
Setelah memberi kartu nama kakaknya, Valeska, pada Naru, Valen pun mengajak William untuk berpamitan.
Meski William masih ingin mengobrol dan bermain dengan Nara, ia tetap menurut dan ikut.
Ia lalu bertanya pada Valen, "kenapa lo kasih kartu nama kakak lo ke Naru?"
Valen menjawab. "Gak ada alasan khusus. Karena Naru single dan kakak gue single, gue pikir lebih baik mereka bersama, agar mereka gak lagi kesepian nantinya."
"Lo sedang menjodohkan mereka?" tanya William.
Valen menggeleng. "Selanjutnya itu urusan mereka. Gue hanya ingin memperkenalkan."
"Oh. Anyway... sekarang kita mau kemana?" tanya William lagi seraya memakai helm miliknya.
"Rumah sakit."
***
Kala itu Juni dan Gagas sedang membeli rujak buah, saat itulah William dan Valen menghampiri.
William lalu mengajak ke-dua temannya itu ke tempat yang sepi. Ke dekat sebuah pohon besar di taman rumah sakit. Sementara Valen menunggu dan menyantap rujak buah yang Gagas dan Juni pesan.
Sesampainya di tempat yang dituju, William langsung mengatakan tentang apa yang telah ia ketahui. Tentang gadis kecil yang telah tewas satu tahun lalu.
Belum sempat William bertanya apa Juni ingat dengan gadis itu, air mata Juni sudah jatuh. Juni yang sejak kecil selalu menyembunyikan tangisnya, tak dapat disangka hari ini akan memperlihatkannya.
Sedangkan Gagas masih berekspresi terkejut, karena William berhasil mengingat gadis itu. Padahal ia sudah berjuang untuk membuat William melupakannya. Dan Gagas tak bisa berkata apapun saat William menunggu tanggapannya.
"Apa kalian sekongkol?" tuduh William tiba-tiba.
"Ngapain," ujar Juni dan menundukkan kepala.
"Terus kenapa kalian gak biarin aja apa yang udah terjadi?" William mulai menginterogasi.
"Lo salah paham, Will," elak Gagas.
"Kenapa lo ubah masa lalu Gas?" tanya William, ingin mendengar langsung pengakuan kawannya itu.
Karena Gagas tak menjawab, ia pun beralih menanyai Juni. "Lo kenapa minta Gagas ubah masa lalu, Jun?"
Juni mendongak perlahan, kedua manik matanya masih berkaca-kaca. "Gue cuma pengen nasib yang berbeda.
Buat gue, buat lo dan semua orang."
"Hah?" William tak dapat memahami.
"Gak tau kenapa, waktu Gi meninggal, semua hari yang gue rasain semuanya jadi lebih suram. Seakan kemalangan emang udah nempel dinasib kita semua, Will.
Seakan takdir ngetawain kita," ungkapnya.
Ia kemudian melanjutkan. "Lo sekarang cuma perlu nikmatin aja apa yang udah Gagas lakuin buat lo.
Gue juga bakal kaya gitu.
Simpen apa yang udah lo tau dan lupain Gi lagi kalo lo mau itu," ucapnya enteng.
"Nikmatin kata lo?" William bertanya sembari mendorong dada kiri Juni.
"Cewek yang oe cintain mati dan oe lupa semua memori yang pernah oe jalanin sama dia, lo masih nyuruh oe buat nikmatin?" tanyanya kesal.
"Lo yang minta itu kan?" Gagas menyela.
"Di diary lo Will. Gue baca itu waktu bantu pemakaman lo," ujarnya.
Dan dia habisin waktu cuma di rumah tanpa kenal kita semua.
Dan takdir tetep buat dia mati!
Semua orang bahagia, kecuali Nara!"
"Dia masih punya Naru sama Papanya," celetuk Juni.
William nampak semakin kesal. Ia lalu mencengkram kerah kemeja Juni. "Teganya lo---"
"Gue tau lo marah," ucap Juni dengan mata yang sudah memerah.
"Orang yang paling lo cintai mati, dan lo terpaksa jadi wibu, wajar lo kaya gitu."
Ada jeda sebelum ia melanjutkan. "Tapi takdir lo sama dia udah gak terhubung. Gue bakal bantuin lo cari cewek lain kalo lo butuh itu," tawarnya.
"Lo aja jones!" sentak William.
"Setelah buat Nara dilupain orang-orang, apa hidup lo emang jadi lebih baik, hah? Oe tanya?!"
Juni tak menjawab.
"Lo tetep jadi SadBoy yang ditolak banyak cewek, kan? Bahkan lo diselingkuhin, dikibulin, ditipu, diporotin, diludahin, dianiaya sama cewek yang mau sama lo. Bisa-bisanya lo---"
"Asal lo tau, hidup gue udah jauh lebih baik sekarang." Juni menepis tangan William dari kerahnya, lalu memperbaiki kondisi seragamnya.
"Lebih baik apanya?" tanya William.
"Selain punya koleksi lengkap tajos, emang apa yang lo punya dalam hidup lo?" cibirnya.
"Orang yang terlahir udah kaya kek lo, gak akan paham Will," ujar Juni, ekspresinya nampak tenang meski ia dicerca dan diejek oleh sahabatnya sendiri.
"Lo mau tau hidup gue yang dulu kek gimana?" tanyanya.
"Gue gak tau kenapa, tapi semua cewek benci sama gue, kecuali Gi. Kalo alasan sifat gue yang petakilan dan malu-maulin, gue masih bisa terima. Tapi dulu, mereka nolak gue karena alasan penampilan gue, mereka benci cara gue berpakaian.
Tanpa mereka tau kalo satu helai pakaian itu anugerah di keluarga gue," ungkapnya, membuat Gagas memalingkan wajah karena tak tega.
"Dan lo mau tau harapan apa yang ada di kepala gue waktu Gagas tawarin ubah masa lalu?" lanjut Juni.
"Apa?" sahut William.
"Cuma buat dapet kesempatan makan makanan enak, walau itu cuma sekali," ujar Juni, lalu mendudukkan diri, menyandar pada batang pohon.
"Gue gak peduli resikonya apa. Sederhananya gue pengen bahagia, Will.
Walau Gi, 'kebahagian gue satu-satunya dan hal yang paling gue syukuri di dunia' tetep bakalan mati, masih bisa gue terima, asal hidup gue bisa berubah. Dan pikiran pengen mati udah gak ada di kepala gue lagi," sambungnya sembari mencabut satu rumput di dekatnya dan menggigiti ujungnya.
Gagas kemudian membuka mulutnya untuk berkomentar. "Walau orang yang kalian sayang mati, tapi hidup kalian seharusnya masih berjalan."
Ia lalu menepuk pundak William pelan. "Gue tau berat. Tapi yang bisa gue bilang, gak ada yang lebih berat daripada mati, Will.
Karena, lo pasti akan disiksa karena lo bunuh diri. Dan siksaan paling berat, lo sama sekali gak akan pernah bertemu Nara, meski udah sama-sama mati."
William diam, merenungi ucapan Gagas.
"Gue gak mau lo menyesal buat kedua kali, sob. Dan... gue harap, gue masih bisa ketemu lo lagi besok, di sekolah." Setelah mengatakan itu, Gagas berlalu pergi meninggalkan Juni dan William, untuk lebih banyak mengobrol dan menuntaskan semua kesalahpahaman mereka hingga selesai.
Bersambung...