
Bayu menatap dinding kosong di hadapannya dan bertanya.
"Untuk opo aku masih hidup?"
Ia kemudian mengeluarkan pisau bedah kecil yang ia pungut saat Hans menjatuhkannya.
"Untuk nasi goreng jawa yang bakalan gue beliin buat lo nanti," ujar Syabil yang muncul dengan tiba-tiba seraya merebut benda tajam itu dari tangan Bayu dan mengamankannya.
Jika saja Syabil tidak melakukan itu, Bayu mungkin sudah memutuskan nadinya barusan.
"Ada perlu opo yo mas?" tanya Bayu yang nampak bingung dengan sikap Syabil yang tiba-tiba peduli.
"Lo tadi nanya untuk apa lo hidup kan?
Lo hidup untuk hal kecil itu. Untuk makanan kesukaan lo dan untuk napas lo sendiri," tegas Syabil.
Bayu merengut dan beringsut mundur, ketika Syabil mendudukkan diri di sebelahnya.
"Gue mau bilang sesuatu," ujar Syabil seraya melepas topi kupluk dari kepalanya.
"Sampean botak?" tanya Bayu.
"Bukan." Syabil memicingkan mata, membuat Bayu merasa tidak enak karena keceplosan.
"Iya, gue memang botak, gue akui. Tapi yang mau gue bilang ke elo bukan itu."
"Oalah."
"Gue mau bilang kalo gue mau minta maaf. Walau gue tau ini gak bisa dimaafin, tapi gue tetep mau minta maaf." Terlihat jelas penyesalan pada wajah Syabil.
"Ndak perlu. Sampean ndak ikut-ikutan."
"Gue tetep salah karena diem aja. Gue gak tau kalo lo dihajar. Lo gak pernah kasih tau. Gue juga gak pernah cek kantin karena lebih sering diem di dapur, makanya gue gak tau lo sering dihajar di sana. Gue awalnya kira lo cuma jadi pesuruh aja," ungkap Syabil berkata jujur.
"Dan sekarang gue tau itu semua karena gue baru dapet teguran dari Virgo, setelah ada yang lapor kalo lo dianiaya temen-temen gue," lanjutnya.
"Jadi sekarang lo tenang aja. Gue pastiin mereka gak akan lakuin itu ke elo lagi," sambungnya seraya menepuk pelan punggung Bayu.
"Ndak. Ndak usah. Kalo kaya gitu mereka cari sasaran lain. Biar saya aja yang dibully terus. Saya bakalan terima beban itu. Asal ndak ada orang lain yang jadi sasaran," mohon Bayu sembari menahan dada kirinya yang sakit.
"Lo gak perlu pikirin sampe sana."
"Kak Valen itu yo yang laporin? Pasti nanti dia yang jadi sasaran baru karena nolong saya," ucap Bayu cemas.
"Virgo yang ngurus itu. Dia udah punya wewenang buat nampol Hans sekarang. Bapaknya Hans sendiri yang kasih wewenang itu. Gak bakalan ada yang bisa mereka bully lagi," tutur Syabil. Ia kemudian memberikan tas karton berisi kacamata baru untuk Bayu.
"Iki..." terlihat Bayu menyukai kacamata barunya setelah ia membukanya.
"Itu dari pemilik sekolah. Kalo lo butuh kompensasi atau biaya pengobatan bilang aja. Pasti dikasih."
"Buat tutup mulut yo?" terka Bayu, berprasangka buruk.
"Nggak. Kalo lo mau nuntut pihak sekolah, boleh-boleh aja. 5 pendiri sekolah udah persiapan dan bakal segera rapat buat ini. Mungkin Kepala sekolah yang bakal dipecat kali ini karena kasus lo. Setelah guru-guru kelas 3 dipecat karena kasus kematian massal temen-temen gue," tutur Syabil.
"Hans juga bakalan di D.O kaya Lita. Kalo dia berbuat kaya gitu lagi ke-siapapun. Gak ada pengecualian walau dia anak dari salah satu pendiri sekolah," lanjutnya, membuat ketenangan akhirnya datang pada Bayu.
"Yuk, gue traktir nasi goreng jawa. Lo butuh energi buat sembuh," ajak Syabil.
Sikapnya yang nampak tulus membuat Bayu mempercayainya dan lekas menerima tawaran untuk pergi memakan makanan favoritnya itu.
***
Kolidor nampak senyap meski beberapa siswa berada di sana.
Mereka hanya diam dan menatap heran pada Bayu dan Syabil yang tak biasanya berjalan bersama.
Syabil yang peka dengan situasi itu pun mengalihkan dengan mengajak Bayu untuk membahas suatu topik.
"Gue denger lo indigo ya?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Bayu.
"Lo pernah denger cerita tentang cewek yang meninggal di lapangan sepak bola gara-gara lehernya nyangkut di tali gawang gak?" tanyanya lagi dan Bayu menjawab dengan anggukan lagi.
"Menurut lo rumornya bener gak tuh?" Syabil terlihat sangat ingin tahu meski ia tak mempercayai hal-hal semacam itu.
"Ndak tau. Tapi saya pernah liat ada perempuan yang pake seragam sekolah kita, lagi duduk di atas tiang gawang pas saya main bola di sana," jawab Bayu dengan canggung.
"Jadi kemungkinan rumornya bener," ucap Syabil. Namun ia masih terlihat meragukan cerita itu dan menganggap rumor itu hanya sekedar rumor.
"Tak guna punya kawan," pekik Andy dari kejauhan. Tanpa sengaja ia menggunakan dialek melayu-nya.
"Lo jangan maksa gue keluarin khodam, bro," sahut Gagas yang mulai terpancing emosi.
"Keluarin aja. Tapi kembaliin dulu semp*k gue yang lo pinjem!" pinta Andy.
"Udah bolong. Masih mau lo pinta?" balas Gagas.
"Jangan jadiin alasan!" seru Andy murka.
"Ya udah nanti!"
"Sekarang!"
"Kenapa ribut-ribut," tegur Syabil menengahi.
"Ini nih, kita dikeluarin dari kelas gara-gara dia nanya jawaban soal ke kalkulator," ungkap Andy merasa kegerahan dengan kelakuan temannya.
"Gak habis thinking gue sama lo," ujar Andy sembari menggelengkan kepala.
"Daripada berantem, ikut kita aja makan nasi goreng jawa," tawar Syabil.
"Boleh deh. Gue juga laper abis marah-marah," ucap Andy.
"By the way, tuh anak kenapa bonyok?" tanyanya.
"Gak usah dibahas kasihan," ucap Syabil yang masih merasa iba pada Bayu.
"Oh lo yang sering disiksa kakel yang namanya Hans itu ya?" cetus Andy sangat blak-blakan.
"Hebat lo bisa bertahan. Anak-anak lain udah milih pindah karena gak tahan," lanjutnya.
"Lo kenal bro?" tanya Gagas.
"Gue denger aja dari cewek-cewek gue. Kita gak bisa masuk kantin karena si Hans bikin reservasi terus, khusus buat nyiksa ni anak," terang Andy.
"Oh ya dia indigo kaya lo Gas," ungkapnya.
"Pantesan gue liat ada penjaganya.
Tapi gue heran penjaga sekuat itu kenapa yang punya malah..." Gagas tak tega mengatakan apa yang ada dipikirannya mengenai juniornya itu.
"Lo indigo juga?" tanya Syabil.
"Iya bang."
"Kalo gitu lo tau dong rumor tentang murid cewek yang meninggal di lapangan sepak bola gara-gara lehernya nyangkut di tali gawang?" Syabil masih penasaran dengan cerita legenda di sekolahnya itu dan masih ingin memastikan kebenarannya.
"Iya tau. Gue sering liat dia nemenin kiper di deket gawang waktu jam olahraga, atau pas gue nungguin temen yang lagi Eskul," tutur Gagas.
"Oh." Syabil mengangguk-angguk pelan meski dirinya masih meragukan.
"Kenapa bang? Lo masih belum percaya ya?" tanya Gagas, membaca isi hati Syabil.
"Mm... karena gak bisa liat sendiri gue belum percaya," jawab Syabil.
"Gue denger anak baru itu bisa liat hantu juga. Coba lo pastiin ke dia aja bang," tunjuk Andy pada Valen yang baru kembali dari toilet bersama Feby.
Syabil pun memanggil Valen untuk menghampiri sebelum ia memasuki kelasnya.
"Hai," sapa Gagas sembari tersenyum dan mengangkat satu tangannya.
Namun Valen hanya membalas sapaan Gagas dengan anggukan.
"Apa?" tanya Valen pada Syabil, namun matanya justru menatap Andy.
"Lo anak baru, pernah ke lapangan sepak bola?" tanya Syabil.
"Ya," jawab Valen singkat.
"Gue denger lo bisa liat hantu. Lo pernah liat ada hantu juga gak di sana? Kaya hantu cewek di deket gawang yang meninggal gara-gara lehernya kelilit tali gawang?" Syabil langsung menanyakan tanpa berbasa-basi lebih dahulu.
Valen yang ditanyakan hal itu pun mengalihkan pandangannya dari Andy dan mulai menatap Syabil. Ia lalu mendekat ke arah senior kepo-nya itu dan berbisik.
"Cewek itu baru saja bilang ke gue. Kalau sekali lagi kakak tanya keberadaan dia rumor atau bukan, kakak akan dibunuh olehnya."
Setelah mengatakan itu Valen pergi menghampiri Feby yang sudah menunggunya untuk kembali ke kelas.
Gagas nampak menelan ludahnya kasar karena tak sengaja melihat sosok hantu yang baru saja dibicarakan itu sudah berada di ujung lorong.
Sosok itu sedang menoleh ke arah mereka, dengan mengintip dari balik pilar bangunan.
"Ditanyain malah nakut-nakutin," keluh Syabil.
"Bang, makan nasi gorengnya jadi gak?" tanya Gagas. Ia sangat ingin segera pergi dari sana.
"Iya jadi. Yok." Syabil pun memimpin jalan.
***
Pak Murdi berusia 40 tahun dan sudah berjualan nasi goreng selama 15 tahun. Namun baru kali ini ia mendapat komplain yang meresahkan dari pelanggannya, yang membuat ia merasa ingin segera pensiun.
"Rasanya kurang enak Pak. Kecapnya kebanyakan. Garemnya malah kurang," protes Syabil.
Kemudian Syabil melanjutkan kritikannya sembari melakukan tutorial.
"Cara buat nasi goreng itu bawang putih, bawang merah, terasi, kemiri dihaluskan. Kemudian bumbu yang udah halus letakkan wajan, nyalakan api, tunggu panas, terus tuang minyak goreng 2 sendok makan. Kemudian bumbu yang udah halus tadi dimasukin dan aduk-aduk sampe harum. Kemudian kasih telor yang diorak-arik sesuai selera. Kemudian masukin nasi, lalu masukin garem dua sendok teh, sama kecap jangan lupa. Aduk-aduk sampe rata. Kalo udah mateng, angkat taro piring. Kasih hiasan ayam, telor dan bawang goreng baru disajiin ke pelanggan. Kaya gitu Pak."
"Lo aje deh tong yang jualan," ujar si pedagang sembari melempar sudip ke tanah.
"Dikasih saran membangun kok malah marah, Pak!" protes Syabil tak terima dengan sikap Pak Murdi yang tak menghargai sarannya.
"Pengen pura-pura gak kenal, tapi nanti siapa yang bayar," gumam Gagas.
"Udah biarin aja. Dia emang kaya gitu orangnya. Gue denger waktu dia kecil orang tuanya pernah jatohin dia dari atas pohon," ujar Andy dengan suara pelan.
"Gue yakin kepalanya yang kepentok duluan, makanya kelakuan dia kaya gitu," balas Gagas.
Percakapan mereka berdua pun membuat Bayu akhirnya bisa ingat kembali bagaimana caranya tertawa.
Bersambung...