Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Luar Kelas



"Baby Shark Ddu... Ddu... Ddu... Ddu...


Baby Shark Ddu... Ddu... Ddu... Ddu...


Baby Shark..."


Bayi mungil dengan dot di mulutnya terlihat asik menatap video dari ponsel di dalam ransel kakaknya.


Sedangkan sang kakak terlihat begitu tak tenang. Ia tak ingin ketahuan karena telah secara ilegal membawa adik bayinya ke sekolah menggunakan ransel.


Beruntungnya kantin masih sepi, hanya ada juru masak dan asistennya yang sedang sibuk menyiapkan hidangan di dapur untuk disajikan saat jam istirahat.


Namun tanpa diduga, beberapa kakak kelas-nya pun menuju ke kantin untuk membolos.


Segera Dante mematikan video yang masih ditonton adiknya itu dan bergegas memberi adiknya kerupuk yang berada di atas meja sebagai pengganti, agar adiknya tidak tiba-tiba menangis.


"Wah, wah, wah, murid teladan berprestasi yang selalu memenangkan olimpiade sedang membolos juga di sini," ujar siswa kaya yang sok berkuasa bernama Hans dengan gentur tangan yang ia masukkan dalam saku, menghampiri Dante bersama teman-teman satu circle-nya.


Dante tak ingin meladeni dan berusaha pergi. Namun Rin, kakak kelas sexy yang selalu bersikap menggodanya tiba-tiba menghalangi langkahnya.


"Bisa menyingkir?" pinta Dante dengan sopan.


"Answer my question first. Baru lo diijinkan lewat," ujar Rin mengajukan syarat sembari memainkan dasi yang dikenakan Dante.


"Ok. Apa?" Dante pasrah meladeni.


"Gue ingin tau, bagaimana posisi gue di dalam hati lo?" tanya Rin percaya diri.


"Maaf, tak ada," jawab Dante jujur dan dengan santai melangkah melewati Rin yang sudah terpaku karena penolakan singkat darinya.


"Hahahaha... akan gue share ini di grup," ujar Hans mentertawai sembari merekam kejadian tersebut.


"Jugule!" seru Rin dengan bahasa Korea, seraya mencoba merebut ponsel Hans yang merekamnya tadi.


***


Dante masih belum kembali ke kelas. Ia justru berjalan-jalan di sekitar taman dan berusaha menghindari bertemu dengan orang lain.


Meski begitu, ia tetap bertemu juga dengan beberapa orang.


Diantaranya adalah Andy dan teman tongkrongannya yang sedang merokok berjama'ah di belakang sekolah dan juga Dante sempat melihat anak-anak yang salah satunya adalah Cassi mencoba membolos dengan memanjat dinding untuk pergi tawuran.


Ia pun bertemu dengan anak aneh berkacamata yang sedang bicara dengan pohon beringin. Dante tak mengenal anak itu, tapi dari seragamnya, sepertinya dia adalah adik kelasnya.


"Kenapa kamu tidak masuk kelas, Dante?" tanya siswi bermata biru dan rambut pirang keemasan yang digelung. Ia tiba-tiba muncul di belakang Dante dan membuat Dante terkejut.


"Hmm... kamu sendiri kenapa tidak berada di kelas?" Dante berbalik bertanya.


"Aku baru saja mengantar temanku yang sakit ke UKS. Bagaimana denganmu sendiri?" Zoey kembali bertanya.


"Hmm... aku tidak bisa menjelaskan. Kamu lihat sendiri," ujar Dante menunjukkan isi ranselnya yang ia bawa sejak tadi.


Zoey sontak memasang ekspresi terkejut. "Oh, astaga."


Setelah Zoey melihatnya, Dante bergegas meresleting ranselnya kembali dan menyisakan sedikit untuk lubang udara, karena melihat segelintir anak-anak yang memakai seragam olahraga akan berlalu-lalang melewati mereka.


"Mari bicara di UKS," ajak Zoey sembari menggandeng Dante pergi.


***


Di dalam UKS yang sepi dengan hanya satu orang yang terbaring di salah satu ranjang, Dante dan Zoey duduk berdampingan di atas ranjang yang kosong.


Ia merasa kasihan karena Agie harus bertahan di tempat sempit dan panas itu sejak tadi.


Zoey lalu menaruh Agie dalam pangkuannya dan membantu membersihkan keringat yang membasahi keningnya.


"Kenapa wajah Agie lengket sekali?" tanya Zoey.


"Hmm... aku tadi memberinya kerupuk agar ia tidak rewel," jelas Dante.


"Oh, i see," ujar Zoey mengerti, ia lalu mengambil tisu basah di sakunya dan menyeka wajah Agie dengan itu.


"Thuthu..." celoteh Agie dan dengan polosnya menyentuh dada Zoey menggunakan tangan mungilnya.


Wajah Zoey terlihat memerah karena hal itu. Bergegas Dante pun mengambil Agie dari pangkuan Zoey.


"Maaf," ucap Dante canggung.


"Tak apa," sahut Zoey sembari menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Thuthu! Thu! Thu!" pekik Agie.


"Iya, iya sebentar," ujar Dante dan mencari botol susu Agie di dalam ransel dan langsung memberikannya.


"Aku hampir lupa bertanya. Kenapa kamu membawa Agie ke sekolah, Dante?" tanya Zoey tanpa berbasa-basi.


"Aku bukan sengaja. Pengasuhnya tiba-tiba sakit dan orang tuaku masih berada di luar negeri," ungkap Dante.


"Kenapa tidak dititipkan pada orang lain?"


"Itulah masalahnya. Agie bisa saja dititipkan pada tetangga. Tapi Daniel justru membawanya padaku. Ia bilang malu meminta tolong pada tetangga, dan dia juga tidak bisa membawanya ke sekolahnya sendiri, jadi dia menyerahkannya padaku. Harusnya aku tidak berangkat lebih awal tadi, jadi aku bisa sempat menitipkan Agie di Day Care," jelas Dante.


"Umh, begitu." Zoey pun tak mempertanyakan lagi.


"Pee... pee... pee..." celoteh Agie lagi sembari merengut, mengisyaratkan ia ingin buang air kecil.


"Kamu pakai popok Agie," ucap Dante.


Agie pun menjadi diam dan seketika kostum piyama yang dikenakannya basah.


"Oh Ya Tuhan. Kamu tak apa Dante?" tanya Zoey yang menyaksikan Dante terkena ompolan.


"Bukan masalah, aku hanya perlu membersihkannya dengan air nanti," ucap Dante dengan begitu tenang.


"Aku tak menyangka popoknya akan bocor. Sepertinya Agie sudah terlalu banyak minum susu," lanjutnya seraya mengangkat adiknya itu dari pangkuan.


Meski celananya menjadi basah atas ulah adik kecilnya itu, Dante tak emosi sama sekali.


Yah, mana mungkin ia bisa marah ketika melihat adik kecilnya menunjukkan senyum dengan menarik pipi chubby-nya yang membuat ia terlihat begitu menggemaskan.


"Kamu membawa popok ganti?" ujar Georgie selaku guru magang yang hari ini mendapat jadwal bertugas di UKS, ia sejak tadi memperhatikan dari luar jendela yang terbuka.


"George---"


"Aku tak akan mengadu. Serahkan dia padaku, kalian kembali lah ke kelas," ujar Georgie, ia terlihat dapat diandalkan.


Karena mengetahui George adalah sepupu Zoey, tentu Dante pun setuju dan menyerahkan adiknya sementara pada guru magang itu.


Bersambung...