Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Return of Love



Ketika angin menggerakkan jendela di tengah malam yang membuat Valen terbangun, bola mata coklatnya menangkap sebuah bayangan. Bayangan seorang gadis yang berdiri diam di samping ranjangnya.


Bayangan itu perlahan berjalan dan menembus pintu.


Valen pun bangkit untuk mengikuti bayangan itu.


Sesaat setelah Valen membuka pintu, di lorong gelap, tanpa adanya cahaya, bayangan gadis itu menjulurkan tangannya untuk digandeng.


Valen pun menyambut ulurannya dalam diam.


Mereka kemudian berjalan bersama menulusuri kegelapan di dinginnya malam.


***


Angin berhembus dari pintu yang terbuka, Agie yang sudah berada dalam gendongan Rey menunjuk-nunjuk ke sebuah sudut gelap di lobby hotel.


"Hello?" ujar Rey ketika menyadari ada seseorang di sana. Berdiri kaku dalam bayang-bayang gelap.


Sosok itu kemudian melangkah maju agar lampu dapat menyorot dan memperlihatkan siapa dirinya.


"Ka-Alen Ka-Alen," celoteh Agie mengenali sosok itu, sosok teman kakaknya yang bernama Valen.


Rey berdecak pelan ketika melihat Valen menampakkan batang hidungnya padanya. Ia sungguh tak ingin bertemu dengan Valen di suasana hatinya yang masih berkabung.


Itu karena ia pernah berkonflik dengan Valen ketika asik bercumbu dengan kekasihnya.


Jika mengingatnya kembali, Rey akan semakin emosi dan mungkin benar-benar akan memukul wajah Valen dengan tangannya sendiri.


Rey pun memutuskan berbalik arah dan berjalan pergi. Ia tak ingin repot-repot berurusan lagi dengan Valen.


"I've been crying for a while. (Aku telah menangis untuk waktu yang lama)" ujar Valen tiba-tiba seraya terisak, membuat Rey menghentikan langkah dan menoleh kepadanya.


"I'm standing here in front of you. (Aku berdiri di sini, di depanmu)" sambung Valen setengah berteriak.


"Why don't you look at me? (Mengapa kamu tidak melihatku?)" lanjut Valen penuh emosi.


"What's wrong with you? (Apa yang salah denganmu?)" balas Rey berekspresi acuh.


"Can you hear my voice? (Kamu bisa mendengar suaraku?)" tanya Valen terlihat senang.


"Yes, i'm not deaf. (Ya, aku tidak tuli)" jawab Rey ketus.


"Apa kamu tau selama ini aku putus asa? Waktu kamu gak bisa denger suaraku," ujar Valen berlinang air mata.


"You don't answer even if i call you like crazy. (Kamu tidak menjawabku bahkan jika aku memanggilmu layaknya orang gila)" sambungnya dan berjalan mendekat.


"Wow-wow, sebentar, jangan mendekat," cegah Rey seraya memundurkan langkah.


"Baby, i'm Delisa," ujar Valen mencoba meyakinkan.


Rey terdiam bingung.


Sempat terpikir dibenaknya, mungkin Valen sedang kerasukan mendiang kekasihnya. Karena entah bagaimana ia mencium aroma parfum kekasihnya pada Valen saat ia mendekatinya. Parfum mahal yang ia beli sebagai hadiah dan semestinya orang biasa seperti Valen tak dapat membelinya.


Tapi, ia terpikir juga bahwa mungkin Valen sedang melakukan prank untuk memperoloknya.


Rey lalu menatap Agie yang masih berada digendongannya untuk menanyakan pendapat.


"What do you think? (Bagaimana menurutmu?)"


"Aling king-kong, nong-neng-nong-neng," celoteh Agie, mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya sembari mengemut jari.


"Seharusnya aku tidak bertanya pada bayi," gerutu Rey menghela napas.


***


Rey duduk berhadapan dengan Valen di sofa, sedangkan Agie sudah tertidur di samping Rey, di atas bantal yang bayi itu peluk.


Sejak tadi Valen terus meyakinkan bahwa dirinya adalah Delisa. Namun Rey masih ragu. Karena, dari semua orang, kenapa kekasihnya Delisa justru memilih merasuki orang yang seharusnya menjadi musuhnya.


"Baby," ujar Valen dan tiba-tiba menjatuhkan diri dipangkuan Rey.


"D-don't, don't be like this. (J-jangan, jangan seperti ini)" ucap Rey canggung.


"Apa aku harus melakukan hal yang selalu kita lakukan agar kamu percaya bahwa aku Delisa?" tanya Valen mencengkram kaus Rey.


Rey terdiam tak menjawab.


Ia masih mengamati Valen.


Jika dari dekat, Valen terlihat cukup cantik. Surai panjangnya yang hitam sepunggung, hidungnya mancung kecil seperti boneka lucu, ditambah netra kecoklatannya yang berkilau cemerlang.


Entah mengapa Rey terpikir untuk menjadikan Valen sebagai pelampiasan.


Rey menyelipkan rambut Valen ke telinganya, menyentuh dagu Valen dengan lembut kemudian tersenyum.


"Baiklah, anggap saja kamu memang Delisa," ujarnya dan mengecup Valen penuh nafsu.


Namun, bersamaan dengan datangnya fajar, Valen tersadar.


Setelah menyadari bahwa dirinya berada di posisi yang tak seharusnya, Valen pun mendorong Rey untuk menghentikan kecupannya, memberi satu tamparan, setelah itu bangkit pergi begitu saja.


Rey kembali bingung.


Ia menatap punggung Valen yang berjalan pergi sembari mengelus pipinya yang sakit, kemudian... menyeringai.


Sebuah pikiran jahat tercetus di kepalanya. Pikiran untuk membawa kembali kekasihnya yang telah mati.


Bersambung...