
Cinta adalah racun yang manis.
***
Seperti orang-orangan sawah. Seperti boneka yang menyedihkan. Juni selalu menunggu.
Saat angin berhembus, kerinduannya pun ikut berhembus.
Jika hujan turun, air matanya pun ikut turun.
Menetes berderai-derai seperti darah.
Dalam kesunyian yang panjang, bibirnya tiba-tiba berkata, "kakak sadar kalo orang yang kamu suka bukan kakak. Kakak emang gak pantes walau cuma sebentar kamu liat. Tapi Gi... apa bisa kamu tunjukkin kakak senyum kamu sekali lagi walau senyum itu bukan perasaan cinta?"
Ketika ia tak mendapatkan jawaban, ia pun kembali diam. Mencoba menangis dengan sangat pelan.
Namun ia merasa tak sanggup menahannya lagi, hingga tangisannya terdengar seperti lenguhan yang sangat menyayat seperti tak ada harapan.
"Gi?" tanya William, melirik Valen.
"Itu nama yang Nara gunakan saat bermain game online.
Apa lo pernah memeriksa daftar orang yang lo blokir?
Jika pernah, lo mungkin melihat akun dengan username FG14. Akun itu milik Nara," terang Valen.
"Tapi kenapa dipanggil Gi? Ejaannya kok ngawur?" protes William.
"Apa nama yang lo gunakan dalam game, Will?" tanya Valen tiba-tiba.
"Mhm... I want angry react," jawab William.
"Lalu teman dalam guild lo panggil lo apa di sana?" Valen kembali bertanya.
"Iwan," jawab William.
"Jadi?" tanya Valen lagi.
"Oh iya sih. Gagas aja di game dipanggil Gita karena pake nama akun G+A. Malah bang Hansel dipanggil Handoko karena pake nama akun Han doang," ucap William.
Valen tiba-tiba berjalan mendekat dan mensejajarkan tubuhnya dengan Juni, lalu melemparkan pandangan ke arah batu nisan yang terukir dengan huruf kanji yang bertulis Nara Okita.
"Menurut lo kenapa adik bungsu Dante mendapat namanya?
Kenapa ada orang tua yang memberi nama bayinya Agie?"
"Karena arti namanya bagus?" sahut William.
"Dante pernah bilang nama Agi di ambil dari bahasa Itali," sambungnya.
"Benarkan nama itu ada artinya?" tanya Valen, menoleh menatap William.
"Mhm... kata Dante sih arti Agi itu teman para kuda atau baik digunakan sebagai nama. Dan setau oe di Korea, Aegi juga bisa berarti bayi," jawab William.
"Apa lo pernah berpikir itu hanya cocoklogi dari bahasa asing yang ada?" tanya Valen lagi.
William tak mampu menjawab.
Valen menolehkan kembali pandangannya ke depan, menatap nisan.
"Padahal nama Nara punya makna yang sangat bagus.
Dalam bahasa Korea Nara berarti negara.
Dalam bahasa Jepang Nara berarti bunga dari surga.
Sedangkan dalam bahasa Yunani, Nara berarti anak perempuan yang selalu bahagia," tutur Valen.
"Meski nama Agie terdengar lucu saat memanggil bayi lucu itu, tapi gue menyayangkan dia gak mendapatkan nama lamanya," lanjutnya.
"Anyway, Jun mau sampe kapan berdiri doang depan makam?" ucap William, mengalihkan.
"Dia gak akan beranjak satu langkah pun darisana sampai..." Valen ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sampai apa?" tanya William.
Valen tak menjawab.
"Sampai apa Val?" tanya William mengulangi.
"Sampai bertemu Nara kembali, Will," jawab Valen. Ia terdengar seperti berat mengatakannya.
William menghela napas, kemudian kembali bertanya. "Emang udah berapa lama Jun di situ?"
"6 bulan."
"Hah? Selama itu dia di sini terus siapa yang kasih dia makan? Pas maghrib emaknya gak nyuruh pulang?" tanya William heran.
"Lo mau mengunjungi makam Jun?" tawar Valen tanpa memberi sedikit pun ekspresi.
William terdiam, larut dalam pikiran.
"Iya, dia udah meninggal di masa ini, Will. Mendahului lo," terang Valen, membaca pikiran.
"Karena apa?" tanya William tak menyangka.
"Dia menawarkan diri di bunuh oleh Dante.
B*doh memang," ungkap Valen.
"Kalo Jun udah mati, kenapa dia gak bisa ketemu Nara?" tanya William mengernyit.
"Cinta Jun gak cukup buat meraih Nara. Sebanyak air mata yang udah mengalir dari matanya, sejauh itu jarak yang ada," tutur Valen.
"Kenapa?" tanya William semakin heran.
"Karena hanya lo, cinta lo yang mendapat balasan, Will," tegas Valen.
"Timur atau barat, dimanapun. Jika bersama lo, Nara ada dimanapun," lanjutnya.
"Sedangkan lo mengurung diri dalam gereja. Jadi, bagaimana cara orang lain bisa bertemu Nara?" sambungnya.
William nampak masih bingung.
"Kalo dia terus ngikutin oe, kenapa oe gak pernah ngerasain kehadiran dia?"
"Kalo lo baca diary yang gue kasih itu, lo bakalan inget semua," terang Valen.
William menatap buku yang dipegangnya dengan perasaan ragu. "Kalo semua ini nyata dan omongan lo gak bohong... oe bisa pahamin alasan Gagas dan tujuan dia sebenarnya."
Ia lalu menghela napas.
"Cuma karena 1 cewek kita bertiga kaya gini."
"Hah?"
"Lo takut kalo lo baca itu dan ingat kembali, lo bakalan terpuruk lagi?" duga Valen.
"Gak.
Oe niat baca ini nanti.
Bareng Dante atau Jun.
Terus kita diskusiin bareng-bareng," ujar William, nampak skeptis.
"Lo mungkin anggap yang gue tunjukkan pada lo di luar nalar," ucap Valen sembari memasukkan permen karet baru ke dalam mulutnya.
"Iya, karena emang kaya gitu. Dante pun pasti berpikiran kalo semua ini gak masuk akal kalo lo ajak juga ke sini," tutur William begitu yakin.
Hal itu membuat Valen tersulut dan menghardiknya.
"Apa masuk akal seorang Dante menangisi Mia, perempuan yang bahkan gak dia cintai dan justru dia anggap selevel dengan hewan peliharaan?" tanyanya, membuat William melangkah mundur.
"Apa masuk akal seorang Dante yang bahkan gak suka dengan anak kecil tapi menyayangi adik bayinya se-berlebihan itu?" lanjutnya dan kembali membuat William mundur.
"Mungkin---"
"Apa masuk akal seorang Dante yang gak pernah menghargai nyawa makhluk hidup tapi menganggap nyawa adik bayinya lebih berharga dari nyawanya sendiri?" sela Valen, tak memberi William kesempatan menjawab.
"Menurut lo kenapa Will? Kenapa Dante bisa bertindak gak masuk akal kaya gitu?" Valen terus mencecar hingga membuat William tersandung dan jatuh terduduk.
Valen kemudian berjongkok di hadapan William, menarik dasi pemuda kalem itu dan menautkan pandangan.
"Lo berteman dengan Dante sejak umur 10 tahun. Lo tau dia lebih baik dari gue, Will... HARUSNYA!
Dan harusnya lo tau jawabannya!
Tapi, lo gak tau. Karena kenyataannya lo gak mengenal sahabat lo sama sekali."
"Lo gak bisa asal simpulin kaya gitu. Karena---"
"Satu pertanyaan lagi, pernahkah lo liat Dante tersenyum untuk Zoey sebelum Agie lahir? Apa pernah?" tanya Valen.
William menggeleng.
"Apa lo bisa akui kalo gue bilang wajah iblis Dante belajar tersenyum berkat Agie, reinkarnasi Nara?" tantang Valen.
"Terserah apa kata lo. Tapi tetep aja oe bakal---"
"Kalo lo masih ingin diskusiin tentang ini ke Dante, gue rasa Dante gak akan peduli. Tapi kalo lo bawa itu ke Jun, tanggapan yang bakal dia kasih adalah diam," sela Valen dan bangkit berdiri.
William mengernyit.
"Kenapa?"
"Ketika Gagas memutar mundur waktu, ada 1 hal yang Jun minta," terang Valen.
"Apa?"
"Ingatannya tetap seperti itu. Dia bilang, walau rasanya seperti akan mati, tapi tolong biarin gue hidup dengan itu," tutur Valen.
"Nara atau Gi yang dia kenal, masih Jun ingat Will. Dan masih hidup di hatinya," ungkapnya.
"Omongan lo makin gak masuk akal," ucap William, belum beranjak dari tempatnya jatuh.
"Lo masih aja..." Valen nampak geram dengan kalimat yang terus diucapkan William yang mengatakan, "gak masuk akal."
"Will, semenjak lo berteman dengan Jun, apa lo pernah lihat dia menangis?
Orang se-ceria Jun menangis seperti itu?" tanya Valen, menunjuk Juni yang saat ini air matanya sudah turun deras di wajahnya.
"Pernah. Satu kali," jawab William. Ia ingat Juni pernah mendatanginya dengan wajah seperti itu. Wajah basah dan ekspresi yang begitu menyedihkan.
"Karena apa?" tanya Valen.
William menggeleng. Ia tak ingat alasannya.
"Orang yang gak pernah tersenyum bisa dia buat tersenyum. Orang yang gak pernah menangis bisa dia buat menangis. Dan orang yang tenang bisa dia buat gak tenang. Menurut lo seberharga apa dia, gadis yang terbaring di dalam sana?" tanya Valen, menunjuk makam Nara.
"Siapa yang dia buat gak tenang?" tanya William.
"Lo," jawab Valen singkat.
William memasang ekspresi meep.
"Kapan oe gak tenang emangnya?"
Valen tak menjawab dengan mulutnya, melainkan dengan matanya yang melirik pada buku diary yang masih dipegang William.
William pun mulai tergerak membaca diary yang sedang digenggamnya.
Ia lalu membuka halaman pertama dan menemukan sebuah foto.
Foto yang terpotret dirinya, Juni, Dante dan seorang gadis kecil dengan anak ayam berwarna pink di telapak tangannya.
"Di masa ini, apa lo ada?" tanya William sembari membalik halaman ke-dua.
Valen mengangguk. "Tapi di sini gue pun udah meninggal.
William terkejut. "Karena apa?"
"Penyakit," jawab Valen.
"Gue buat diri gue meninggal dalam dekapan orang yang gue cintai," tuturnya seraya tersenyum.
"Dante?" duga William.
"Sembarangan!" seru Valen. Ia tak terima jika Dante dianggap sebagai orang yang ia cintai.
"Terus siapa?" William mengernyit.
"Andy," jawab Valen.
"Hah?"
"Meski hanya settingan, tapi gue senang," ungkap Valen bersemu.
"Settingan?" William sedikit kurang memahami.
"Gue hanya akan ceritakan ini pada lo," ucap Valen seraya mendudukkan diri di samping William.
"Mhm... ok..." sahut William, bersedia mendengarkan.
Bersambung...