Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Permohonan



Masih dalam kantin. Dante nampak sedang memperhatikan satu per satu deretan makanan yang tersaji di meja buffet. Namun, karena tak ada hidangan yang membuat selera makannya kembali seperti dulu, Dante pun memutuskan untuk kembali ke dalam kelas.


Ketika ia sampai, kelas sangat bising karena para siswi sedang berkerumun untuk membahas rumor yang baru saja beredar, tentang anak kelas 1 bernama Bayu yang dikatakan titisan dukun santet. Nenek buyutnya ternyata adalah Nenek Tapasya, seorang tokoh terkenal yang dapat mencelakai orang hanya dengan menggunakan pikiran.


Tak mempedulikan itu, mata Dante tanpa sengaja menatap papan tulis yang penuh dengan coretan yang bertuliskan Juni ❤️ Kiara dengan ukuran yang luar biasa besar. Tentu ia tau siapa yang menulis itu. Sudah pasti itu ulah Juni sendiri, untuk memamerkan bahwa dirinya sudah tak jones lagi.


Itu benar-benar membuat matanya sakit.


Rasanya dia ingin menghapusnya dan mengganti dengan tulisan Dante ❤️ Zoey.


Tapi Dante adalah Dante, dia tidak akan pernah mewujudkan tindakan kekanak-kanakan itu. Apalagi jika ada saksi mata yang akan memperhatikan aksinya.


Dante kemudian menghela napas bosan, pandangannya pun beralih pada jendela di sampingnya.


Di luar cuaca sangat cerah.


Sebuah memori tiba-tiba melintas dalam benaknya. Tentang seorang gadis kecil yang ia rasa belum pernah mengenalnya, tapi ia bisa mengingatnya.


Mungkin usianya 11 tahun atau mungkin 13 tahun, detail itu sulit dipastikan karena postur tubuhnya yang begitu mungil dan Dante hanya samar-samar mengingatnya.


Dan meski gadis itu terlihat menyenangkan, namun entah kenapa ia selalu mendapat masalah. Anak-anak seusianya selalu bersikap jahat padanya.


Anak-anak sedini mereka sudah memiliki kemampuan mengucilkan dan memanggil anak yang lebih lemah dari mereka sebagai monster. Hanya karena anak itu bisa melihat hantu.


Betapa jahatnya mereka pada anak itu.


"Lo ingin menemui dia?" ucap Valen, membuyarkan lamunan Dante. Entah sejak kapan gadis cenayang itu sudah duduk di sebelahnya.


"Siapa?" tanya Dante datar.


"Lo gak ingat kejadian tadi malam ya?" tanya Valen, nada suaranya terdengar misterius.


"Hah?" sahut Dante bingung.


"Gue akan bantu lo mengingatnya." Valen tiba-tiba menaruh telapak tangan kanannya menutupi kedua mata Dante.


Setelah beberapa saat Valen pun menurunkan tangannya dan membuat Dante sudah berpindah ke tempat lain.


Ke sebuah taman usang dengan banyaknya daun kering yang berguguran. Tempat dimana kemarau seakan menyerang musim semi yang baru datang 2 hari.


Apa ia sedang dihipnotis?


Tapi tidak mungkin dirinya semudah itu terhipnotis.


Memandang sekeliling, ekor matanya akhirnya menangkap sebuah sosok. Dante pun memutar tubuhnya ke samping untuk meninjau siapa sosok itu.


Sosok itu sedang duduk di bangku taman sendirian, yang berada beberapa meter dari jalan setapak dimana Dante berada. Sebuah pita merah muda nampak terhias cantik di rambut gelapnya. Kedua kakinya berayun-ayun pelan dan wajahnya nampak riang seperti sedang menunggu seseorang.


Sosok yang sepertinya ia kenali dan sosok yang selalu ia rindukan.


Langkahnya pun semakin cepat dan setelah ia sampai dihadapan sosok itu, tiba-tiba saja air matanya menetes jatuh dan mengalir di wajahnya yang elegan.


Dante menyeka air matanya itu, lalu menatap lekat pada sosok di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan di sini sendiri?" tanyanya.


Sosok itu menjawab dengan senyuman. Kedua pipi imutnya nampak begitu familiar.


"Apa kamu selalu di sini sendirian?" tanya Dante lagi.


Sosok itu mengangguk.


"Apa kamu kesepian?"


Sosok itu menggeleng. "Awalnya aku memang takut. Aku di tempat dimana gak ada orang yang bisa liat aku. Tapi ternyata gak terlalu buruk di sini." ucapnya.


"Ya, tentu. Kamu pasti ketakutan. Kamu mungkin melihat dirimu sendiri terbaring dan mati," ucap Dante menahan sesak. "Kamu mati dan gak ada satupun orang yang dihukum," lanjutnya dengan tangan mengepal dan kepala yang tertunduk.


Sosok itu kemudian berdiri dari duduknya, lalu memeluk Dante dengan sangat erat. "Aku baik-baik aja kak. Aku udah tau itu semua bakalan terjadi dan aku memang udah siap untuk semua itu. Jadi, kakak gak perlu sedih," ucapnya dengan suara lembut dan manis.


Ia lalu melepas pelukan dan menatap Dante dengan senyuman yang belum pudar di wajah.


Dante pun berbalik tersenyum, meski ekspresinya masih tetap sedih.


"Harusnya kakak menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain dengan kamu. Harusnya kakak menjaga dan merawat kamu lebih baik lagi. Harusnya---" Dante terengah karena menahan sesak. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Kakak udah lakuin lebih dari cukup untukku. Kakak menyayangiku tanpa syarat dan aku puas dengan itu. Karena itu, kakak gak perlu terobsesi pada sesuatu yang gak bisa diubah. Aku udah lama meninggalkan dunia dan kakak gak bisa berbuat apa-apa pada hal yang udah terjadi. Jadi biarin si pelaku pergi. Di dunia kakak dan di dunia satunya," pinta sosok itu dengan tatapan memohon.


Dante nampak keberatan dengan permintaan itu. "Tapi... dia pantas mendapatkannya. Dia---"


"Kakak tau? Aku selalu memperhatikan kakak dan juga yang lain. Karena itu aku tau setiap apa yang kakak lakukan. Dan aku benci itu," ucap sosok itu, membuat Dante terdiam terpaku.


"Meski gitu aku gak benci kakak. Karena kakak lah yang membersihkan setiap tetes darah di tubuh matiku saat itu tanpa jijik," lanjutnya.


"Gi... kakak hanya ingin Denta tau bahwa kematian rasanya sakit. Dan seharusnya dia gak lakuin itu pada kamu," ucap Dante seraya menggenggam erat tangan sosok di hadapannya.


"Kakak gak punya alasan untuk lakuin itu lagi. Karena aku selalu hidup jadi milik kakak. Agie adalah adik kakak dan aku adalah Agie. Berapa kali pun aku mati, aku akan tetap pulang pada kakak. Jadi kak... sebagai seorang kakak, apa kakak bersedia menuruti apa yang adikmu ini minta?" tanya sosok itu dengan mata berharap.


Dante terdiam sesaat, seperti sedang menimbang-nimbang.


Setelah beberapa lama berpikir, mulutnya kini menjawab. "Oke, karena kakak akan selalu memberikan apa saja yang kamu inginkan."


Bersambung...