Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Usil



Banyak orang sering membicarakan pengalaman dekat dengan kematian.


Mereka biasanya menggunakan kecelakaan mobil mereka dan mengkaitkan dengan mitos atau takhayul yang mereka percayai.


Mereka bicara tentang cahaya terang, sebuah jembatan, dan lain sebagainya.


Tapi itu tidak seperti yang dialami Gagas.


Tahun lalu ia mengalami kecelakaan motor saat sedang balap liar.


Sebuah mobil menabraknya dan membuat ia terpental beberapa meter dan membentur pembatas jalan.


Ia menghabiskan 6 bulan di rumah sakit dalam kondisi koma hingga dokter berkata pada keluarganya, mereka sudah berusaha. Dengan makna lain, mereka telah menyerah.


Namun, 15 menit setelah Gagas berada di kamar jenazah, entah bagaimana detak jantungnya kembali.


Ia terbangun setelah menghabiskan 6 bulan menjelajahi dunia yang berbeda. Dunia setelah kematian.


Tak ada cahaya terang di sana.


Dia hanya tenggelam dalam kegelapan dan menatap langsung pada sesuatu yang begitu besar. Sangat besar, hingga ia tak bisa melihat keseluruhan dari sosok itu.


Namun saat kembali, ia merasa sesuatu telah berbeda. Ia merasa gelisah. Segalanya yang ia lihat terasa lebih jelas.


Seperti saat menonton film horror dengan kacamata VR.


Ia bisa melihat seorang pria korban luka bakar, yang kulit wajah dan tangannya seperti hot dog yang jatuh ke api unggun, berdiri di hadapan jasadnya sendiri yang tengah terbujur kaku ditutupi selimut.


Ia pun melihat beberapa anak-anak kecil dengan tubuh ringsek berbaris menatapnya.


Juga, wanita yang kehilangan rahang karena tertembak di mulutnya.


Gagas tak berteriak saat pertama kali melihat itu. Ia hanya diam, menggigit bibir bawahnya, berpikir bahwa itu adalah mimpi buruk dan akan kembali normal ketika ia terbangun.


Namun, mereka semua, mereka yang seperti belum siap menginjakkan kakinya di neraka, memberitahu bahwa---


"Darararararari...


Si Ucup manggih kaleci, beybeh..."


Untuk sekian kalinya Gagas sudah mendengar suara itu. Suara itu terus mengusik waktu buang airnya.


"Darararararari..."


"S**t, ganggu orang aja," keluhnya dengan posisi sedang berjongkok di toilet duduk.


"Darararararari..."


"Berisik! Siapa sih? Karaoke di wc!" bentaknya.


Dan setelah itu, ia tak mendengar suara yang mengganggunya lagi.


Suasana tampak hening sekarang. Ia pun bisa kembali fokus mengeluarkan kotorannya.


Hingga ia memutuskan untuk melihat ke atas. Seketika itu, ia pun membeku dengan mulut terbuka sedikit.


Di sana, tepat di sampingnya. Ada sebuah kepala yang sedang melongok di atas celah bilik miliknya.


"Bang..."


"@$* kaget gue! Ngapain lo di sana anak setan!" sentak Gagas yang hampir kehilangan keseimbangan.


"Bang, lo lagi eeq ya?" tanya Benni mengamati.


"Biar jadi Bad Boy gitu bang. Kaya di drakor-drakor," terang Benni polos.


"Gak ada ceritanya Bad Boy di drakor gangguin orang b*ker!"


"Idih, pedelpop lo kalah saing sama gue," ledek Benni.


"Pergi gak lo! Gue guyur nih!" ancam Gagas.


"Iya, ini juga mau pergi. Gue mau kasih tau Pak RT kalo lo lagi b*ker di wc sekolah," ucap Benni.


"Buat apaan?!"


"Soalnya Pak RT pasti belum tau informasi ini," jelas Benni.


"Gue lempar eeq mau lo?" murka Gagas.


"Dih, baveran, p*ntad tivis, siksa kubur," ejek Benni.


"Anda kel*m*n pria sekali," geram Gagas, menggertakkan gigi, menahan emosi.


"Bang, mau liat gak bang? Jempol kaki gue numbuh toge," tawar Benni.


"Ngapain gue liat gituan?"


"Ya siapa tau lo pengen liat keajaiban alam," beo Benni.


"Mama gue kenapa sih sekolahin gue di sini," ucap Gagas tersedu.


Syabil yang baru saja memasuki toilet pun menegur Benni.


"Eh dek, ngapain di situ?"


"Dih, dek, dek. Lo kira gue adek lo? Botak lu!" sahut Benni, tak ramah.


"Mulut!


Gak sopan banget sama senior!" peringati Syabil.


"Lo yang harusnya sopan! Lo gak tau siapa gue? Gue punya tetangga yang temennya punya sepupu yang dosennya Kader Gocar, tau gak?!" seru Benni, menyombongkan diri.


"Tuh anak mulutnya slepet tali rapia aja, bang Bill!" ujar Gagas dari dalam toilet.


"Sabar, sabar. Mungkin dia gak dikasih uang jajan sama mamanya makanya kaya gini," ucap Syabil, sangat bijaksana.


"Ah, gak asik." Benni lalu turun dari pijakan dan pergi begitu saja.


Syabil tak mempersalahkan dan kembali memaklumi. Ia lalu berjalan ke arah urinoir untuk buang air kecil.


Tak beberapa lama, Benni pun kembali.


Ia pun dengan iseng mematikan lampu hingga seluruh ruang toilet nampak gelap gulita.


"Janc**! Anak dajjal!" umpat Syabil. Ia lalu berlari mengejar Benni setelah menyeleting celananya.


"Eh! Bang! Balik lagi, nyalain lampunya dulu bang! Woi!" teriak Gagas yang belum selesai buang air.


"Baaaaaaaaaaang!" pekiknya dengan suara nyaring. Ia nampak ingin menangis, karena dua pasang mata tanpa pemiliknya tiba-tiba saja sudah melayang-layang di knop pintu dan juga mulai terdengar suara samar yang sedang mentertawai berdesir di belakang telinganya.


Bersambung...