Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Insiden Toilet



Juni yang ingin buang air kecil berjalan menuju toilet pria.


Namun ketika ia baru berada di depan pintu masuk toilet, ia mendengar suara aneh menggema yang berasal dari toilet di sebelahnya, yaitu toilet wanita.


Suara yang familiar yang biasa ada di film dewasa yang pernah ia tonton.


Jiwa kekepoannya pun bergerjolak. Memerintahkan untuk mengintip dan memeriksa apa yang terjadi di dalam. Tapi itu sangat tidak sopan, terlebih toilet wanita adalah tempat terlarang baginya.


Tapi pada akhirnya Juni tetap mengintip.


Perlahan Juni berjalan dengan berjinjit sembari memasang kuping.


Suara desah wanita terus menggema membentur dinding.


Suara yang seksi dan menggairahkan.


"Oh, oh, no rush baby. Slowly."


(Oh, oh, jangan buru-buru sayang. Pelan-pelan).


Kemudian disahuti oleh suara berat seorang pria.


"Alright, take off your clothes."


(Baiklah, lepaskan pakaianmu)


Degup jantung Juni menjadi kencang. Ia begitu penasaran apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana. Meski sebenarnya ia sudah terbayang aktivitas yang tengah mereka lakukan itu.


Namun, Juni tak bisa berharap banyak, karena mereka melakukannya di dalam bilik yang terkunci. Jadi, ia tak bisa menonton pemandangan yang ia harapkan di sana.


"Lo sedang apa?" tegur Valen dari belakang.


Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Juni terkejut. Tubuh Juni pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh menabrak tubuh Valen hingga mereka berdua jatuh bersama.


Degh... Degh... Degh...


Degup jantung Juni semakin cepat layaknya kentongan yang dipukul saat adanya maling.


Wajahnya pun memerah, baru kali ini ia merasa begitu dekat dengan seorang wanita.


"Lo bisa menyingkir?" pinta Valen, ia merasa sudah terlalu lama Juni berada di atas tubuhnya. Menatap dengan ekspresi aneh yang persis dengan para hidung belang.


Juni kemudian buru-buru bangkit dan meminta maaf. Ia pun tak lupa membantu Valen untuk segera bangkit.


Setelah itu ia menutupi hidungnya yang sepertinya akan mimisan.


"Empuk," batinnya.


"I think i'm gonna sweat." (Aku pikir aku akan berkeringat).


"I'll wipe it for you, come over baby." (Aku akan menyekanya untukmu, kemarilah sayang).


Kedua pasangan mesum di dalam bilik toilet sepertinya masih melakukan aktivitas kotor yang sejak tadi mereka lakukan, dan masih tak menyadari kehadiran Valen dan Juni.


Valen yang terlihat terusik pun melangkah masuk ke bilik sebelah. Ia mengambil shower dan menyiramkannya ke atas bilik di sampingnya.


"What the hell!" pekik si wanita.


"Hei! Hei! Hei! Stop it!" seru si pria.


Tak lama kedua pasangan mesum itu pun keluar untuk menuntut perhitungan pada orang yang menyiram mereka dengan air.


"Who the hell splashed the water? (Siapa sih yang menyiram air?)" tanya si wanita dengan pakaian nyentrik berwarna merah dan lipstik yang sama merahnya yang sudah pudar. Diketahui dia adalah Delisa, salah satu senior mereka.


Valen menyelipkan rambutnya di telinga dan dengan percaya diri mengangkat tangan kanannya.


"Lo!" tunjuk Delisa ke arah Valen.


"Lo mengganggu orang yang seharusnya gak lo ganggu!" sambungnya sembari menoyor-noyor dahi Valen.


Valen menepis tangan Delisa.


"Lo yang mengganggu. Lo mengganggu ketentraman orang yang akan menggunakan toilet."


"Oh yah?" Delisa tak merasa sama sekali.


"Apa kalian gak mampu menyewa kamar hotel?" sindir Valen.


"Apa?! Lo gak tau siapa pemilik seluruh gedung ini?!" seru Delisa seraya mendorong Valen. Membuat Valen hampir jatuh ke belakang, jika tidak ada Juni yang dengan sigap menahan tubuh rampingnya.


Dan ketika Delisa ingin menyerang Valen lagi, tubuh tegap Juni sudah melindungi Valen lebih dulu layaknya sebuah perisai.


"Sudahlah," lerai si pria dengan tubuh atletis yang tak seharusnya dimiliki oleh pelajar, yang tak lain adalah Rey.


"But, but, but, baby... dia yang mulai," ucap Delisa dengan suara manja.


"Kita pergi saja," ajak Rey menggandeng kekasihnya pergi.


Delisa pun patuh dan tak lagi memperpanjang masalah.


Namun, Valen masih ingin mencari masalah dengannya.


"Berapa tarif lo?" celetuk Valen tersenyum usil.


Delisa menghentikan langkah dan melotot ke arah Valen, seakan sudah siap untuk mencakar.


"Apa 300ribu sudah full service?" celetuk Valen lagi dan hampir mendapat tamparan dari Rey. Lagi-lagi jika tidak ada Juni yang menolongnya dengan menahan tangan senior atletisnya itu.


"Cowok sejati gak akan mukul cewek, kan?" ujar Juni mengeraskan rahang. Ekspresinya terlihat berbeda dari biasanya. Ia terlihat dominan dan kuat. Karakter konyolnya menghilang, seakan ia tak pernah memiliki sifat itu.


Rey tersenyum miris.


"Dia pacar lo?" tanyanya.


Juni tak menjawab. Dan bagi Rey diamnya Juni adalah jawaban iya.


"Yang lo lalui pasti berat. Karena, pacar lo seperti tau harus mengatakan apa agar wajahnya dipukul," ujar Rey sembari menepuk bahu Juni dan kemudian melanjutkan pergi.


Rey dan Juni sebenarnya sudah saling kenal sejak kecil.


Karena Juni dan adiknya Bintang sempat tinggal di Panti Asuhan yang dikelola oleh ayahnya Rey.


"Jun," ucap Valen, memegang lengan kekar Juni agar menoleh menghadapnya.


"Kenapa? Lo gak apa-apa kan?" tanya Juni cemas sembari memutar-mutar tubuh Valen untuk mengecek kondisinya.


"Gue gapapa, gue cuma pusing karena lo puter-puter badan gue terus," jawab Valen, pijakkannya mulai goyah.


"Hehe." Juni cengengesan. Ia terlihat salah tingkah.


"Thank," ucap Valen tiba-tiba.


Ia benar-benar berterima kasih. Karena meski Valen adalah seorang cenayang, ia tak bisa mengetahui setiap detail takdir dirinya, termasuk takdir yang hampir saja terkena pukulan karena ulahnya sendiri.


"Gak masalah. Itu udah tugas gue sebagai pahlawan bertopeng kok. Eh, tapi gue lagi gak bawa topeng Spiderman deng," sahut Juni, memberi senyum jenaka. Ekspresi yang biasa ia gunakan telah ia pakai kembali.


"Oh iya, gue kebelet. Gue mau pamit pipis dulu ya. Gak usah nungguin," ujarnya sembari mengedipkan mata dan pergi dengan cekikikan.


Bersambung...