Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Pagi Hari



Ryan membuka tirai dan ia mendapati pemandangan putih yang menutupi kaca jendela kamarnya.


Tidak mungkin salju, karena salju tak turun di negaranya ini.


Kemudian Ryan mendengar nyanyian. Namun ia tak tau sumber nyanyian itu berasal darimana. Tapi ia merasa itu ada dalam kepalanya.


Ryan lalu membuka jendela dihadapannya untuk mencari tau ada apa di luar sana.


Dan ia pun langsung dikejutkan oleh sesuatu yang tergantung dan terikat di pohon mangga miliknya.


Sosok perempuan, yaitu Lita teman sekelasnya.


Ryan yang tadinya terkejut, merubah ekspresinya menjadi tersenyum.


Ia sangat tau siapa yang melakukan itu pada Lita.


Hobi gelapnya lah yang membuat Lita menjadi seperti itu.


Tadi malam, Lita melarikan diri dari penjagaan Polisi di rumah sakit dan dengan putus asa mendatangi Ryan untuk minta bantuan. Ia butuh tempat tinggal dan tempat untuk sembunyi. Ia tak tau harus pergi kemana lagi dengan kondisi kesehatan yang begitu lemah.


Sebelumnya Ryan mengijinkan Lita untuk tinggal. Ia tak keberatan karena ia tinggal sendirian. Ia pun merasa senang jika ada gadis cantik yang menginap di rumahnya.


Tetapi malam itu tak sesuai harapan Ryan.


Ia mengira malamnya bersama Lita akan menyenangkan, namun Lita hanya membicarakan pria lain saat bersamanya. Hal itu membuat Ryan kecewa.


Ryan menolak menderita sendiri. Ia pun memutuskan menjerat leher Lita dengan kabel TV. Lalu menyamarkannya menjadi bunuh diri. Seolah dia mencoba untuk menutup kesalahannya dengan satu jari.


Lalu bagaimana dengan kaca jendelanya yang menjadi putih?


Ryan yang mengecatnya.


Agar pemandangan mengerikan Lita yang menjulurkan lidah dengan mata melotot di depan jendela kamarnya tak menggentayangi dalam mimpi. Karena sisi lembut Ryan, tak punya nyali.


"Laporkan atau kubur diam-diam," ujar sisi buruknya sembari memangku dagu dengan satu tangan. Ia sedang berpikir pilihan mana yang lebih baik agar mereka berdua aman, ia dan sosok Alter Egonya.


***


Dante membuka mata. Ia terbangun karena mendengar dering opening Naruto pada jam alarm di sebelahnya.


Ia kemudian mematikannya dan menyadari temannya William sedang tidur di sampingnya, masih terlelap sembari memeluk guling bergambar wanita 2D yang ia anggap sebagai istri.


Sepintas Dante mencium bau darah.


Darah itu berasal dari luka pada tangannya.


Dante lalu memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan mencoba mengingat kembali apa yang semalam telah terjadi.


Ia lalu memeriksa ponsel. Ada sebuah pesan singkat dari adik laki-lakinya, Daniel.


Daniel mengatakan bahwa Erika sedang berada di rumah sakit untuk menjalani operasi darurat.


Namun Dante bersikap biasa saja. Karena ia yakin bahwa Erika hanya sedang berakting untuk mencari perhatian.


Dante kemudian membaca pesan dari ibunya. Si ibu menanyakan dimana kebab yang Dante janjikan dan menyuruh putranya itu untuk cepat pulang.


"Oh benar, kebab," ucap Dante sembari menepuk dahi, karena telah melupakan oleh-oleh untuk ibunya.


Ada satu pesan lain dari nomor asing, tapi Dante tak sempat membukanya karena harus buru-buru pergi untuk membelikan ibunya kebab, ia bahkan menolak tawaran ibu William untuk sarapan dulu sebelum berpamitan pergi.


***


Sesampainya di rumah, Dante melihat Daniel sedang duduk memanjangkan kaki di ruang tengah sembari memangku adik bayinya yang asik menyantap agar-agar, ditemani tayangan kartun pagi.


"Loh bang, kok gak langsung ke rumah sakit?" tanya Daniel sembari memegangi M1lkuat milik Agie.


"Kamu saja. Dan jangan lupa beri ini pada mom," ujar Dante menyerahkan kebab yang baru ia beli.


"Banyak amat belinya bang," ucap Daniel sambil memeriksa.


"Hah? Beli kebab apa beli buah ini sampe dua kilo gini?" tanya Daniel tak habis pikir.


Dante tak menyahut dan justru mengambil Agie dari pangkuan Daniel. Ia berniat membawa Agie ke kamarnya.


"Bang, gak mau tau keadaan kak Erika?" tanya Daniel menghentikan langkah Dante.


"No," sahut Dante sembari mengelap sisa-sisa susu yang menempel di mulut adik kecilnya.


"Abang udah gak peduli sama kak Erika?"


"Aku lebih peduli pada kasur Agie yang belum dijemur, karena semalam Agie mengompol dan saat itu semua orang lupa memberinya popok," ujar Dante, memperlihatkan wajah kesal.


"Kok abang tau?" tanya Daniel. Sempat terpikir dibenaknya bahwa kakaknya itu kemungkinan seorang paranormal. Karena adik kecilnya juga memiliki kemampuan yang mirip seperti itu.


"Aku tahu karena CCTV di rumah ini terhubung dengan ponselku," jelas Dante.


Daniel terlihat shock.


"Jadi..."


"Ya, aku pun tau kamu memakai sarung tanganku tanpa ijin untuk mengangkat panci panas. Kamu juga memakai shampo, handuk, kaus kaki bahkan minyak rambutku saat aku wisata. Dan aku juga tau kalau kamu menggunakan identitasku untuk berbelanja online tadi malam," tutur Dante begitu rinci.


Daniel spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Jadi abang tau semua... terus apa yang abang gak tau..." gumamnya, namun terdengar oleh Dante.


"Yang aku tidak tau kenapa aku bisa hidup bersamamu dengan kelakuanmu yang seperti itu tanpa membunuhmu," ujar Dante dengan pesan tersirat bernada ancaman yang mengatakan, "jika lakukan itu lagi, kamu mati."


Daniel menelan ludah. Wajahnya menunjukkan ketakutan. Daripada takut dibunuh, ia lebih takut akan dikirim ke sebuah tempat yang jauh oleh kakaknya itu dan tak akan ada yang bisa menolongnya untuk kembali ke rumah.


Kakak sulungnya memang kejam, tapi raut mukanya nampak lebih kejam sekarang.


Daniel yakin kakak tertuanya itu memiliki masalah dengan saraf wajahnya. Bahkan ayah mereka pun takut pada ekspresi wajah itu dan selalu berhasil terintimidasi dengan tatapan jahatnya, hingga sang ayah selalu menyetujui apa yang kakaknya itu inginkan.


"Akak... aaaaaam..." ucap Agie sembari menyuapi agar-agar pada Dante, dengan ekspresi manis yang membuat candu.


Dante membuka mulutnya dan menelan agar-agar berwarna oranye itu, lalu memberi seulas senyum pada adik bayi menggemaskannya.


Dante lalu beralih menatap Daniel dengan ekspresi yang berbeda dari yang ia berikan pada Agie, tanpa adanya senyum sama sekali.


"Kali ini kumaafkan karena kamu memberi Agie jajanan dengan uang sakumu sendiri."


Daniel pun langsung bernafas lega seraya mengelus dada.


"Alhamdulillah," ujarnya.


"Akak... mam aci maw mam aci," ujar Agie meminta nasi karena masih merasa lapar.


"Bubur saja ya," tawar Dante.


"Hu-um, bulbul mam bulbul," celoteh Agie mengangguk senang.


"Oke."


"Aku juga mau bang. Aku belum sarapan," ucap Daniel, menepuk perut datarnya.


"Kamu belum pergi?" usir Dante, sangat pilih kasih.


Daniel pun memberi tatapan seperti anak kucing agar dikasihani.


"Kubuatkan bubur, tapi berhentilah menggunakan tatapan aneh itu," ujar Dante muak.


"Yes sir!" seru Daniel sembari melakukan gestur hormat empat jari. Ia pun kembali mengasuh Agie, selagi Dante pergi ke dapur untuk memasakkan bubur.


Bersambung...