
Pemuda itu menyayat kulit pada jarinya dengan pisau, memeras darahnya dan memasukkannya ke dalam tabung kecil.
Namun darah dari sayatan itu tak cukup memenuhi tabung, maka dia membuat sayatan lagi pada beberapa jarinya yang lain.
"Sempurna," ujarnya setelah berhasil membuat kalung darah untuk adik kecilnya.
***
Rasa sakit di perut membangunkan Bayu di pagi hari.
Ia hampir tidak mencapai kamar mandi untuk memuntahkan semuanya.
Rasa menyengat pada tenggorokannya begitu tak nyaman setelah ia mengeluarkan benda aneh dari dalam tubuhnya.
Benda itu seperti gumpalan hitam yang memiliki bintik-bintik merah.
Bayu merasa ini berhubungan dengan nasib buruk atau pertanda negatif.
Ada rasa takut dalam diri Bayu saat mengamati benda itu, namun rasa ingin taunya lebih mendominasi.
Tiba-tiba sosok Kuntilanak sudah berada di belakang Bayu.
Kukunya menyentuh kulit, menggores dan terus menggores wajah remaja itu sembari melengkingkan tawa khas-nya.
"Hihihihihihi..."
Angin hangat kemudian menyentuh tengkuk Bayu seraya menghempas kuntilanak itu menjauh.
Setelah Kuntilanak itu lenyap, sosok pria yang terlihat berumur 30an pun perlahan menampakan diri. Terlihat ia memakai baju perang, rambutnya panjang terawat, parasnya tampan dan bertubuh kekar.
Ia tersenyum ramah pada Bayu dengan gestur yang begitu elegan.
Sosok itu lalu berkata,
"Iblis tidak sabar menodai jiwa suci anak itu."
***
Dante turun dari motor sport-nya.
Di sana, di tempat parkir ia bertemu dengan sosok Virgo, si presiden sekolah.
Virgo menyapa Dante dan menanyakan prihal Proyek Eskul baru. Ia pun meminta Dante menaruh proposal tentang itu di meja kerjanya saat jam istirahat.
Namun Dante dengan ketus menolak. Ia bilang proyek itu dibatalkan karena adiknya pagi ini sudah berada di luar negeri.
Dante lalu pergi dengan suasana hati yang bertambah buruk karena ia tak mengharapkan pertemuan dengan saingan cintanya itu pagi-pagi.
Tapi tak lama Dante menaruh seringaian kecil pada wajah tampannya. Tercetus dalam pikirannya sebuah rencana jahat untuk Virgo.
Seperti menaruh lintah penghisap darah pada celana olahraga Virgo atau menyiramkan cat merah di atas mimbar saat Virgo berpidato.
Membayangkannya saja sudah membuat Dante merasa senang.
Ia mungkin akan tertawa paling keras saat berhasil melaksanakan rencananya itu.
"Dan!" panggil Gagas, membuyarkan lamunan Dante.
"Apa?" sahut Dante datar.
"Minta password WiFi lo," ujar Gagas tanpa berbasa-basi.
"Kemarikan Hp lo," titah Dante.
"Sebut aja kenapa sih Dan?" paksa Gagas.
"Security reasons," ujar Dante, ia tak ingin hal itu diketahui oleh orang lain.
"Oh, pasti password lo I_Love_Zoey?" tebak Gagas.
"No. Tapi, MyLoveZoey1," ujar Dante keceplosan.
"Oh, thank," ucap Gagas saat ponselnya sudah terkoneksi.
Dante terdiam menyadari password WiFi-nya belum ia ganti.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan buru-buru mengubah password WiFi miliknya.
"Wait, Gas. Itu bukan passwordnya!" serunya pada Gagas yang sudah berjalan mendahului.
"Hei, lo gak ingin tau password yang sebenarnya?" pekiknya sebelum Gagas memberitahu yang lain.
***
Juni berdiri di depan gerbang. Berdo'a dengan khushu untuk para seniornya yang tiada di depan foto mereka. Nampak begitu banyak karangan bunga dan pesan berbelasungkawa.
Tangisan pun pecah di sana, oleh teman-teman seangkatan para korban yang beruntung masih dapat selamat.
Namun ada pula yang bereaksi negatif tentang kematian anak-anak kelas 3 itu.
Ia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang bahagia, meski sudah berusaha menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk menahan semburan tawa.
Ia nampak begitu bersyukur itu terjadi pada mereka dan berharap sisanya akan menyusul segera.
Dia adalah Sintia. Anak kelas 3 yang memiliki tubuh gempal yang berlipat-lipat. Dan karena kegemukannya itu ia menjadi bahan olokan satu angkatan. Sebab itulah ia menjadi satu-satunya anak kelas 3 yang tidak ikut dalam wisata kelas dimana tragedi pembantaian itu terjadi.
"Lo bahagia?" tanya Monika berekspresi sinis.
"A-apa maksud kamu?" Sintia berbalik bertanya dengan terbata. Berpura-pura tak memahami maksud Monika.
"Gak usah pura-pura deh lo kodok zuma!" seru Monika dan berniat mendaratkan tamparan pada Sintia, namun Juni sempat menahan tangannya.
"Apa? Gak usah ikut campur!" seru Monika, mencoba menghempas tangan Juni. Namun tak berhasil karena ia kalah tenaga.
Juni hanya diam, menatap serius, tak mau melepaskan tangan Monika.
Tapi dalam kalbu Juni berujar, "pengen nepak jidatnya tapi gak sopan, dia kakak kelas."
"Sob, kenapa gak masuk?" tegur Gagas pada Juni.
"Duluan aja. Gue sebagai pahlawan bertopeng gak bisa biarin penistaan kepada kodok zuma, eh maksud gue penistaan kepada cewek yang dikatain kodok zuma," ujar Juni, menunjuk pada Sintia.
"Hah? Lo bicara apa? Memang ada masalah apa?" tanya Dante penasaran.
"Gak ada masalah apa-apa kok," ujar Monika, tersenyum centil pada Dante.
"Iyakan kod---, Sintia?" Monika menyikut Sintia agar mengangguk.
"Iya, nggak ada masalah apa-apa kok," ucap Sintia sembari menunduk.
"Hmm... tapi jelas sekali lo sedang melakukan perudungan," ujar Dante masih mengamati.
"Enggak kok---"
"Emang kenapa kalo dia dirudung?" tanya Marry menginterupsi. Ia sosok gadis yang terlihat kuat dan mendominasi, di dukung oleh geng kecil di belakangnya.
"Apa alasan dia dirudung?" tanya Dante.
"Yah, jelas karena dia gendut," jawab Marry dan disambut tawa oleh teman-temannya.
"Lo buta kalo gak bisa lihat itu," sambungnya.
"Emang apa salahnya jadi gendut? Gendut tuh bahagia! Gue aja pengen gendut tapi gak bisa-bisa," ujar Juni berkacak pinggang.
"Orang gendut itu bikin sempit dunia dan juga merusak pemandangan," tutur Marry, seraya memberi sikap seakan ialah Ratu sekolah.
Tanpa diduga Dante melangkah lebih dekat ke arah Marry. Ia sedikit membungkuk seraya memegang dagu senior urak-urakannya itu.
"Jika menjadi gemuk merusak pemandangan, maka menjadi jelek pun lebih merusak pemandangan lagi.
Jadi... lo 2x lipat merusak pemandangan, karena lo sangat-sangat jelek," ujar Dante dengan sikap menghina seraya memberi seringaian di bibir tipisnya. Setelah itu ia pergi begitu saja seakan tak terjadi apa-apa.
Sedangkan Marry hanya bisa mematung. Meski ia merasa sakit hati, tapi ia tak bisa membalasnya karena telah terhipnotis dengan tatapan karismatik milik Dante, yang membuat degup jantungnya berdetak begitu tak beraturan. Perasaan itu pun dirasakan oleh Sintia yang baru saja mendapat pembelaan dari Dante. Monika turut terhipnotis juga, dia berharap dagunya yang disentuh Dante tadi, dan ia tak masalah meski harus dikatai jelek sekalipun.
Juni dan Gagas yang heran dengan sikap para gadis itu pun bergegas menyusul Dante sembari berbisik di belakangnya.
"Eh, tumben dia belain orang," bisik Juni.
"Mungkin inget trauma masa lalunya, bro," balas Gagas, sebisa mungkin memelankan suaranya agar Dante tak mendengar.
"Kirain karena hari ini Jum'at. Hari Jum'at dia biasanya jadi kidal," celetuk Juni.
"Apa hubungannya bro? Lo kurang tidur ya?" sahut Gagas heran.
"Ho'oh nih. Gue kemarin malem nginep di rumah sakit. Mana ketemu Kuyang Ngesot lagi," ujar Juni menghela napas saat mengingat kejadian mengerikannya tadi malam.
"Suster ngesot kali, bro," koreksi Gagas.
"Kaga. Beneran Kuyang Ngesot," ujar Juni bersikukuh dengan penampakan yang dia lihat.
"Coba, ngapain Kuyang ngesot? Dia kan bisa terbang, walau gak punya sayap, sob," debat Gagas.
"Dia ngesot buat jajakin dagangannya.
Kalo gak ngesot kaga bakal laku," jawab Juni seperti melantur.
"Emang dagang apaan doi?" tanya Gagas masih meladeni.
"Skinker sama taperwer doang sih," jawab Juni dengan wajah serius.
"Lo beli gak?" tanya Gagas.
"Gue---"
"Lo pergilah ke UKS kemudian tidur, Jun," sela Dante.
"Lalu lo Gas, lo bisa temani Jun di UKS jika lo masih kepo tentang Kuyang yang bermutasi menjadi seperti Suster Ngesot yang dikarang Jun barusan," lanjutnya. Ia benar-benar geram dengan percakapan bodoh ke-dua temannya yang mengusik telinga berharganya itu.
"Dih kampret, darimana dia tau gue cuma ngarang," bisik Juni pada Gagas.
"Gue pengen nepak jidat lo, bro," ujar Gagas menahan emosi.
Juni sempat membulatkan matanya mendengar ucapan Gagas barusan, yang sepertinya telah membaca pikirannya saat membela kakak kelas yang dibully di depan gerbang tadi.
Tapi sesaat kemudian...
"Ah, gak mungkin," gumamnya, ia merasa itu hanya kebetulan.
Bersambung...