawanya pada Juni.


"Sip."


"Dua rebu," pinta Benni, menjulurkan tangan.


"Bayar?" tanya Juni.


"Lah iya, lu kalo mau gratis gue campur sianida dulu sini," ujar Benni.


Juni berdecak, lalu merogoh saku celananya. "Tuh, kembaliannya ambil."


"Ambil apaan 🐕. Ini malah kurang, lo cuma ngasi serebu," keluh Benni.


"Seribu lagi gue bayarnya ngajarin lo main gitar," ujar Juni.


"Okeh." Benni setuju. "Btw, lo bisa main gitar bakat dari kecil?" tanyanya.


"Kaga. Gue waktu kecil malah gak bisa main musik," ungkap Juni. "Temen-temen gue malah udah bisa main musik semua. Kek si William tuh, dia jago main piano. Si Dante bisa main drum."


"Terus waktu temen-temen lo main musik, lo main apaan?" tanya Benni.


Juni menyuruh Benni mendekatkan telinga, ia kemudian berbisik, "gue main hakim sendiri."


"Bjir, parah banget. Untung gue cuma mainin hati cewek," ujar Benni.


"Eleh, muka kek adudu aja belagu lu," ejek Juni.


"Iri aja lu Jamet," balas Benni.


Mereka pun terus saling mengejek sampai mereka capek sendiri.


Bersambung...