
Gagas duduk sendirian di bangku cadangan ketika teman-temannya sedang bermain futsal.
Mau bagaimana lagi, dia hanya bisa bermain basket namun dipaksa datang ke Gor Futsal dan berakhir hanya menjadi penonton.
Ketika sedang memperhatikan teman-temannya yang sedang berebut bola, matanya tanpa sengaja menangkap sosok gadis remaja seusianya tengah duduk sendirian di tribun paling ujung.
Gadis itu memberi senyum padanya dan Gagas membalasnya.
Tak lama berselang, ada dua orang laki-laki yang menghampiri gadis itu. Seperti berniat menggoda.
Karena melihat si gadis merasa tak nyaman dengan kehadiran 2 laki-laki itu, Gagas pun berniat datang untuk menolong.
Ia beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke arah tribun dimana gadis itu berada.
Dan sesampainya di sana Gagas sempat membeku sebentar. Ia lalu bergegas menarik lengan gadis itu untuk mengajak berlari bersama.
***
Gagas menghentikan laju larinya ketika dirasa sudah aman. Dengan masih terengah kelelahan ia pun mulai menjelaskan pada gadis itu mengapa ia menariknya dan mengajak berlari.
"Sorry, gue tiba-tiba kaya gini. Gue gak maksud apa-apa," ujarnya sembari menengok ke arah tribun tempat gadis itu duduk tadi. Ke-2 laki-laki yang berniat menggodanya sudah tak ada di sana.
"Gue mungkin kaya nakut-nakutin, tapi gue harus bilang ini," ujar Gagas lagi, menatap gadis yang masih digandengnya.
"Dua cowok yang samperin lo tadi bukan manusia," ungkap Gagas.
"Darimana lo tau?" tanya gadis itu.
"Lo gak liat pelipis salah satu dari mereka berdarah dan berlubang? Mulutnya juga kebiru-biruan.
Dan yang satunya punya kaki kambing," terang Gagas, menelan ludah kasar.
"Gue tau. Tapi yang gue gak tau kenapa lo bisa tau mereka bukan manusia?" tanya gadis itu.
"Ceritanya panjang. Singkatnya gue punya kemampuan Indigo karena pernah ngalamin kecelakaan dan sempet koma," jawab Gagas.
Tiba-tiba Gagas terdiam saat menyadari sesuatu. Ia kemudian memperhatikan gadis itu lebih seksama.
"By the way... apa lo anak Indigo juga?"
Gadis itu menggeleng.
"Terus kenapa... kenapa lo... kenapa lo bisa liat mereka juga?" tanya Gagas, ia baru sadar betapa dinginnya tangan gadis yang digenggamnya. Spontan ia melepaskan pegangan tangannya.
"Gue cenayang," ujar gadis itu.
Gagas menghela napas lega.
"Hah~ gue tadi ngira lo bagian dari mereka juga."
"Oh yah nama lo siapa?" tanya Gagas, menjulurkan tangan berniat berkenalan.
"Valencia," ujar gadis itu, menyambut tangan Gagas.
"Kalo gue Gagas, panggil aja mas," sahut Gagas modus.
"Oke Gagas, ada 3 peringatan yang akan gue kasih tau karena sepertinya lo baru," ujar Valen.
"Yang pertama... kalau lo melihat makhluk seperti mereka lagi, abaikan. Karena ketika mereka menyadari lo bisa melihat mereka, mereka akan memberitahu teman-teman mereka. Maka akan lebih banyak makhluk seperti mereka yang akan mengganggu lo.
Kedua, jangan mulai pembicaraan dengan mereka. Mereka akan lebih mengganggu jika lo lakukan itu.
Dan ketiga, jangan memperlihatkan dengan jelas kalau lo bisa merasakan mereka. Atau lo akan mengalami yang seperti itu," jelas Valen sembari menunjuk ke tengah lapangan, dimana Gagas sedang mengamuk dengan tangan dan kaki yang dipegangi oleh teman-temannya.
Terlihat ia menggeram pada Juni ketika Juni dengan iseng menyemburnya dengan air yang berasal dari ludah yang ia kumpulkan dalam mulut.
Gagas terperangah di tempat. Ia tak menyadari ruhnya terlepas dari tubuhnya.
"Sejak kapan?"
"Saat lo melamun sendirian. Kemudian ketika lo bangkit dan mendatangi gue, lo lupa membawa tubuh lo sendiri," jelas Valen.
Gagas lalu berlari menghampiri tubuhnya. Namun ia terpental.
Ia mencoba berulang kali, tapi berakhir sama.
Ia benar-benar geram dan putus asa, karena tubuhnya yang sedang kerasukan seperti dijadikan mainan oleh teman-teman dan adik kelasnya yang ada di lapangan itu.
Terlihat Benni sedang menarik-narik jempol kaki Gagas, karena ia pernah dengar jin yang merasuki seseorang akan keluar jika jempol kaki orang tersebut ditarik. Namun jin yang merasuki Gagas tak kunjung ke luar, meski Benni menarik bukan hanya jempol kakinya saja. Seluruh jari kaki Gagas ia tarik, bahkan ia menarik jari kakinya sendiri karena merasa menarik jari Gagas tidak berhasil.
Sedangkan Cassi membentak-bentak Gagas dengan kalimat random yang manusia normal tak memahami.
Dan Juni masih menyemburkan ludah pada Gagas. Hanya Sony dan Andy yang membacakan do'a.
Tubuh Gagas kemudian melompat, membuat teman-temannya dan Gagas sendiri terkejut.
Tubuhnya lalu menghampiri Valen yang berada di pinggir lapangan, dengan masih melompat-lompat.
"Ek vra jou om te gaan!" seru Valen mengucap mantra.
Seketika Gagas ambruk dan ruhnya terhisap masuk ke dalam raganya.
Teman-temannya kemudian berlari dan menghampiri dengan perasaan khawatir.
"Gapapa. Lo punya air?" pinta Gagas dengan perasaan lemas.
"Nih ada," sodor Juni, memberikan sebuah botol minum dengan cover bergambar Spiderman yang tadinya ia kalungkan di leher.
Gagas menerimanya, lalu mencuci wajahnya dengan itu. Kemudian ia melempar botol minum itu ke arah Juni, hingga terdengar bunyi peletuk karena berhasil mengenai keningnya.
"Gatau terima kasih lo!" amuk Juni emosi. Ia sudah bersiap menghajar Gagas, namun Sony memegangi.
"Siapa yang bakalan makasih waktu abis diludahin!" balas Gagas.
"Kalo kerasukan pan emang mesti disembur!" ujar Juni tak merasa salah.
"Akhh... tutup mulutmu! Aku sudah muak!" seru Gagas melempar sepatunya yang sudah terlepas ke arah Juni, tapi justru itu mengenai Sony. Namun Sony tak marah karena hanya mengenai bahunya.
"Emang bau banget bang?" tanya Benni.
"Bukan masalah baunya. Ini pedih di mata," ujar Gagas sembari mengusap wajah dengan kaus.
"Sabar bang," ujar Benni, terlihat asik mentertawai.
"Lo tadi kenapa?" tanya Cassi.
"Keliatannya?" sahut Gagas terlihat masih kesal.
"Kayanya sih kerasukan," duga Cassi sembari mengusap dagu.
"Bukan kayanya! Gue emang kerasukan," ujar Gagas, wajahnya nampak merah padam.
"Oh. Terus lo bisa sadar gimana? Apa berkat ludah abang gue?" tanya Cassi.
"Matamu!" umpat Gagas.
"Terus?" tanya Cassi lagi.
"Tadi cewek itu yang nolongin," tunjuk Gagas ke arah Valen yang terlihat sedang mengagumi Andy.
"Cewek mana? Di sini gue doang yang cewek," ujar Cassi.
"Hah?" Gagas nampak bingung.
Ia lalu bangkit dan mencoba memegang bahu Valen. Namun tangannya menembus tubuh Valen. Ia hanya mendapati perasaan dingin dan kesemutan saat menyentuh gadis yang baru dikenalnya itu.
"Lo itu apa?" tanya Gagas pada Valen.
Tapi ia terlihat seperti bicara dengan Andy.
"Maksud lo?" tanya Andy, menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Gue sedang jalan-jalan. Tubuh gue ada di rumah," ujar Valen. Matanya masih menatap wajah Andy.
"Lo bukan lelembut kan?" tanya Gagas memastikan.
Valen menggeleng.
Ia kemudian bertanya, "dia siapa?"
"Kenapa?" Gagas tak menjawab, justru berbalik bertanya.
"Apa karena parfumnya? Hidung gue meresponnya," ujar Valen masih mengamati Andy.
"Hah?" Gagas tak memahami.
"Apa pakaiannya? Ujung jari gue ingin meraihnya," lanjut Valen. Ia terlihat tak bisa berhenti memandangi Andy.
"Lo suka sama dia?" tanya Gagas.
"Dia siapa? Mantan lo? Baru rencana, belum gue apa-apain. Kalo lo keberatan, gue batalin," sahut Andy.
"Jika cinta itu nyata, mungkin begini rasanya," ungkap Valen.
"Jangan! Dia playboy, fakboy, badboy, lefboy, boboiboy! Lo bakal nyesel!" larang Gagas, berusaha mencegah.
"Lo kenapa sih vroh?" tanya Andy, menggaruk kepala.
"Diem! Gue gak ngomong sama lo!" sentak Gagas.
"Terus lo ngomong sama siap---"
"Diem!" sentak Gagas. Andy pun meresleting mulutnya.
"Duh gue jadi merinding," gumam Benni.
"Gaes, gue pulang duluan ya. Mama gue udah sms nyuruh pulang, nyuruh mandi," ujar Benni berpamitan.
"Gak bareng aja?" tanya Sony.
"Gak bang, udah kesorean," ujar Benni lagi dan bergegas mengambil tasnya.
"Ya udah hati-hati," sahut Sony dan kembali fokus pada Gagas yang ia rasa masih kerasukan.
Bersambung...