
***
Zoey nampak gusar. Ia merasa seseorang telah mencoba menyusup ke dalam rumahnya.
Atau mungkin itu hanya paranoidnya, karena saat perjalanan ia pulang ke rumah, ia mendapat instan message bernada teror dari seseorang yang tidak dikenali dengan akun Ennard666.
Ennard666 mengaku sebagai teman satu sekolahnya bernama Zea. Nama yang nampak mirip dengan miliknya.
Awalnya Ennard666 terlihat ramah saat pertama kali mengirim pesan chat kepada Zoey.
Ia terus menerus memuji kecantikan Zoey. Wajahnya, rambutnya, mata birunya dan tubuhnya yang menurut Ennard666 sangat cantik. Hingga ia berubah meneror dengan mengatakan ingin melihat isi tubuh Zoey. Ia ingin memotong-motong dan membuka perut Zoey karena penasaran apakah isi tubuh Zoey akan secantik fisik luarnya.
Hal itu berhasil membuat Zoey ketakutan dan segera menelepon teman-temannya untuk datang menginap.
Tapi beberapa menolak karena memiliki acara. Hanya Dara yang mau datang, namun ia masih dalam perjalanan.
Tiba-tiba Zoey mendengar suara lemarinya berderit terbuka.
Zoey yang sudah ketakutan memutuskan untuk pergi keluar rumahnya untuk mencari tempat ramai.
***
Zoey duduk di halte bis. Ia memutuskan menunggu temannya, Dara, di sana.
Ia lalu mengamati ponselnya. Nomor asing kembali menelepon. Zoey tak mau mengangkat dan segera memblokir nomor itu.
Tak lama kemudian, perasaan Zoey mulai tidak enak. Ia menyadari ada seseorang yang sedang mengamatinya.
Di sebrang sana, di bawah lampu jalan yang redup, ia melihat figur seorang wanita dengan kemeja putih dan celana panjang hitam.
Zoey tidak tau berapa lama wanita itu sudah berdiri di sana, menatapnya dengan seringai lebar yang tidak natural.
Wanita itu lalu melambai dengan satu tangan pada Zoey.
Itu membuat Zoey merasa tak nyaman, terlebih wanita itu menatap langsung ke arah Zoey tanpa berkedip.
Wanita itu mulai tak sabar, lambaiannya mulai cepat.
Zoey mencoba menyipitkan mata agar dapat lebih jelas melihatnya.
Kemudian ia menyadari bahwa wanita di sebrang sana adalah seniornya Lita yang masih menjadi buronan Polisi.
Zoey gemetar, ia hampir menangis karena ketakutan.
Ia sangat tau apa yang dilakukan Lita pada teman satu angkatannya sendiri. Menusuk, menggorok, memotong-motong dan membakar seluruh korbannya tanpa alasan yang jelas, dan semua itu diberitakan di seluruh stasiun TV.
Zoey merasa Lita datang untuk membunuhnya, untuk m3lum4t tubuhnya menjadi bubur atau untuk merobek tubuhnya hingga tercerai-berai.
Zoey dengan pasti mengira bahwa Lita adalah Ennard666 yang sempat menerornya dalam instan message.
Zoey pun bergegas berlari kembali menuju rumahnya. Bukan untuk masuk ke dalam rumah, namun untuk meminta tolong pada tetangganya. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak melakukan itu sebelumnya.
Karena tak memperhatikan jalan dan terus menengok ke belakang untuk melihat apakah gadis menyeramkan itu mengikutinya, tanpa sengaja ia pun terjatuh dan menabrak seseorang, perempuan gemuk dengan jas hujan merah.
"Maaf," ucap Zoey seraya buru-buru bangkit. Lututnya nampak terluka dan mengeluarkan darah segar.
"Gak apa-apa," sahut perempuan itu, membalas senyum.
"Aku... aku merasa ada yang menguntitku," jawab Zoey, beberapa kali ia masih menengok ke belakang.
"Kenapa kamu ngerasa kaya gitu?" tanya perempuan itu.
"Aku mendapat pesan teror sebelumnya dan setelah itu aku merasa ada yang sedang menguntitku," jelas Zoey dengan nafas tak beraturan.
"Udah lapor Polisi?" tanya perempuan itu. Tangan kirinya sejak tadi ia sembunyikan di balik punggung.
Zoey menggeleng. "Belum," ucapnya.
"Mau aku temenin ke kantor Polisi? Kebetulan aku juga mau ke sana buat bikin laporan kehilangan," ajak perempuan itu.
"Baiklah, terima kasih," ucap Zoey menerima tawaran itu.
Mereka pun berjalan bersama untuk menuju kantor Polisi.
Atau setidaknya, itu yang Zoey kira.
"Oh yah, nama kamu siapa?" tanya perempuan itu.
"Zoey."
"Oh nama yang bagus. Andai orangtuaku kasih nama itu," puji perempuan itu, menunjukkan giginya yang besar dan menguning.
"Namamu?" Zoey bergantian bertanya.
"Sintia. Tapi hari ini aku mendapat nama baru. Panggil aja aku Zea," ucap perempuan itu, membuat Zoey menoleh ke arahnya.
Perempuan itu masih menampakan senyum, sedangkan Zoey terdiam dan napasnya terasa terhenti, manakala ia melihat pisau besar yang dikeluarkan perempuan itu dari balik punggungnya dan perlahan ia mengangkat benda itu ke dekat wajahnya.
"Benda ini masih berkilau walau aku udah pakai berulang kali untuk menguliti wajah gadis-gadis cantik," ucapnya, berbohong untuk menakuti.
"Sebenarnya apa mau kamu?" tanya Zoey dengan suara gemetar.
"Darah kamu di seluruh tubuhku," jawabnya.
Zoey terpaku di tempat, lidahnya merasa kaku, air matanya mengalir turun di pipi, ketika perempuan itu mulai mendekatkan pisaunya.
Perempuan itu tersenyum jahat. "Bagus, gak perlu kabur lagi. Kalo bukan di tanganku, ada tangan lain yang menunggu kamu di depan gang sana," ancamnya.
Zoey menangis terisak. Ia teringat pada ibu dan ayahnya. Jika ia mati hari ini, ia ingin setidaknya bisa mengucapkan selamat tinggal pada kedua orang tua yang disayanginya itu.
Namun tak diduga...
Bersama dengan angin yang berhembus, datang seorang pria berpakaian yang seluruhnya hitam, secara tiba-tiba menarik pinggang Zoey dan memeluknya erat.
Pria itu berkata, "habisi." Dan setelah itu hanya lolongan jeritan yang terdengar.
Zoey tak mengerti apa yang terjadi.
Ia tak tau mengapa pria ini bisa berada di sini, memeluknya. Ia juga tidak tau mengapa bisa tiba-tiba ia mendengar suara jeritan dan teriakan kesakitan berada di belakangnya. Namun suara pria yang tengah memeluknya mencoba menenangkan dengan berkata, "tak apa, aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya."
"Dante..." ucap Zoey dengan suara lemah. Ia terlihat masih ketakutan, namun aroma parfum yang dikenakan Dante sedikit membuat ia merasa tenang.
Zoey kemudian mendongak, ia melihat Dante tersenyum tipis menatap ke depan, bola matanya pun nampak berkilat-kilat merah jahat.
Zoey tak memahami apa yang membuat Dante memberi ekspresi seperti itu.
Karena di balik punggungnya, yang ia dengar sejak tadi masih suara tawa mengerikan yang beriringan dengan tangisan memohon ampun penuh penyesalan.
Zoey ingin menoleh ke belakang, namun Dante tak mengijinkan.
"Percayalah, kamu tidak akan mau lihat hasil dari kepala manusia yang dibenturkan bertubi-tubi di aspal."
Zoey mengeratkan genggamannya pada kaus Dante saat mendengar itu.
Meski Zoey merasa bersyukur karena diselamatkan, tapi di sisi lain ia merasa bersalah.
Ia lalu menyadari ada percikan darah yang menempel pada kaus Dante.
Warna kausnya yang gelap menyamarkan itu, namun Zoey yakin bahwa itu memanglah percikan darah.
"Dante..." Zoey ingin melepaskan pelukan, namun Dante justru lebih mengeratkan pelukannya.
"Aku tau mungkin kamu tidak akan memaafkanku untuk ini," ucap Dante dengan suara lembut di telinga Zoey.
"Jika kamu memikirkannya dengan mudah, aku adalah pembunuh yang melindungimu," sambungnya, sembari masih menikmati simfoni jeritan yang tidak normal dan menikmati pemandangan dari karya menjijikan yang dibuat rekan barunya.
Bersambung...