Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
The Backroom



"Aku harus temukan jalan keluar," ucap Sintia atau mungkin... Zea, karena ia sudah mengganti namanya.


Sejak kejadian malam itu, ketika ia tak sadarkan diri karena dipukuli dengan membabi buta oleh Lita, ia terjebak di sini.


Di sebuah ruangan berbentuk labirin dengan dinding berwarna kuning dan lantai yang di lapisi karpet berwarna coklat.


Ia tak bisa menemukan apa-apa di sana kecuali bau karpet tua yang lembab dan dengungan dari lampu neon.


Tempat itu sangat luas dan diperkirakan terdapat ratusan juta persegi ruangan kosong yang tersusun secara acak, yang mereka menyebutnya sebagai THE BACKROOM.


Meski ini memang hanya duplikatnya saja.


"Apa lo sekarang mengerti kenapa orang-orang gak berani macam-macam dengan Mych?" ucap seseorang dari speaker yang terpasang di setiap sudut ruangan. Suaranya yang tersamarkan tak bisa diidentifikasi sebagi pria atau wanita.


"A-aku minta maaf. Tolong lepasin aku," mohon Zea. Kondisi tubuhnya begitu buruk, namun sebuah keajaiban ia masih hidup.


"Hahahahahahahaha..." suara itu tertawa dengan suara serak dan parau melengking seperti kodok.


Ia lalu berkata, "pergi ke ruangan di depan. Lo akan menemukan revolver. Gunakan itu. Lo akan butuh itu. Karena gue baru saja melepaskan beberapa monster yang akan menghabisi lo. Mereka sudah berkeliaran sekarang. Jadi bergeraklah cepat!"


Setelah peringatan itu, dari arah kirinya, Zea mulai mendengar samar-samar suara anak kecil yang melengking, menggema dan memantul di antara dinding.


Zea gemetar.


Dengan hati-hati ia pun berjalan ke ruangan di depannya.


Dan ia benar-benar menemukan sebuah revolver di sana. Tergeletak begitu saja.


"Gue lupa bilang. Di dalamnya hanya ada 1 peluru. Jadi lo harus mencari tambahan amunisi di ruangan lain," ucap suara itu lagi. "Selamat berjuang~" Caranya menyemangati terdengar lebih seperti ejekkan.


Zea semakin gelisah. Ia kemudian berjalan lagi, menulusuri lorong panjang dan menemukan pintu bertuliskan "Peek a Boo."


Ia memutuskan untuk membuka pintu itu dan itu adalah keputusan yang salah.


Karena di ruangan dengan pintu yang baru saja ia buka, terdapat seseorang bertudung hitam dengan tangan yang panjang hampir mengenai lututnya.


Beruntung Zea sempat menutupnya kembali.


Namun, sosok itu sudah lebih dulu melihatnya, meski hanya sekilas.


Sosok itu pun mulai menggedor-gedor pintu. Ia melakukannya sembari bernyanyi. Nyanyian yang suram dan terdengar menakutkan.


Tapi, sebelum makhluk itu berhasil menjebol pintu, Zea sudah berlari menjauh.


Ia terus berlari sembari menyeret kakinya yang sudah dipenuhi nanah dari lukanya yang terinfeksi, melewati ruangan demi ruangan hingga akhirnya menemukan pintu lain.


Dan tanpa membaca tulisan di depan pintu itu, ia sudah lebih dulu memasukinya. Karena sosok pria jangkung dengan senyum aneh terlihat sedang berjalan ke arahnya.


Namun, itu adalah keputusan salah lainnya.


Sebab di sana, tepat di depannya, sudah ada seseorang yang menunggu.


Dia mengenakan sebuah topi runcing, celana compang-camping dan mantel yang lusuh.


Layaknya pekerja serabutan.


Wajahnya terlukis cat dengan dominasi putih dan merah, seperti riasan badut. Ah yah, dia memanglah seorang badut.


Tanpa ragu, ia pun menodongkan revolver pada sosok di depannya dengan tangan gemetar sebagai antisipasi.


Akan tetapi, raut wajah dari badut itu yang terlihat begitu menyedihkan, membuat Zea sedikit ragu untuk menekan pelatuknya. Ekspresi badut itu nampak seperti sedang memelas. Ia terlihat putus asa. Air mata turun di pipinya dan membuat riasannya sedikit pudar.


Badut itu lalu berjalan pergi meninggalkan Zea.


Tak lama berselang ia pun kembali.


Sebelumnya ia mengintip terlebih dahulu dari balik dinding, kemudian memunculkan diri dengan membawa 3 teman. Wajah mereka tertutup dengan riasan yang sama, meski berbeda pola.


Badut yang pertama kali muncul di depan Zea, kini sudah mengganti ekspresinya.


Dia tidak lagi sedih. Ia justru sedang tersenyum dengan seringaian ngeri.


Zea sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya.


Namun ia tak mungkin bisa membunuh mereka semua. Pelurunya tak cukup.


Hanya ada 1 peluru dan hanya ada 1 yang bisa ia bunuh.


Ia lalu menempelkan ujung revolver itu pada dahinya sendiri.


Nekat, ia pun menekan pelatuknya.


Kemudian...


Baaaang...


Seketika Zea jatuh terkapar dengan lubang di kepalanya.


Darah memercik pada dinding kuning di sampingnya.


Suara tawa terdengar menggema, diiringi tepuk tangan meriah oleh para Badut.


"Hahahahahaha... lelucon macam apa ini? Dia bahkan terlalu malas menyelamatkan dirinya sendiri," ucap suara dari speaker.


Para badut kemudian menyeret Zea. Mereka berniat membawanya untuk diumpankan pada buaya.


"Mych harus diberitahu," ujar salah satu badut. Ia lalu menghapus riasannya dengan tisu basah, menampakkan gadis jelita dengan simbol terlarang di pipi kirinya.


Ia lalu mengambil ponselnya di saku dan berniat melakukan panggilan video.


Dante menjawab panggilannya. Ia nampak masih berada di sekolah.


"The game was up, Boss. (Permainan sudah selesai, Bos)," ujar gadis itu.


"She committed suicide a while ago. (Dia bunuh diri beberapa saat yang lalu), lanjutnya.


Dante tersenyum.


Senyum dengan seringaian menawan yang membuat hati berdebar.


"Alright, thank dear. (Baiklah, terima kasih sayang)," ucapnya dan membuat wajah gadis yang sedang ditatapnya merona kemerahan.


Bersambung...