
Tak lama berselang Zoey keluar dari rumahnya dengan wajah gugup dan takut.
Setelahnya Sintia pun keluar dari pintu depan dan menunggu Zoey di depan pagar rumahnya.
Rekaman lalu dipercepat. Kemudian dioperasikan normal kembali saat Zoey muncul. Zoey datang dengan berlari dan tak sengaja menabrak Sintia yang tengah menunggunya.
Terlihat mereka berbincang setelahnya. Tak ada yang tau apa yang mereka bicarakan karena kamera CCTV tak menangkap suara.
Zoey lalu berjalan pergi beriringan dengan Sintia.
Collins mem-pause, kemudian men-zoom sesuatu yang Sintia sembunyikan dari balik punggungnya. Sebuah pisau.
"Dia mengusik gadisku dan ingin membunuhnya," ucap Dante dengan suara pelan.
"Haruskah gue diam?" lanjutnya, menegaskan intonasi.
Collins lalu beralih pada rekaman lain. Rekaman dimana Sintia menarik pelatuk senjata terhadap dirinya sendiri, di ruangan berdinding kuning monokromatik.
Suara senjata itu terdengar dengan jelas sesaat sebelum Sintia menumbangkan diri.
"Apa belum cukup?" tanya Dante.
"Gue sebenarnya ingin menutupi aib kakak lo karena dia sudah tiada. Tapi lo gak memberi gue pilihan," ucapnya seraya mengeluarkan puluhan CD dari dalam ranselnya dengan kasar.
"Apa itu?" tanya Hans.
"Ingin lihat semua?" tawar Dante. Hans menggeleng.
"Ini akan menarik. Diantaranya ada ritual aneh yang Sintia lakukan. Seperti memakan ayam hidup dan meminum darahnya," ungkap Dante.
Hans menggeleng lagi, ia menolak untuk kembali jijik.
Sedangkan Satya masih diam. Ia menunduk gemetar, seperti sedang menangis.
"Mh... gue heran. Darimana lo dapat itu semua?" tanya Hans pada Dante.
"Snap memberitahu gue bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di bawah lantai kos-kosan Sintia.
Lalu, gue menyuruh Snap mengambilnya dan membawanya ke sini," terang Dante.
Ia kemudian melanjutkan. "Sejujurnya, gue belum menontonnya. Snap yang menjelaskan isi semua CD itu pada gue."
"Termasuk behind the scene-nya? Lo baru melihatnya sekarang?" tanya Hans dan dijawab anggukan oleh Dante.
"Lalu darimana lo tau pelakunya Sintia? Dan darimana lo tau Sintia akan mencelakai Zoey?" tanya Hans lagi.
Gue gak tau dia pelaku dari pembuatan video-video a$usil4 itu," ungkap Dante.
"What?"
"Saat itu gue kesana untuk menolong Zoey. CCTV di depan rumahnya, gue buat terhubung di ponsel gue. Jadi, saat dia dalam bahaya, tanpa pikir panjang gue ke sana," jelas Dante.
"Wow." Hans terpukau dengan sikap posesif Dante.
"Well... sebenarnya gue tau pelaku yang membuat Lita seperti itu adalah Sintia, dari pengakuan Bayu, adik kelas yang lo bully, ketika gue bertemu dia tadi pagi," ungkap Dante.
"Jadi sejak lo menangkap Sintia, lo tidak tau dia yang mencelakai Mia dan perempuan-perempuan yang dip3rk*sa di video tadi?" tanya Hans, menegaskan.
Dante mengangguk.
"Karena, ketika gue minta bantuan teman gue untuk melacak pria-pria yang ada di video itu, mereka semua ternyata sudah mati di rumah sakit," ungkapnya.
"Ah, i see," ucap Hans.
Dante lalu beralih kembali pada Satya.
"Ada hal yang ingin gue tanyakan pada lo sejak tadi."
Satya mendongak menatap lawan bicaranya. "Apa?" tanyanya, lemas.
"Lo tau orang ini yang selalu merudung kakak lo, kan?" tanya Dante, menunjuk pada Hans yang duduk di sampingnya.
Satya mengangguk.
"Dia tau?" Hans berekspresi terkejut.
"Jadi... kenapa lo tidak balas dendam ke gue juga?" tanyanya pada Satya, dengan ekspresi heran.
"Itu pertanyaan gue, beraninya lo ambil!" ucap Dante marah.
"Aih, tempramen lo," decak Hans.
Dengan suara serak Satya pun menyahut. "Sebelum gue jawab, lo harus buru-buru. Karena adik lo..."
Drrrttt...
Ponsel Dante bergetar. Ia mendapatkan sebuah notifikasi dari grup chat. Ia pun segera membukanya.
Bersambung...